Isu Agama Dijadikan Alat Provokasi

668
DIALOG : Muhtadin dalam dialog lintas agama yang diadakan Kamis (30/3) di Resto Ongklok Wonosobo. (Zain zainudin/radar kedu)
DIALOG : Muhtadin dalam dialog lintas agama yang diadakan Kamis (30/3) di Resto Ongklok Wonosobo. (Zain zainudin/radar kedu)

WONOSOBO – Gesekan yang bermuatan agama belakangan ini banyak muncul. Hal itu disebabkan pemahaman keliru terhadap agama yang diyakini.

“Gesekan bermuatan agama yang saya ketahui bukanlah menyangkut prinsip keagamaan. Semata-mata, disebabkan gagal memahami inti dari pesan agama itu sendiri,” ucap Kepala Kantor Kementerian Agama Wonosobo Muhtadin, dalam dialog lintas agama yang digelar di Resto Ongklok Kamis (30/3).

Acara tersebut melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), berikut tokoh lintas agama Kabupaten Wonosobo dengan mengusung tema ‘Agama Sebagai Perekat Persatuan dan Kesatuan bangsa’.

Dikatakan, agama apapun di dunia ini, dipastikan mengajak umatnya kepada kebaikan. Karena itu, jika terjadi gejolak di masyarakat -sedangkan pemicunya justru dari masalah agama- berarti ada yang salah dengan penganutnya. Jika hal semacam itu terjadi, belajar memahami nilai keagamaan secara utuh, merupakan sebuah solusi yang harus dilakukan.

“Kalau untuk Wonosobo sendiri, miskomunikasi antarumat beragama bisa dibilang sangat kecil bahkan tidak ada. Ini tentu patut kita sukuri dan kita jaga. Salah satunya, dengan dialog semacam ini,” katanya.

Kerukunan yang terjalin harmonis di Wonosobo ini, belum sepenuhnya dirasakan oleh semua daerah di seluruh tanah air. Mengenai hal ini, Kapolres Wonosobo, AKBP Muhammad Ridwan mengungkapkan, di daerah tertentu pertikaian yang mengatasnamakan agama masih berlanjut.

Gesekan demi gesekan masih terus terjadi, hanya saja tidak terlalu terekspose. “Upaya penyelesaian sudah dilakukan maksimal. Cuma di daerah tertentu mendamaikan dua kelompok masyarakat yang kadung tersulut emosinya ini tidak mudah,” ucap kapolres yang pernah ditugaskan di area konflik Poso, Ambon, Timor-Timur, Papua, hingga Aceh Singkir itu.

Menurut kapolres, gejolak agama yang sering terdengar sebenarnya bukan murni dari persoalan agama. Rerata, isu agama hanya dijadikan alat legitimasi atau alat untuk memprovokasi seseorang untuk kepentingan-kepentingan tertentu oleh segelintir orang.

“Makanya saya terus mengimbau. Kalau ada isu yang kurang mengenakkan dan katanya soal agama lebih baik jangan mudah percaya. Jika ada fenomena semacam itu percayakan ke penegak hukum. Pasti ada solusi,” pungkasnya. (cr2/lis)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here