32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Rem Blong, BRT Seruduk Warung

SEMARANG – Kesiapan operasional Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang Koridor V dan VI yang baru seminggu diluncurkan ini benar-benar menjadi sorotan publik. Terutama di Koridor VI UNNES-Undip yang melintasi medan jalur maut. Pasalnya, selama seminggu telah terjadi dua kecelakaan BRT.

Jumat (7/4) kemarin, kecelakaan dialami  armada BRT Koridor VI bernopol H 1265 AW yang dikemudikan Faizin, warga Purwosari, Sayung, Demak. Bus warna merah itu  menabrak  warung makan di Jalan Kolonel Hardijanto, Sampangan sekitar pukul 07.50. Meski tidak ada korban jiwa, seorang petugas tiket sempat dilarikan ke klinik akibat luka di bagian perut. Sopir Faizin hanya luka ringan. Sedangkan dua penumpang mengalami shock dan dompet miliknya hilang.

Adapun warung makan yang ditabrak BRT nahas itu adalah milik Kosim, warga Jalan Sikere, Kelurahan Sekaran, Gunungpati. Warung makan mengalami rusak berat. Sedangkan bus, mengalami pecah kaca bagian depan, bemper rusak berat, serta tape audio hilang.
Kecelakan BRT ini menambah daftar panjang buruknya pengelolaan BRT koridor baru tersebut. Sebab, ini kecelakaan kali kedua setelah sebelumnya armada BRT bernopol H 1487 AW menabrak pikap di Jalan Pawiyatan Luhur, Bendan Duwur pada Minggu (2/4) lalu.  ”Tidak ada korban jiwa,” kata Kapolsek Gunungpati, Kompol Bagio Prayitno, kemarin.
Menurut Bagio, kecelakaan BRT Koridor VI itu bermula saat bus melaju dari arah Universitas Negeri Semarang (UNNES), hendak menuju ke arah jembatan besi Dewi Sartika. Begitu melintas di kawasan Jalan Sikere, Sekaran, tiba-tiba bus mengalami oleng. Sopir Faizin tidak bisa mengendalikan laju armadanya.

”Berdasarkan pemeriksaan saksi, rem bus saat diinjak oleh sopir tidak berfungsi. Diduga rem blong. Kami masih menyelidiki penyebab kecelakaan secara pasti,” paparnya.
Karena panik, sopir BRT kemudian membanting kemudi ke arah kiri sebelum akhirnya menghantam teras warung makan milik Kosim. Atas kejadian itu, petugas dari Polsek Gunungpati dan Unit Laka Lantas Polrestabes Semarang langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan sejumlah saksi.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Tri Wibowo, berjanji akan melakukan evaluasi terkait masalah rute BRT Koridor VI Undip Tembalang – UNNES Sekaran ini. ”Kami akan lakukan evaluasi menyeluruh selama dua bulan ini. Masih kami pikirkan apakah memungkinkan adanya pengalihan rute, makanya perlu evaluasi terlebih dahulu,” katanya.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) BRT Trans Semarang, Dinas Perhubungan Kota Semarang, Agung Nurul Falaq mengatakan, penyebab kecelakaan tersebut karena sopir tak bisa mengendalikan kendaraan akibat rem tak berfungsi maksimal. ”Informasinya baru itu,” ujarnya.

Sedangkan mengenai kerusakan warung akan dikembalikan seperti kondisi semula. Pihak operator yang nanti akan bertanggung jawab memperbaiki. Pihaknya mengaku akan melakukan briefing seluruh driver dengan mengundang Satlantas Polrestabes Semarang mengenai arahan tentang berlalu lintas yang aman dan tertib. ”Selain itu juga akan cek armada secara total, meski kemarin sudah dicek di diler Mitsubishi. Koridor VI ini memang jalurnya berbahaya,” katanya.

Direktur PT Minas Makmur Jaya, Tutuk Kurniawan, selaku operator BRT Koridor V dan Koridor VI, meminta maaf kepada masyarakat pengguna BRT. Pihaknya menegaskan tidak akan mundur untuk menangani masalah yang dihadapi BRT Koridor VI. ”Apa pun yang terjadi, saya tidak akan mundur dari Koridor VI. Nanti saya kumpulkan semua sopir dan saya undang dinas terkait untuk duduk satu meja, mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, pihaknya sejauh ini telah menyeleksi sopir BRT secara ketat. Termasuk memiliki SIM B II umum dan kemampuan mengemudi. Dia menjelaskan, khusus Koridor VI ini memang memiliki problematika sangat berat. ”Proses lelang diikuti oleh 24 perusahaan, 23 perusahaan mundur lantaran rute yang dilalui oleh Koridor VI ini ’horor’. Sehingga akhirnya perusahaan kami yang ditunjuk Pemkot Semarang untuk menjalankan Koridor VI,” katanya.

Pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Joko Setijowarno, mengatakan, operasional BRT Trans Semarang Koridor VI Undip-UNNES ini perku dihentikan sementara. ”Penghentian sementara itu dimaksudkan untuk dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Karena diyakini ada yang tidak beres di operator dan regulator dalam peluncuran koridor baru tersebut. Pasti ada yang tidak beres di operator dan regulator. Sebaiknya dihentikan sementara untuk dievaluasi,” ujarnya.
Menurutnya, rute jalur Koridor VI sebenarnya tidak termasuk jalur rawan untuk dilewati kendaraan BRT Trans Semarang. Akan tetapi perlu kesiapan operator dalam pelaksanaan operasional BRT Koridor VI secara profesional. Mulai dari kesiapan kemampuan sopir, armada, hingga fasilitas jalur. ”Dulu pernah ada layanan bus di jalur itu hingga UNNES dan jarang kecelakaan. Sejauh ini belum satu pun koridor yang membahagiakan pengguna,” katanya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengatakan pihaknya akan memanggil pengelola BRT untuk melakukan koordinasi dan evaluasi pelaksanaan BRT 6 koridor selama ini. ”Terutama mengenai aspek sarana prasarana, aspek SDM pelaksana, dan efektivitas pengelolaan dan operator,” ujarnya.

Dia menilai, pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebelum kendaraan beroperasional kurang baik. ”Sopir juga tidak paham kondisi jalan. Karena itu, harus ada evaluasi teknis dan SDM. Kalau SOP dijalankan, maka akan diketahui kendaraan layak jalan atau tidak. Karena itu, SOP operasionalisasi kendaraan yang akan jalan perlu lebih diperketat,” ucapnya. (amu/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here