ORASI ILMIAH: Menaker M. Hanif Dhakiri saat orasi ilmiah di sidang senat terbuka Dies Natalis ke-47 UIN Walisongo, Kamis (6/4). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ORASI ILMIAH: Menaker M. Hanif Dhakiri saat orasi ilmiah di sidang senat terbuka Dies Natalis ke-47 UIN Walisongo, Kamis (6/4). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pada era modern ini, dinamika pasar kerja berubah dinamis. Tidak hanya jenis pekerjaan umum seperti pegawai administrasi dan lain-lain. Ada banyak jenis pekerjaan yang hilang dari kebutuhan dan justru banyak pekerjaan baru yang muncul. Misalnya, jenis pekerjaan driver angkutan online, pembuat aplikasi dan lainnya. Karena itu, perguruan tinggi harus mengevaluasi, minimal menyesuaikan kurikulum untuk menghadapi dinamika tersebut.

”Saat ini, lulusan sarjana pendidikan agama Islam (PAI) di semua universitas mencapai 35 ribu orang per tahun. Padahal kebutuhan guru agama setiap tahun hanya 3.500 orang saja. Nah, mau dibawa ke mana sisanya kalau tidak diberi bekal materi pembelajaran di luar jurusan. Mahasiswa butuh bekal pendidikan yang berinovasi,” ujar Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, M. Hanif Dhakiri saat orasi ilmiah di sidang senat terbuka Dies Natalis ke-47 UIN Walisongo, Kamis (6/4).

Karena itu, lanjut Hanif, perguruan tinggi dituntut untuk memberikan inovasi terhadap lulusan agar memiliki kompetensi lain untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja yang berkembang, terutama di bidang teknologi.

Ia menambahkan, angka pengangguran lulusan perguruan tinggi dan SMK/SMA meningkat. Menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, jumlah angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2016 mencapai 125.44 juta orang. ”Dari jumlah tersebut, 60,24 persen berpendidikan SMP ke bawah, sedangkan yang berpendidikan minimal sarjana hanya 9,29 persen. Melihat jumlah ini, kita masih sangat kekurangan angkatan kerja berpendidikan sarjana,” kata Hanif yang juga lulusan IAIN Walisongo Salatiga 1994 ini.

Dikatakan, data Sakernas Agustus 2016 juga menunjukkan bahwa dari 11,09 juta orang sarjana (S1/S2/S3) Indonesia yang bekerja terdapat 37,76 persen yang bekerja sebagai tenaga administrasi, operator dan pekerja tenaga kasar. ”Ini di antaranya disebabkan kualitas output perguruan tinggi yang belum sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sehingga kesulitan mengisi jabatan yang sesuai dengan levelnya, seperti manajer, tenaga profesional atau teknisi. Saya contohkan seorang lulusan sarjana yang bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan. Namun tidak lama lulusan sarjana itu keluar karena tidak mendapatkan gaji yang sesuai gelarnya,” ujarnya dalam sidang senat terbuka yang digelar di Aula II Kampus 3 UIN Walisongo Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan.

Karena itu, perguruan tinggi dituntut memperbaiki kurikulum pendidikan dengan bekal keterampilan lain. Pendidikan vokasi, terang Hanif, merupakan solusi dinamika pasar kerja sesuai tantangan zaman. Pendidikan vokasi masih terus dibutuhkan di pasar kerja. Saat ini, papar dia, pekerja berpendidikan sarjana yang bekerja sesuai pendidikannya, misalnya sebagai manajer, tenaga profesional, teknisi dan asisten tenaga profesional mencapai 62,24 persen, dan yang bekerja lebih rendah dari tingkat pendidikannya 37,76 persen. ”Mirisnya, ada sekitar 570 ribu sarjana yang masih menganggur. Padahal, negara butuh banyak sarjana untuk membagun negeri ini,” bebernya.

Ia berharap, kontribusi dunia pendidikan tinggi, sehingga dari rahimnya akan lahir para pemimpin dan generasi bangsa yang produktif dan berdaya saing tinggi membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. ”Terlebih Perguruan Tinggi Islam. Dengan nilai-nilai Islam yang ditanamkan, Perguruan Tinggi Islam memiliki peran sentral dan strategis dalam menentukan arahnya menghasilkan lulusan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Rektor UIN Walisongo, Prof Dr H Muhibbin MAg, memaparkan visi misi mewujudkan UIN Walisongo menjadi Universitas Islam Riset Terdepan Berbasis pada Kesatuan Ilmu Pengetahuan untuk Kemanusiaan dan Peradaban pada 2038. UIN Walisongo masih melakukan penguatan lembaga serta fasilitas fisik gedung dan laboratorium. Selain itu, kata dia, pihaknya masih memperkuat jalinan kerja sama dengan perguruan tinggi asing. ”Ada delapan gedung yang Insya Allah segera dibangun. Ini untuk visi misi UIN yang menjadi kampus riset rujukan. Segala aspek sedang dikerjakan sebaik mungkin untuk visi misi UIN,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Pembantu Dekan II Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo, Dr Lift Anis Ma’shumah MAg juga menyampaikan orasi imiah berjudul ”Membangun Pendidikan Islam Harmoni.” (mg30/aro/ce1)