28 C
Semarang
Jumat, 11 Juni 2021

Puluhan Politekes Terancam Tutup

MAGELANG –  Sebanyak 72 Politeknik Kesehatan di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri, baru 20 Politekes yang diambil alih oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Sisanya terancam tutup dikarenakan permasalahan penerapan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof Muhammad Nasir mengatakan, hingga saat ini baru 6 Politekes yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan sekitar 14 Politekes yang dikelola oleh Kemenristekdikti. “Ini yang jadi bermasalah, karena sisanya belum selesai. Politekes di daerah-daerah terancam tutup. Kami akan duduk bersama dengan Kemendagri, jangan sampai mahasiswanya jadi korban” kata Nasir di sela meresmikan gedung Fakultas Teknik Universitas Tidar (Untidar), Sabtu (1/4) lalu..

Permasalahan Politekes, tambah Nasir, karena penerapan UU Nomor 23 Tahun 2014 maka setiap pemerintah daerah tahun 2014-2015 tidak bisa menganggarkannya. “Pada tahun 2016, ada temuan sehingga tutup dan tidak bisa berjalan. Ada problem di UU Nomor 23 Tahun 2014. Jadi nanti harus disinkronkan agar pendidikan bisa berjalan dengan baik. Saat ini kami sedang meminta dikaji ulang UU tersebut” tandas Nasir.

Sebenarnya, problem UU Nomor 23 Tahun 2014, pemerintah daerah hanya bertanggung jawab pada pendidikan dasar dan menengah, sedangkan pendidikan tinggi di pusat. Tetapi, lanjut Nasir, sebenarnya bukan kewenangan pusat itu tidak berarti penganggaran atau pengelolaannya di daerah, tidak boleh. “Tapi tentang koordinasi, tentang akademik ada di pusat. Kami ingin membicarakan dengan Mendagri agar daerah-daerah bisa berkembang dengan baik. Yang jadi masalah seperti saat ini, beberapa perguruan tinggi jadi bermasalah,” tutupnya.

Sementara itu, Nasir meminta Untidar menjadi perguruan tinggi yang berbudaya riset dan inovasi. Nasir menekankan untuk mencapai daya saing bangsa yang baik, ada 2 hal utama yang dikembangkan, yaitu sumber daya (skill worker) dan inovasi, inovasi akan berhasil bila risetnya baik.

“Saya minta para dosen Untidar risetnya baik. Apalagi Untidar menasbihkan diri ingin menjadi universitas riset. Kalau bisa Untidar menjadi universitas yang berbudaya, budaya riset dan inovasi,” beber Nasir.

Hadirnya gedung Fakultas Teknik, diharapkan mampu menunjang kegiatan akademik di Untidar. Nasir sangat mengapresiasi segala upaya dan usaha yang dilakukan oleh Untidar, terutama dalam pengembangan kampus. “Saya sedikit napak tilas, tahun 1992 saya pernah mengajar di sini. Dan saya apresiasi perkembangan sekarang. Dulu yang daftar di sini sangat sedikit, sekarang luar biasa, ini tandanya berhasil,” ungkap Nasir.

Rektor Untidar Prof Cahyo Yusuf mengatakan, Untidar saat ini sedang berlari kencang menata kampus baik secara akademik maupun sistem pendidikan. Lari kencang dibuktikan dalam kurun waktu singkat. Pada  1 April 2014–1 April 2017, Untidar telah berkembang pesat terutama pada bidang infrastruktur, media pembelajaran serta alat-alat laboratorium pendukung perkuliahan.

Dalam pembangunan infrastruktur, Cahyo menyontohkan, di kampus Tuguran terus dipercepat untuk menampung total sekitar 5.500 mahasiswa pada tahun akademik 2017/2018. Selain itu, Untidar juga mempersiapkan kampus-kampus baru di beberapa tempat di wilayah. (cr3/lis)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here