Pemasangan Portal Patok di Kota Lama Dikeluhkan

411

SEMARANG – Pemasangan portal patok di sejumlah jalan di kawasan Kota Lama Semarang dikeluhkan Komunitas Sahabat Difabel Semarang. Pasalnya, patok untuk mencegah kendaraan bermotor melintas itu  dinilai tidak ramah bagi penyandang disabilitas.

’Iya, tadi pun saya dapat kritikan dari teman-teman difabel. Intinya mereka mempermasalahkan cara pemasangan portal ini yang tidak bisa dilewati untuk penyandang disabilitas. Padahal dalam undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang disabilitas sudah dijelaskan perlindungannya, sehingga perlu ditaati semua dinas dalam memmbuat kebijakan,” ujar Ketua Komunitas Sahabat Difabel Kota Semarang, Noviana Dibyantari, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Novi mengaku sudah mengadu kepada Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryati Rahayu. Ia mengkritik pemasangan portal yang sepihak itu meskipun dengan dasar perda yang ada. Mbak Ita –sapaan wawali—yang juga Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) menerima kritikan yang disampaikannya dengan senang hati.

”Langsung saya sampaikan kepada Mbak Ita, beliau menerima masukan kami. Kemudian beliau menyarankan agar masukan dari kami disampaikan secara tertulis agar dapat diselesaikan permasalahanya. Saat ini, masukan dari kami sedang digarap, untuk kemudian bisa duduk bersama membuat solusi,” jelasnya.

Ia menegaskan, sementara ini pihaknya setuju saja sampai masukan tertulis disampaikan, dan dapat duduk bersama membuat solusi. Ia menyatakan, memang hak pejalan kaki dirampas dengan pemasangan portal itu, meskipun maksudnya baik untuk mencegah motor masuk dalam area pejalan kaki.

Pemasangan patok, lanjut dia, bisa mencontoh apa yang dilakukan Provinsi DI Jogjakarta yang ramah bagi kaum difabel. Pembuatan patok di trotoar berbetuk leter S yang bisa dilalui kaum difabel, utamanya yang menggunakan kursi roda. Hal ini tuturnya bisa ditiru Pemkot Semarang.   ”Ke depan kami hanya ingin kaum disabilitas diperhatikan dalam berbagai hal, terutama fasilitas umum. Karena kami sudah dilindungi undang-undang,” tegas Novi.

Sesuai perda, beberapa titik di Kawasan Kota Lama memang harus bersih dari kendaraan bermotor karena fungsi jalan untuk area pedestrian atau pejalan kaki. Hal ini dikatakan oleh salah satu anggota BPK2L, Agus S Winarto, yang juga memiliki bangunan heritage di kawasan yang dijuluki Little Netherland atau Belanda Kecil ini.

”Penataan Kota Lama yang sedemikian ini harus didukung penuh. Yang ribut paling cuma satu atau dua pengelola gedung, Perda Nomor 8 Tahun 2003 kan sudah ada sejak lama,” katanya.

Ia menyarankan, semua pihak untuk bersama berpikir bagaimana caranya memotivasi pemilik bangunan agar secepatnya merevitalisasi bangunan milik masing-masing agar bangunan cagar budaya di Kawasan Kota Lama menjadi lebih hidup dengan fungsi baru.

Agus yang memiliki beberapa bangunan ini juga mengajak semua komunitas yang ada untuk terus aktif membuat kegiatan yang positif dan menarik. Komunitas menjadi detak jantung yang akan menghidupkan Kota Lama, selain bangunan yang sudah direvitalisasi. Sehingga Kawasan Kota Lama akan semakin banyak didatangi wisatawan baik lokal ataupun asing.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, sejak Senin (27/3) malam, Pemkot Semarang melalui Dinas Perhubungan memasang portal di empat akses jalan di Kawasan Kota Lama. Yakni, di Jalan Kepodang dan tiga titik masuk jalan di Taman Srigunting. Tujuannya, agar jalan bebas dari kendaraan bermotor. Praktis, akibat pemasangan portal beton itu, banyak pengguna jalan yang kecele. Mereka akhirnya memutar balik arah atau melawan arus  di Jalan Letjen Suprapto.

Para pengendara yang kecele lebih banyak yang dari arah Jalan Pemuda menuju ke Bubakan melalui Jalan Branjangan samping Old City 3D Museum, kemudian menyeberang ke Jalan Kepodang atau  Gang Pitik.

Tegar Eka Prasasti, 23, mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang mengaku baru mengetahui pemasangan portal tersebut. Tegar dan temannya serta beberapa orang lainnya sedang berada di Gang Pitik untuk berfoto-foto. ”Menurut saya, setuju saja sih kalau sebagai area pejalan kaki. Jadi, lokasi ini aman untuk wisatawan yang menikmati Kawasan Kota Lama. Untuk berfoto-foto saya rasa bisa lebih bebas ya,” ujar mahasiswa asal Tangerang ini.

Di Taman Srigunting, ada tiga akses jalan yang ditutup tiang portal beton. Yakni, di belakang Gereja Blenduk, dan dua akses masuk PKL Padangrani. Praktis, setelah dipasang portal, wisatawan yang cukup ramai sore kemarin bisa bebas melakukan kegiatan di kawasan Taman Srigunting tanpa gangguan kendaraan yang lewat.

Koordinator PKL Padangrani, Teguh Gunawan, 43, mengatakan, pemasangan portal dilakukan Senin malam lalu. Ia pun mengaku setuju-setuju saja dengan pemasangan portal ini, karena untuk kenyamanan wisatawan yang datang. ”Kalau saya setuju-setuju saja, karena ini kan sudah ada peraturannya. Dengan begini, wisatawan yang datang lebih nyaman tidak ada gangguan motor yang lewat. Di sini juga yang datang bukan dari Semarang saja, tapi banyak yang dari luar daerah, termasuk turis asing,” tuturnya. (mg30/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here