28 C
Semarang
Minggu, 13 Juni 2021

Shohibul Anam, Pemuda Mranggen, Demak, Kelola Perpustakaan Berjalan

Seorang pemuda desa mendirikan perpustakaan gratis bagi warga. Namanya Taman Baca Masyarakat (TBM) Griya Pustaka yang didirikan Shohibul Anam, warga Desa Ngemplak RT 11 RW 2, Mranggen, Demak. Seperti apa?

AHMAD ABDUL WAHAB

RENDAHNYA minat baca warga, khususnya masyarakat di pedesaan menjadi keprihatinan sendiri bagi Shohibul Anam. Melihat kondisi itu, pemuda kelahiran Demak, 24 Oktober 1991 ini sejak hampir 3 tahun yang lalu mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) Griya Pustaka di rumah orang tuanya.

Pria yang akrab disapa Anam ini menceritakan, sebelum mendirikan TBM, ia memang telah banyak mengoleksi buku bacaan. Setidaknya ada 300 buku yang dimilikinya. Namun setelah buku-buku tersebut tuntas dibaca Anam, menjadi terbengkalai seperti tak termanfaatkan.

Nah, saat itulah timbul keinginan membuka perpustakaan umum. Harapannya, buku-buku koleksinya itu bisa juga dibaca warga lainnya. Ia resmi mendirikan taman baca masyarakat pada 1 Agustus 2014.

”Karena ada bangunan kosong di sebelah rumah, jadi saya manfaatkan untuk perpustakaan agar nantinya bukan cuma saya saja yang membaca buku-buku tersebut, tetapi masyarakat juga bisa menikmati,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

TBM yang diberi nama Griya Pustaka itu dikelola sendiri oleh suami dari Devi Nurul Arifin ini. Ia membebaskan setiap pengunjung menikmati buku-buku koleksinya secara gratis. ”Semua buku tertata rapi, hal itu untuk memudahkan pengunjung yang sekadar membaca maupun yang hendak meminjam,” ujar pemuda yang juga Kepala Perpustakaan MTs Miftahul Ulum Mranggen ini.

Diakui, saat ini minat baca masyarakat di desanya masih relatif rendah. Terbukti, mayoritas yang datang adalah teman-teman satu organisasinya sendiri. Padahal dia menginginkan agar keberadaan TBM itu dapat dijamah oleh semua kalangan tanpa terkecuali. Sehingga sejak setahun terakhir, dia dibantu teman-teman Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) setempat mencoba menghadirkan sebuah inovasi baru, yakni membuat perpustakaan berjalan.

”Jadi sejak setahun terakhir, saya sulap sebuah gerobak menjadi perpustakaan berjalan,” tuturnya.

Menurut Anam, hal itu dilakukan agar selain untuk memperkenalkan lebih dekat buku kepada masyarakat, juga agar menambah ketertarikan masyarakat terutama anak-anak terhadap buku. Sebab, semuanya berawal dari membaca.

”Memprihatinkan sekali. Budaya membaca masih sangat minim. Untuk itu, saya inisiasi datangi mereka dan sediakan buku-buku bacaan. Daripada bengong dan jenuh nggak ada kerjaaan,” katanya.

Dia mengatakan, dipilihnya gerobak sebagai perpustakaan, tak lain agar budaya membaca buku dapat dinikmati kapan pun dan di mana pun. Dengan begitu, kesempatan masyarakat dalam berliterasi semakin terbuka dan bahkan jauh lebih efektif ketimbang perpustakaan di rumahnya. ”Kita sasar pusat keramaian, seperti kantor kecamatan ataupun event-event lain. Kita tawarkan buku sebagai solusinya, dan Alhamdulillah responsnya bagus,” ujar pemuda yang saat ini tengah menantikan kelahiran anak pertamanya ini.

Dia mengaku, saat ini koleksi buku TBM Griya Pustaka sudah mencapai lebih dari 800 judul buku. Mulai dari buku cerita anak hingga buku-buku ber-genre sastra.

Anam menceritakan, kegemarannya dalam mengoleksi buku dimulai sejak duduk di bangku SMA. Yakni, ketika ia mulai mengakrabi karya Habiburrahman El Shirazy lewat tulisan-tulisannya di koran. Saat itu, ia mengaku harus menyisihkan uang saku demi berlangganan koran setiap minggunya.

”Sejak itu, saya konsisten mengoleksi buku hingga akhirnya muncul gagasan untuk mendirikan TBM seperti saat ini,” ungkapnya.

Diakui, gerakan literasi yang dilakukannya bukan tanpa kendala. Persoalan klasik seperti kendala dana masih menjadi problem tersendiri untuk mengembangkan perpustakaannya itu. Untuk itu, putra pasangan Abdul Makin dan Ida Mas’odah ini kerap mengumpulkan koran-koran bekas untuk dijual dan dibelikan buku. ”Masih bersyukur, tak sedikit yang mau menyumbangkan buku-buku ke TBM saya,” akunya.

Ia berharap ke depan, TBM Griya Pustaka bisa menjangkau masyarakat lebih luas lagi, meski dengan segala keterbatasan yang ada. ”Harapannya, bisa meningkatkan minat baca masyarakat, hingga masa depan pun menjadi gemilang,” ujarnya. (*/aro/ce1)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here