Selewengkan Bansos Rp 13,45 M

Oknum Dinas Perkebunan Jateng

438
GELAR KORUPSI: Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarod Padakova menunjukkan barang bukti uang tunai Rp 4,51 miliar yang disita dari para tersangka saat gelar perkara di Kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GELAR KORUPSI: Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarod Padakova menunjukkan barang bukti uang tunai Rp 4,51 miliar yang disita dari para tersangka saat gelar perkara di Kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Oknum Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah menjadi tersangka dugaan korupsi penyelewengan bantuan sosial (bansos) pekerjaan pengadaan benih tebu pola II tahap II di Kabupaten Pati Tahun Anggaran 2013. Anggaran pekerjaan tersebut mencapai Rp 13,45 miliar.

Oknum tersebut diketahui bernama Soesiati, menjabat sebagai Kepala Seksi Pembinaan Usaha pada Bidang Usaha Perkebunan (BUP) Dinas Perkebunan Provinsi Jateng selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Selain Soesiati, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng juga menetapkan tiga tersangka lain. Yakni, Hamim Teja Permana selaku Direktur CV Intraco Pratama; Andi Priyanto sebagai pelaksana CV Intraco Pratama, dan Mahfudi Husodo selaku pemilik CV Intraco Pratama.

”Ada empat tersangka masing-masing HTP, AP, MH, dan SR,” ungkap Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarod Padakova saat gelar perkara di Kantor Ditreskrimsus Polda Jateng Kamis (30/3) kemarin.

Diketahui, nilai kontrak pekerjaan pengadaan benih tebu tersebut mencapai Rp 13,45 miliar, dan surat pesanan nomor 027.3/12347. Isinya adalah spesifikasi benih kultur jaringan G2 ke G3 atau KBD konvensional bersertifikat dan berlabel. Sedangkan jumlah bibit 171.520 kuintal dengan harga Rp 78.400 per kuintal. Penerima bantuan bibit ada empat kelompok tani, yakni Makmur Mandiri 3.120 kuintal, Makmur Jaya 7.360 kuintal, Tani Makmur 80.480 kuintal, dan Subur Makmur 80.560 kuintal.

”Modusnya adalah memberikan uang tunai kepada empat kelompok tani. Jadi, pada dasarnya para tersangka tidak mengadakan benih tebu sesuai yang dipersyaratkan dalam kontrak. Melainkan hanya mengakomodir benih tebu yang ditanam oleh petani dengan cara membagikan uang sebagai pengganti untuk pengadaan benih tebu,” jelasnya.

Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Jateng AKBP Egi Adrian Suez menambahkan, untuk memenuhi administrasi permintaan pembayaran CV Intraco Pratama kepada Dinas Perkebunan dibuatlah faktur pengiriman barang fiktif. Praktik ini dilakukan dengan maksud supaya seolah-olah telah dilakukan pengiriman barang dari CV Intraco Pratama.

”Atas faktur pengiriman tersebut yang kemudian menjadi dasar oleh pejabat/Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) hasil pekerjaan yang ditandatangani oleh tersangka Hamim Teja Permana selaku Direktur CV Intraco Pratama dengan Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan dan diketahui oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) walaupun sebenarnya tidak ada serah terima barang,” bebernya.

Pada kasus korupsi ini, total kerugian uang negara diketahui sebesar Rp 13,22 miliar lebih. Saat ini, pihak penyidik telah menyita barang bukti uang senilai Rp 4,51 miliar. Para tersangka dijerat pasal 2 ayat (1) subsider pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak korupsi pidana jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

”Total kerugian hampir semua, karena tidak dibelikan bibit sama sekali, dikasih uang tunai kepada petani. Penanganan dua tersangka belum ditahan masih dalam pemberkasan, dua tersangka lainnya sudah P21, sudah kita serahkan ke kejaksaan. Nanti kita teruskan ke tersangka berikutnya,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Lukas Akbar Abriari. (mha/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here