Bengkel Sastra Mahasiswa UM Magelang

641
SERIUS : Para peserta mengikuti pelatihan bengkel sastra di kampus I UM Magelang selama tiga hari dan akan berakhir hari ini. (HUMAS UMM)
SERIUS : Para peserta mengikuti pelatihan bengkel sastra di kampus I UM Magelang selama tiga hari dan akan berakhir hari ini. (HUMAS UMM)

MUNGKID – Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan FKIP UM Magelang menggelar kegiatan bengkel sastra Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan di kampus I UM Magelang diharapkan mampu membekali kemampuan menulis para mahasiswa.

“Kemajuan teknologi telah semakin memudahkan masyarakat memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia dengan sangat cepat dan mudah. Tapi kemajuan teknologi mengakibatkan menurunnya budaya literasi pada masyarakat yang lebih suka bermain gadget, menonton televisi, dan berselancar di dunia maya daripada membaca atau menulis,” kata ketua panitia dari FKIP UM Magelang, Agrissto Bintang, kemarin.

Padahal, katanya, membaca dan menulis merupakan budaya di dunia pendidikan. Karena keduanya merupakan esensi ilmu pengetahuan. Namun banyak masyarakat termasuk para mahasiswa yang enggan membaca apalagi menghasilkan karya karena belum menjadikan membaca dan menulis sebagai budaya.

Bintang mengatakan, kegiatan tersebut diadakan selama tiga hari mulai Rabu hingga Jumat (29 – 31/3) di ruang FKIP kampus 1 UM Magelang. “Sebanyak 40 mahasiswa menjadi peserta kegiatan itu. Mereka tidak hanyak berasal dari mahasiswa FKIP, namun juga dari lima fakultas lainnya yakni FE, FT, FAI, FH, dan Fikes,” ujar Agris.

Ketua panitia dari Balai Bahasa Jawa Tengah, Poetri Mardiana Sasti mengungkapkan, beberapa sastrawan handal dari Magelang dihadirkan menjadi narasumber. Mereka adalah Triman Laksana dan Wicahyanti Rejeki. Selain itu Dekan FKIP Drs. Subiyanto, M.Pd dan Kustri Sumiyardhana, peneliti dari Balai Bahasa Jawa Tengah juga menjadi narasumber.

Subiyanto mengatakan, salah satu upaya untuk mengatasi persoalan lemahnya budaya literasi dengan menggalakan gerakan literasi bagi kalangan pendidik dan peserta didik (GLPPD) yang dapat dijadikan pioner dalam meningkatkan budaya literasi baik di sekolah maupun di masyarakat.

Adapun Triman Laksana dalam makalahnya berjudul Mengelola Imajinasi Liar mengungkapkan tentang pengalamannya menulis cerpen menggunakan teknik imajinasi. Selain itu juga dengan memakai strategi ATM yakni amati, tiru, dan modifikasi.

Wicahyanti Rejeki juga membagi pengalamannya sebgai penulis cerpen melalui makalahnya bertema Menulis Cerpen : Tangkap dan Jadikan. Dia berpesan agar cerita yang ditulis dibuka dengan paragraf yang menarik yang akan membuat pembaca penasaran.

Pada hari terakhir (31/3) para peserta mengikuti praktik menulis cerpen. “Hasil karya mereka akan dibukukan oleh Balai Pustaka. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta dapat lebih apresiatif terhadap cerpen, serta dapat meningkatkan kompetensinya dalam menulis cerpen,“ pungkas Poetri. (vie/sct/lis)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here