32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Dua Napi Kendalikan Bisnis Sabu dari Penjara

SEMARANG Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) masih menjadi sarang peredaran narkoba. Kali ini, dua napi Lapas Ambarawa dan Lapas Nusakambangan Cilacap ditangkap oleh petugas Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Jateng. Keduanya diduga menjadi pengendali peredaran narkoba jenis sabu-sabu.

Tersangka pertama adalah Wahyudi, warga binaan Lapas Ambarawa. Ia diganjar hukuman 5 tahun penjara atas kasus narkoba. Sedangkan tersangka kedua adalah Ahmad Fadillah alias Ading, warga binaan Lapas Nusakambangan.

Ading sudah tiga kali berurusan dengan hukum atas kasus yang sama, yakni narkoba. Kali terakhir, Ading diciduk petugas BNNP Jateng pada 2015 saat masih menjadi binaan Lapas Nusakambangan. Ia terbukti mengendalikan peredaran sabu di Surakarta dengan barang bukti 50 gram.

Pada kasus narkoba yang menjeratnya, Ading diganjar hukuman 7 tahun penjara untuk yang pertama, 4 tahun yang kedua, dan 10 tahun untuk yang ketiga atau total 21 tahun. Ironisnya, hukuman tersebut tak membuat Ading jera. Ia justru tertangkap lagi lantaran masih mengedarkan narkoba dari balik jeruji Nusakambangan.

Selain dua napi tersebut, petugas juga menangkap pengedar bernama Nanang Susilo (NS), warga Desa Torosemi, dan Aan Dwi Rahmanto (ADR), warga Desa Jati sebagai kurir. Keduanya warga asal Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.

Barang bukti yang diamankan berupa narkoba jenis sabu seberat 500 gram atau 1/2 kg. Barang haram tersebut milik kedua napi tersebut yang dipesan dari seseorang di Jakarta. Nanang dan Aan ditangkap petugas BNNP Jateng pada Minggu (2/4) sekitar pukul 03.30 di Stasiun Jebres Solo.

Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo, mengungkapkan, kasus ini terungkap bermula dari informasi adanya pengiriman paket sabu melalui jalur darat dari Jakarta ke Solo, Sabtu (1/4) lalu. Setelah tim melakukan penyelidikan akhirnya membuahkan hasil adanya informasi seorang kurir narkoba membawa narkotika menggunakan KA Majapahit yang tiba di Stasiun Jebres Solo, Minggu (2/4) sekitar pukul 03.30.

”Tim mencurigai adanya seorang pria yang diduga sebagai kurir. Di situ (Stasiun Balapan) kurir ini menghampiri seorang pria yang diduga hendak menjemput. Saat itulah kita sergap dan mendapati barang bukti sabu di dalam tas seberat 500 gram,” jelasnya saat gelar perkara di Kantor BNNP Jateng Kamis (6/4).

Saat dilakukan pemeriksaan, keduanya diketahui bernama Nanang Susilo dan Aan Dwi Rahmanto Nanang mengaku mendapat perintah dari Wahyudi, napi Lapas Ambarawa untuk datang ke Jakarta mengambil sabu dari seseorang. Setelah petugas berkoordinasi dengan Kantor Kemenkum HAM dan melakukan pemeriksaan kepada Wahyudi, diketahui peredaran sabu tersebut bekerja sama dengan Ahmad Fadillah alias Ading.

”Ading warga binaan Lapas Nusakambangan. Saat dilakukan penggeledahan ditemukan barang bukti alat komunikasi yang digunakan oleh kedua tersangka,” jelasnya.

Hasil pengembangan selanjutnya, kedua napi ini juga memiliki jaringan dengan bandar narkoba bernama Sutrisno alias Pak Tris alias Babe. Bandar ini juga tak lain napi penghuni Lapas Nusakambangan yang sebelumnya telah ditangkap pada 31 Januari 2017 lalu oleh BNNP Jateng. Barang bukti dari pengungkapan kasus Babe, petugas mendapati barang bukti sabu seberat 1 kg.

”Mereka ini saling kenal. Sabu tersebut dipasok oleh warga Nigeria. Harga di pasaran Rp 1,2 juta per gram,” katanya.

Para tersangka kini telah ditahan dan masih dilakukan pemeriksan oleh pihak BNNP Jateng guna pengembangan. Mereka akan dijerat pasal 112, 114 dan 132 Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Kalapas Nusakambangan Untung Setiawan mengakui adanya peredaran narkoba yang dikendalikan oleh para napi. Biasanya para napi kucing-kucingan dengan petugas terkait penggunaan alat komunikasi di dalam lapas.

”Para pengedar narkoba ini selalu mencari celah untuk mengelabui petugas dalam memasukkan alat komunikasi. Pengalaman di lapangan, mereka juga menggunakan tenaga wanita untuk memasukkan handphone yang disimpan di dalam bra,” terangnya.

Selain itu, modus lain dalam memasukkan narkoba ke dalam lapas, pengedar menggunakan bola tenis yang diisi narkotika. Bola tersebut dilempar dari luar menuju dalam lapas oleh orang tak dikenal yang diduga jaringan narkoba.

”Bola tenis itu diiris, kemudian tengahnya diisi narkoba dan kemudian di lakban rapat, dilempar ke dalam (lapas). Kalau menemukan alat komunikasi pasti kita sita dan kita hancurkan,” tegasnya. (mha/aro/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here