Lestarikan Gotong Royong, Gelar Lomba

1775
LOMBA GOTONG ROYONG : Kades Rowosari, H Casmudi dan Sekdes Sutopo mendampingi Camat Limpung, Windu Suriadji dan Tim Bapermades Kabupaten Batang dalam penilaian lomba gotong royong di Desa Rowosari Kecamatan Limpung, Rabu (29/3) kemarin. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
LOMBA GOTONG ROYONG : Kades Rowosari, H Casmudi dan Sekdes Sutopo mendampingi Camat Limpung, Windu Suriadji dan Tim Bapermades Kabupaten Batang dalam penilaian lomba gotong royong di Desa Rowosari Kecamatan Limpung, Rabu (29/3) kemarin. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

BATANG – Gotong royong yang identik dengan kehidupan masyarakat Indonesia kini sudah mulai terlupakan. Untuk itulah, Badan Pemberdayaan Masyarakat Sesa (Bapermades) Kabupaten Batang menggalakkan lomba Gotong Royong tingkat Kabupaten Batang.

Staf Bapermades sekaligus anggota tim penilai, Jumbadi, menjelaskan adanya kegiatan lomba gotong royong lingkungan ini berkaitan dengan bulan Bakti Gotong Royong Nasional yang jatuh pada Mei besok, sekaligus mengajak masyarakat kembali nguri-uri kearifan adi luhung ini. “Budaya gotong royong sudah mulai terkikis dan terlupakan, karena kehidupan masyarakat yang kini bergeser dan lebih mementingkan kehidupan pribadi,” tandasnya, Rabu (29/3) kemarin.

Untuk itu, Bapermades berharap gotong royong tidak hanya dilakukan kalau ada lomba. Tapi terus dilaksanakan seperti dulu. Karena gotong royong merupakan cermin kehidupan masyarakat yang rukun saling menjaga lingkungan. “Kekompakan adalah nilai terbesar yang kami rangkum. Juaranya di tingkat kabupaten otomatis mewakili Kabupaten Batang maju ke tingkat Provinsi Jateng,” kata Jumbadi.

Terkait lomba tersebut, Bapermades menilai di wilayah Desa Rowosari Kecamatan Limpung yang memiliki 4 wilayah perdukuhan, namun warganya terkenal kompak.

Camat Limpung Windu Suriadji menjelaskan, dipilihnya Desa Rowosari, lantaran tingkat kesadaran masyarakatnya masih tinggi dalam hal gotong royong sehingga mudah dimobilisasi. “Warga Rowosari masih kental budaya gotong royongnya, mudah dikoordinasi dan ringan tangan dalam membantu sesama,” ujar Windu.

Pernyataan Camat Windu terbukti. Saat kegiatan kerja bakti, cukup diundang dengan menggunakan pengeras suara di masjid oleh Kades Rowosari H Casmudi, ratusan warga serentak kerja bakti membersihkan lingkungan dukuh masing-masing yaitu Dukuh Rowosari, Dukuh Pencar, Dukuh Adiloko dan Dukuh Paten.

“Tiap selapanan (35 harian), kami rutin membersihkan lingkungan dengan melibatkan semua warga baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin tanpa kami perintah,” kata Kades.

Slamet M, warga setempat menuturkan jika kerja bakti tersebut tidak hanya membersihkan jalan desa. Tetapi membersihkan aliran sungai yang masih menjadi tempat pembuangan kotoran. Di desa setempat, setiap rumah sudah mempunyai WC, tetapi hanya sedikit yang melengkapi dengan septic tank. Kebanyakan WC dibuang ke sungai kecil menggunakan pralon. Akibatnya lingkungan menjadi tidak sehat, apalagi jika musim kemarau sungai kering dan menimbulkan bau tidak sedap. Ini masukan bagi pemerintah yang harus segera menggalakkan kesehatan bagi masyarakat. “Kami berharap, pemerintah memberikan solusi untuk masalah ini dengan membuatkan septic tank minimal tiap RT satu, sehingga sungai tidak tercemar lagi,” kata Slamet. (han/sct/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here