32 C
Semarang
Jumat, 18 Juni 2021

Jalur BRT Perlu Dikaji Ulang

SEMARANG – Bus Rapid Transit (BRT) Koridor V dan VI yang baru saja diluncurkan beberapa hari lalu mendapat sorotan. Beberapa titik jalur BRT baru tersebut merupakan medan berat yang mengakibatkan sejumlah bus tidak kuat menanjak.

Selama ini, jalur baru tersebut juga tidak dilengkapi dengan trotoar bagi pejalan kaki, marka atau rambu-rambu jalan. Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengatakan kecelakaan armada BRT koridor VI di Jalan Pawiyatan Luhur dekat Kampus Unika pada Minggu (2/4), menunjukkan belum adanya kesiapan. Belum dilakukan uji coba secara matang. Sehingga sopir BRT tidak menguasai medan saat melintas di turunan maupun tanjakan tajam. ”Medan di jalur ini memang berbeda. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding rute di koridor-koridor lainnya. Tidak cukup hanya bisa mengemudi tapi juga harus berpengalaman di medan seperti tersebut,” katanya.

Ini sangat penting, mengingat peran sopir menyangkut keselamatan nyawa penumpang. Sebelum diluncurkan, seharusnya ada uji coba baik kelaikan kendaraan, keahlian sopir dan penyediaan rambu-rambu lalu lintas atau marka. ”Kalau ketiga hal itu sudah dilakukan dan dilengkapi, kami yakin itu akan berjalan aman,” katanya.

Menurutnya, marka akan membantu meminimalisasi terjadinya kecelakaan. Misalnya di persimpangan, kendaraan lain harus memprioritaskan BRT. Sehingga rambu dan marka akan memberikan perhatian bagi pengguna kendaraan lain seperti motor dan kendaraan pribadi. ”Di Jalan Pawiyatan Luhur belum ada rambu-rambu. Mestinya sebelum BRT itu diluncurkan, sudah ada rambu-rambu atau marka jalan,” katanya.

Pakar Transportasi Unika Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno mengatakan, jalur BRT baru tersebut banyak rintangan dahan dan kabel yang belum dibenahi. ”Harusnya dilakukan uji coba dulu, agar sopir mengenal medan. Apalagi ini sopir baru,” ungkapnya.

Dikatakannya, semua pengguna bus umum pasti pejalan kaki. Mereka berjalan kaki ke dan dari halte. Menurutnya, antusiasme warga untuk naik BRT ini cukup bagus. Hanya saja pengelolaan BRT masih jauh dari yang diharapkan. Sebab, fungsi pengawasan masih sangat lemah. ”Sehingga BRT ini malah menjadi bisnis yang kurang sehat. Apalagi konsepnya tidak mengajak pemilik angkot dan sopir angkot lama. Keluhan penumpang tidak pernah digubris. Misalnya soal asap knalpot yang hitam pekat,” katanya. (amu/ric/ce1)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here