Ketika Bayu Ahmad Kembangkan Bisnis Carica

Tidak Cukup Hanya Berani, Ulet, dan Inovatif

644
ULET: Bayu Ahmad menunjukkan berbagai ragam produk carica olahannya. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
ULET: Bayu Ahmad menunjukkan berbagai ragam produk carica olahannya. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

Menuju sukses, tidak mudah bagi pelaku usaha. Butuh keberanian, keuletan, dan segudang inovasi produk. Itu saja tidak cukup. Itulah yang dilakoni Bayu Ahmad, owner Agripina, produsen carica di Wonosobo.

ZAIN ZAINUDIN, Wonosobo

MENURUT Bayu, ada satu hal yang sangat penting setelah ketiganya (keberanian, ulat, dan inovasi). Yaitu, manajemen modal yang tepat dan terukur.

“Agripina ini anak dari Cendawan Mas (produsen carica). Pendiri Cendawan Mas kebetulan ibu saya, namanya Chotijah Soeripto. Sekitar 15 tahunan ini, baru saya buka produksi sendiri dengan nama Agripina,” katanya saat dikunjungi Jawa Pos Radar Kedu di Sumberan, kemarin.

Ia lantas menceritakan suka-duka orang tuanya saat merintis carica dan jamur. Ketika itu, baru ada 2 produsen yang memproduksi carica dan jamur. Selain Cendawan Mas, satunya bernama Podang Mas. Nah, dua perusahaan itu merintis dan memulai usaha hampir bersamaan. “Kira-kira sekitar 1990-an.”

Meski berangkat pada tahun yang sama, keduanya memiliki sedikit perbedaan. Podang Mas lebih fokus pada inovasi produk olahan carica. Sedangkan Cendawan Mas lebih ke keripik jamur. Kebetulan waktu itu, PT Dieng Jaya masih memproduksi jamur dalam jumlah besar. Jamur afkiran itulah yang kemudian dikreasi menjadi keripik jamur oleh Cendawan Mas.

Tahun pertama produksi, orang tua Bayu mengalami kerugian terus-menerus. Dari seratus persen produksi, hanya 5 persen yang berhasil dijual. Lima persen saja, kadang tidak tentu. Maklum, produk olahan jamur belum familiar di tengah masyarakat. Pun, produk carica atau Carica In Syrup yang sekarang mudah dijumpai di Wonosobo.

“Saya ingat dulu, ibu kalau mau jualan mesti telaten. Sabar. Terlebih, saat menanggapi pertanyaan usil calon pembeli. Jamur iki jamur opo? Opo ora mendemi? (Ini jamur apa? Jamurnya apakah tidak beracun),” katanya menirukan pertanyaan banyak pembeli kala itu.

Padahal, sambung dia, pembeli sudah tahu bahwa keripik jamur bahan dasarnya dari Dieng Jaya yang sudah jelas-jelas layak untuk dikonsumsi. “Kami memaklumi, memang waktu itu jamur belum menjadi makanan familiar. Beda dengan di Korea atau China.”

Nah, menginjak tahun kedua, usaha yang dirintis orang tua Bayu mulai berkembang. Meski masih rugi, tapi tidak separah tahun pertama. Toko-toko sudah mau dititipi. Masyarakat juga mulai minat mengonsumsi jamur dan carica. “Baru di tahun kedua akhir tepatnya, usaha yang ibu rintis sudah balik modal. Sebelum-sebelumnya rugi terus.”

Memasuki tahun ketiga, Cendawan Mas mulai diminati pasar dan terus langgeng hingga saat ini. Sejak saat itu, Cendawan Mas mulai melebarkan sayap, memproduksi carica. Sebaliknya, Podang Mas juga memproduksi keripik jamur.

“Bisa dibayangkan kan? Dua tahun harus rugi? Tanpa manajemen modal yang tepat, bisa jadi Cendawan Mas nggak bisa bertahan sampai sekarang ini.”

Soal manajemen modal, ia mau berbagi tips. Di awal produksi, antara modal dan prediksi diterimanya produk, telah dihitung matang. Jangka dua tahun mengalami kerugian, sudah diprediksi. Tidak hanya itu. Dari modal 100 persen yang dimiliki, hanya boleh dibelanjakan kurang dari 30 persen. Baik untuk produksi maupun tambal sulam kerugian selama dua tahun. “Itungannya begitu, sudah dirumuskan matang. Kalau terjadi apa apa di tengah jalan, masih bisa bangkit dan memperbaiki kesalahan.” (*/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here