26 C
Semarang
Rabu, 9 Juni 2021

Pelaku Masuk Sel Khusus

MUNGKID – Polres Magelang terus mendalami kasus pembunuhan terhadap Kresna Wahyu Nurrahmad, 16, siswa kelas X SMA Taruna Nusantara. Proses penyusunan BAP terus dilengkapi untuk menjerat pelaku pembunuhan AMR, 16, yang tak lain adalah rekan satu barak korban.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono mengatakan, pelaku kini sudah ditahan dan ditempatkan di sel khusus. Dia dititipkan di Lapas kelas II Kota Magelang di ruang khusus Wanita dan Anak.

Penahanan sementara itu akan berlangsung selama 7 hari ke depan atau selama proses pemberkasan berlangsung. “Ketentuan ini sesuai dengan undang-undang peradilan anak. Kalau selama 7 hari itu proses pemberkasan belum selesai, penahanan akan kita perpanjang menjadi 8 hari,” terangnya.

Dalam kasus ini, polisi akan menjerat pelaku dengan pasal pembunuhan berencana. Karena masih anak-anak di bawah umur, ancaman hukuman yang akan diterimanya yakni penjara maksimal 15 tahun dengan denda Rp 3 miliar.

Condro mengatakan, pasal yang dikenakan sesuai dengan hasil pendalaman dan pemeriksaan yang dilakukan pihaknya. “Karena tersangka masih anak, akan dikenai pasal 80 ayat (3) juncto pasal 76C UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Serta pasal 340 sub pasal 338 KUHP tentang pembunuhan berencana,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, petugas kepolisian bergerak cepat agar proses tersebut bisa segera selesai. Hal itu bisa dilihat dari sejak awal kegiatan gelar kasus. “Pada saat gelar, sudah dua kali gelar, kita langsung melibatkan kejaksaan. Termasuk Kepala Kejaksaan dan Kasi Pidana Umum. Supaya pemberkasan dan penyidikan kasus ini bisa cepat selesai, target 7 hari kita selesai,” ungkapnya.

Sementara untuk memeriksa kejiwaan tersangka, polisi juga mendatangkan tenaga ahli dari Polda Jateng. “Saya sudah bawa kepala dinas psikologi Polda Jateng dan tim. Mereka akan lakukan pemeriksaan kejiwaan tersangka. Yang jelas, tersangka mengaku menyesal dan akan mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Condro.

Sementara itu, Kepala Lembaga Perguruan Taruna Nusantara, Puguh Santoso mengaku akan memberikan sanksi tegas bagi tersangka. “Karena kasus ini sudah masuk ke ranah hukum, maka tidak ada tindakan lain selain dikeluarkan,” kata Puguh.

Dia menjelaskan, SMA Taruna Nusantara memiliki peraturan sangat ketat dan menjadi perhatian bersama. “Perlu kami tekankan, di SMA TN ini, ada hal-hal yang pantang dilakukan siswa. Yakni bertindak kekerasan (memukul, berkelahi), mencontek, mencuri, asusila, narkoba. Sudah pasti keluar,” tegasnya.

Puguh juga mengatakan bahwa peristiwa tragis ini baru pertama kali terjadi selama 27 tahun SMA Taruna Nusantara berdiri. Apalagi, sekolah yang berada di Jalan Magelang – Purworejo, Kecamatan Mertoyudan ini termasuk sekolah unggulan yang menerapkan proses seleksi ketat bagi calon siswanya.

“Evaluasi juga terus kami lakukan dari tahun ke tahun. Apa yang terjadi saat ini merupakan sesuatu yang sangat di luar logika,” ujarnya.

Puguh menjelaskan proses seleksi masuk SMA Taruna Nusantara meliputi seleksi akademis dan kesehatan dengan syarat yang ketat, bahkan sejak calon siswa masih duduk di bangku SMP. Untuk seleksi kesehatan juga tidak sekadar fisik tapi juga sisi kejiwaan calon siswa. “Untuk selekasi sudah berjalan terutama dari sisi kejiwaan. Kami lakukan secara profesional dan ada yang membidangi, dari psikologi dan kesehatan jiwa. Semua proses syaratya sangat selektif baik kesehatan maupun akademik,” papar Puguh.

Puguh menduga, kemungkinan ada pengaruh lain yang menyebabkan tersangka nekat membunuh kawannya sendiri. “Pelaku melakukan hal itu tidak lepas dari gambar-gambar maupun film rambo, sehingga kemudian jadi referensi anak. Bisa saja anak menonton di luar lingkungan sekolah, mengingat selama ini kami juga membatasi akses menonton televisi, termasuk ponsel,” urainya.

Saat ini, pihak sekolah akan menyerahkan proses hukum kepada aparat kepolisian. Meski demikian, insiden ini akan menjadi bahan evaluasi sekolah “Kami berusaha kooperatif dan menyerahkan proses ini kepada aparat keamanan,” tandas Puguh.

Puguh mengatakan pascakejadian ini, pihaknya akan lebih mengintensfikan pemeriksaan terhadap para siswa SMA Taruna Nusantara demi menghindari kejadian serupa terulang.

“Nantinya kami akan rutin melakukan tes psikologi dan tidak hanya saat proses penerimaan siswa. Tes itu untuk mengetahui perkembangam kejiwaan anak-anak didik kami. Kami juga akan meningkatkan pengamanan dengan memasang sinar x-ray untuk menghindari masuknya benda-benda tajam yang mungkin dibawa masuk siswa,” tambahnya. (vie/ton)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here