28 C
Semarang
Jumat, 11 Juni 2021

Berharap Jamu Bisa Diresepkan Dokter

SEMARANG – Jamu herbal mulai banyak digunakan masyarakat untuk mengobati penyakit. Sayang, hingga saat ini, jamu herbal belum direkomendasikan di dunia kedokteran. Karena itu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berharap agar jamu herbal bisa naik kelas menjadi fitofarmaka atau obat yang bisa diresepkan dokter.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT, Prof Eniya Listani Dewi menjelaskan, industri herbal bukan sekadar di level jamu saja. Apalagi saat ini masyarakat cenderung memilih obat-obat herbal ketika sakit.

”Beberapa waktu lalu, kami mengundang Dirut PT Phapros. Dirut Phapros memberi masukan kepada kami, bahwa kehidupan masyarakat pun sudah tidak mau pakai obat kimia,” ucapnya dalam Rapat Kerja Deputi Bidang TAB BPPT 2017 di Patra Jasa Semarang Convention Hotel, kemarin.

Pihaknya mengaku sudah berupaya menguatkan industri jamu. Salah satunya dengan menggandeng Jamu Jago. Salah satu kerja samanya adalah memberikan fasilitas mesin ekstraksi untuk bahan baku jamu, yang dibuat sendiri oleh BPPT. ”Kami juga melakukan penguatan di industri ekstraksi untuk bahan baku jamu. Kami yang buat mesinnya, kemudian dioperasionalkan oleh Jamu Jago. Mesin tersebut terbukti mampu bertahan selama 10 tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Sekda Jateng Sri Puryono mengakui jika bahan baku jamu herbal masih minim. Jahe misalnya. Meski sudah dibudidayakan di Jateng, tapi selama ini masih harus mendatangkan dari luar provinsi. Bahkan impor dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan.

”Ketika saya tanya kepada pengusaha jamu, katanya yang penting kadar sreng-nya (aromanya). Ini nanti jadi tugas BPPT. Ginger-nya itu kadarnya kayak apa. Kan seperti garam ada kadar NaCl-nya. Kalau lebih dari 96 persen oke lah,” jelasnya.

Sri Puryono menilai, untuk memenuhi permintaan bahan baku jamu sesuai standar pabrikan, BPPT perlu memberi pelatihan, pendampingan, dan bibit kepada para petani tanaman jamu. Dengan begitu, petani juga akan merasakan manfaat ketika bahan bakunya dapat diterima pabrik. ”Misalnya benih jahe gajah kualitas pertama dengan kadar ginger sreng-nya sekian persen. Dikawal. Jangan diserahkan petani saja. Nanti tidak jadi,” harapnya. (amh/ric/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here