Bros Aruna, Dari Bahan Kain Sisa Beromset Jutaan

1603
WEDDING DRESS : Erni Budiarti menunjukkan kerajinan tangan yang terbuat dari kain perca, berupa bros dan wedding dress.
WEDDING DRESS : Erni Budiarti menunjukkan kerajinan tangan yang terbuat dari kain perca, berupa bros dan wedding dress.

Kain perca atau kain sisa berhasil disulap oleh Erni Budiarti,29, warga Desa Sijambe, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, menjadi ladang bisnis kerajinan tangan. Bahkan, pemasarannya telah menembus pasar Singapura dan Malaysia. Seperti apa?

BERMULA tahun 2011 lalu, ketika Erni Budiarti menjual kain batik milik orang tuanya di Pasar Beringharjo Jogjakarta. Kala itu, banyak potongan kain sisa atau kain perca yang dibentuk menjadi bunga-bunga kecil atau bros oleh perajin aksesoris di Pasar Beringharjo. Kemudian ditempelkan pada baju baju yang terbuat dari kain batik. Hasilnya lebih indah dan tentu harganya pun menjadi lebih mahal, karena ditambahi aksesoris bros berupa bunga-bunga kecil dari kain perca.

Lantaran kerap melihat perajin membuat bros tersebut, akhirnya Erni yang sarjana komunikasi dari Universitar Muhamadiyah Yogyakarta (UMY), belajar sendiri membuat bros dari kain perca dan manik-manik. Namun bros karya Erni, bukan untuk aksesoris baju, namun aksesoris pada hijab.

Bahkan, aksesoris dengan bahan kain perca dan manik-manik karya Erni tersebut bisa dijual kepada beberapa temannya, dengan harga Rp 10 ribu per bros. Ada juga yang dijual di Pasar Beringharjo dan pasar kerajinan lain di Jogjakarta.

“Pertama kali saya membuat bros, dari modal Rp 30 ribu. Kemudian saya belikan bahan manik-manik , ternyata bisa menghasilkan Rp 500 ribu. Hasilnya, bisa lebih dari 50 bros dalam waktu seminggu. Lantas bros pertama karyanya, dijual melalui facebook,” ungkap Erni, Kamis (30/3) kemarin.

Sejak penjualan bros kali pertama banyak peminat, Erni ketagihan untuk terus membuat bros dengan berbagai kreasi yang berbeda. Ternyata, semakin banyak peminat. Akhirnya dirinya merekrut beberapa remaja putri tetangga untuk memenuhi pesanan.

Menurutnya, bros yang paling diminati adalah bros untuk asesoris hijab, dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu, dengan konsumen remaja dan ibu muda. “Dalam sebulan, kami bisa memproduksi 500 bros. Sebagian besar konsumen dari Jakarta, Surabaya, Medan dan luar pulau Jawa,” kata Erni.

Erni juga menjelaskan setelah dua tahun usaha membuat bros berkembang, dirinya berkreasi membuat karya berbagai kerajinan tangan headpiece, seperti headpiece wedding, headpiece untuk lamaran, wisuda, party, handband baby, kalung wedding, dan hand bouquet.

Menurutnya, setiap produk baru kerajinan tangan, sebelum dipasarkan secara luas, selalu dibuat produk contoh yang dipajang melalui media sosial, baik facebook, twitter maupun instragram. “Kerajinan tangan model headpiece saat ini paling tinggi permintaannya. Selain harganya murah, modelnya bisa dipakai untuk semua jenis pakaian, mulai dari hijab, baju muslim hingga pakaian pengantin,” jelas Erni.

Erni juga menuturkan kendala utama dalam memproduksi bros dan headpiece, yakni minimnya perajin atau SDM. Lantaran, untuk membuat bros dan headpiece memiliki kesulitan tinggi dan membutuhkan ketelitian yang baik. Padahal, pasar untuk kerajinan bros dan headpiece sangat lebar. Sedangkan saat ini, masih sedikit perajin yang memproduksi kerajinan tangan tersebut. “Untuk memenuhi pasar kerajinan tangan bros dan headpiece, kami membuka lebar bagi teman-teman yang mau belajar, sekaligus untuk bekerja memenuhi permintaan pasar,” tutur Erni.

Erni juga menjelaskan setelah 6 tahun usaha bros dan headpiece berkembang, pangsa pasarnya telah merambah seluruh Indoesia, Singapura dan Malaysia. Kini dirinya fokus membuat wedding dress atau baju pengantin yang dipadukan dengan bros dan headpiece.

“Konsumen yang semula hanya membeli bros dan headpiece, kini banyak permintaan wedding dress. Khususnya dari luar Jawa, yakni Sumatera dan Kalimantan. Adapun satu harga dari wedding dress dipatok dengan harga Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Mahalnya harga wedding dress tersebut karena dibuat dengan kerajinan tangan, serta dengan detail bros dan headpiece yang rajin dan rapi,” tuturnya.

Demikian juga dengan bahan yang digunakan, menggunakan yang kualitas premium. Sehingga mendekati karya desainer terkenal. Dibuatnya wedding dress tersebut, untuk memenuhi permintaan konsumen yang sebagian besar adalah pedagang bros dan wedding dress.

“Semua kerajinan tangan yang saya buat, mulai dari bros, headpiece dan wedding dress, saya lakukan secara otodidak. Semua belajar dari media internet, dan saya pasarkan dengan media sosial yang ada,” jelas Erni Budiarti, pemilik kerajiann tangan bros, headipiece dan wedding dress, beralamat di Jalan Patimura Nomor 15 RT 06 RW 02, Desa Sijambe, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan.

WA/Sms: 0856-4005-1008

Ig:  @by.aruna

PIN BBM: 7CB85626. (thd/adv/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here