Petani Diimbau Ikut Asuransi Pertanian

Terendam Banjir, Banyak Sawah Gagal Panen

1443

UNGARAN–Tingginya debit hujan yang mengguyur Kabupaten Semarang beberapa bulan terakhir ini, menenggelamkan ratusan hektare sawah di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Ambarawa, dan Kecamatan Tuntang. Karenannya, pihak Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Semarang mengimbau agar petani mengikuti program asuransi pertanian.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan, Urip Triyogo mengatakan jika asuransi pertanian tersebut dapat menyelamatkan petani yang merugi karena gagal panen. “Untuk tiga kecamatan itu, sawah memang langganan banjir. Apalagi beberapa bulan ini intensitas hujan memang tinggi,” ujar Urip, Rabu (29/3) kemarin.

Dijelaskan Urip, adapun persyaratan untuk mengikuti asuransi tersebut yaitu petani harus memiliki luas tanah minimal satu hektare. Saat ini, sudah 2000 hektare sawah di Kabupaten Semarang diikutkan asuransi pertanian tersebut. Adapun premi yang harus dibayar setiap bulannya yaitu Rp 35 ribu setiap satu hektare.

Apabila dalam satu tahun terjadi gagal panen, maka pihak asuransi akan memberikan ganti rugi sebesar Rp 6 juta untuk satu hektarenya. Adapun untuk luasan sawah yang terendam untuk Kecamatan Banyubiru seluas 260 hektare, Kecamatan Ambarawa seluas 80 hektare, dan Kecamatan Tuntang 40 hektare. “Kondisi sebagian besar sawah itu belum tanam, sebagian lagi baru berumur satu minggu tanam. Sehingga untuk tanam harus menunggu air surut dahulu,” ujarnya.

Menurut Urip, mengikuti asuransi pertanian, bagi petani sangat membantu. Apalagi yang lahan sawahnya menjadi langganan banjir saat memasuki musim penghujan. “Sayangnya, kesadaran petani masih rendah untukmengikuti asuransi itu. Padahal sangat menolong,” ujar Urip.

Meski ratusan hektare sawah di tiga kecamatan tersebut banjir, pihaknya tidak khawatir akan kekurangan stok beras di Kabupaten Semarang. Dalam satu tahun terakhir di tahun 2016, Kabupaten Semarang mengalami surplus beras hingga mencapai 30 ribu ton. Surplus tersebut terjadi dalam kurun waktu 2016. “Meski tiga kecamatan itu masuknya lumbung padi kita, namun misalnya gagal panen tidak mempengaruhi stok padi,” katanya.

Untuk jumlah sawah di tiga kecamatan, dari catatannya masuk kategori yang siap panen, hanya 20 persen. Sisanya masih belum bercocok tanam dan baru proses penanaman padi. Sehingga apabila kebanjiran, kerugian petani tidak terlalu besar. Meski begitu, pihaknya tetap memantau perkembangan banjir di area persawahan di tiga kecamatan tersebut.

Ketakutan gagal panen diungkapkan oleh Kades Bejalen Kecamatan Ambarawa Nowo Sugiarto. Dikarenakan puluhan hektare sawah di wilayahnya mengalami kebanjiran, banyak petani yang beralih mata pencaharian menjadi nelayan rawa. “Banyak yang beralih ke nelayan waduk di Rawa Pening,” ujarnya.

Dijelaskan Nowo, banjir di area persawahan di desanya disebabkan meluapnya sungai yang bermuara di waduk Rawa Pening. Tingginya debit hujan mengakibatkan sungai tidak mampu menampung keseluruhan air.

Airpun meluap hingga membanjiri puluhan hektare sawah di Desa Bejalen. Ia juga berharap, peran serta dari Pemkab Semarang untuk memperhatikan nasib petani di Desa Bejalen.

Hal serupa juga diungkapkan salahsatu petani dari Desa Tambakboyo Kecamatan Ambarawa, Sumarni. Kerugian yang dialami petani mencapai puluhan juta rupiah. Dikarenakan sawah tidak bisa digarap dan mangkrak karena terendam air selama berminggu-minggu. Sawah miliknya hampir satu hektar tersebut gagal panen, dikarenakan padi yang ditanam terendam air. Rendaman air mencapai 40 sentimeter. “Ya mau bagaimana lagi, sawahnya tidak jadi panen. Kami yang susah,” ujar Sumarni.

Dikatakan Sumarni, sejak dua tahun ini, yaitu 2016 dan 2017 sudah tiga kali sawahnya terkena banjir. Namun banjir kali ini yang paling parah. “Dulu pernah banjir, namun tidak menggenang semuanya. Ini malah menggenang sepenuhnya,” katanya. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here