Terima Kasih Pangeran

1059
SAKSI BISU SEJARAH: Peserta kegiatan Java Through Art mengamati ruang pertemuan antara Pangeran Diponegoro dengan Jenderal Belanda de Kock yang berada di rumah pengabadian Diponegoro di kompleks kantor Bakorwil II Magelang, Minggu (28/3). Di ruangan itu, terdapat kursi yang diduduki Diponegoro saat berunding, juga jubah Sang Pangeran yang biasa dipakai saat berkuda. Pada 28 Maret kemarin, tepat 187 tahun silam, Diponegoro ditangkap Belanda (28 Maret 1830) di lokasi yang sama. (ISKANDAR BAGASKORO/JAWA POS RADAR KEDU)
SAKSI BISU SEJARAH: Peserta kegiatan Java Through Art mengamati ruang pertemuan antara Pangeran Diponegoro dengan Jenderal Belanda de Kock yang berada di rumah pengabadian Diponegoro di kompleks kantor Bakorwil II Magelang, Minggu (28/3). Di ruangan itu, terdapat kursi yang diduduki Diponegoro saat berunding, juga jubah Sang Pangeran yang biasa dipakai saat berkuda. Pada 28 Maret kemarin, tepat 187 tahun silam, Diponegoro ditangkap Belanda (28 Maret 1830) di lokasi yang sama. (ISKANDAR BAGASKORO/JAWA POS RADAR KEDU)

MAGELANG—Bertempat di pelataran eks karesidenan Kedu Bakorwil II Magelang, Minggu (28/3) pukul 08.00-12.00, berlangsung kegiatan Java Talk Through Art bertema “Terima Kasih Pangeran Diponegoro.”

Ya, 187 tahun silam—tepatnya pada 28 Maret 1930—Pangeran Diponegoro diperdaya oleh Belanda, ketika menghadiri undangan pihak Belanda untuk membicarakan gencatan senjata di Magelang. Ujung-ujungnya, Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Manado, sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar.

Kegiatan yang dibalut dengan suasana santai itu, untuk mengingatkan kembali perjuangan dan sosok Sang Pangeran. Untuk itu, panitia menghadirkan salah seorang keturunan Diponegoro. Yakni, Ki Roni Sodewo, keturunan ketujuh Pangeran Diponegoro yang saat ini tinggal di Wates, Kulonprogo.

Dalam sesi diskusi, Roni mengatakan, ada perbedaan lukisan penggambaran Pangeran Diponegoro ketika ditangkap oleh Belanda. Lukisan yang dibuat oleh pelukis Belanda bernama Pienemann, menggambarkan Diponegoro berdiri di tangga bawah. Sementara Jenderal Hendrik Merkus de Kock, posisinya di atas tangga memberi isyarat pengusiran dengan angkuh.

“Di latar belakang, bendera merah-putih-biru berkibar megah dan di halaman para pengikut pangeran tampak menangis karena sesembahannya ditaklukkan sang musuh. Pangeran beserta pengikut, digambarkan memakai jubah putih khas timur tengah. Sebuah lukisan tentang penaklukan, pengusiran, penghinaan, dan bahkan terkait dengan agama.”

Nah, lukisan yang dibuat tanpa berada di lokasi aslinya itu, suatu hari dilihat oleh seorang anak muda berdarah Arab di Paris, Prancis. Pemuda itu geram, karena Pangeran dalam lukisan itu adalah saudaranya. Ia juga seorang pangeran dari Tanah Air yang sama. “Tekadnya bulat, ia harus membalas dendam dengan caranya, goresan tangan!”

Maka, beberapa tahun kemudian, pemuda itu berhasil menginjakkan kaki di halaman bangunan asli lokasi Pangeran Diponegoro ditangkap. “Ternyata, sudut pandang gedung lukisan Pieneman salah. Pemuda ini lantas membuat sketsa di sehelai kertas dan ia buat lukisan ketika sampai di Belanda. Lukisan itu, ia hadiahkan kepada Ratu Belanda.” Dunia seni pun gempar. “Pemuda tadi, kemudian dikenal sebagai Raden Saleh, pelukis legendaris Indonesia.”

Raden Saleh membuat lukisan dengan adegan yang berbeda dari lukisan Pieneman. “Lukisan Raden Saleh menggambarkan Pangeran Diponegoro keluar ruangan dengan mendongakkan kepala, karena marah dijebak. Sedangkan kepala Sang Jenderal Belanda, tampak tak proporsional, terlihat besar dari ukuran kepala manusia normal. Posisi Sang Jenderal dengan Pangeran, berada pada tangga yang sama. Suasana hari terlihat suram.”

Dalam lukisan yang dibuat Raden Saleh, penempatan sudut pandang lokasi, lebih tepat dengan posisi aslinya. Gunung yang sebenarnya berada di depan ruangan dan tidak terlihat dari sudut pandang pelukis, digambarkan sebagai penegasan lokasi. “Sebagian orang Belanda memang takjub melihat keindahan gunung, karena tidak ada gunung di sana,” kata Roni.

Roni juga menceritakan, selama Perang Jawa 1825-1830, Pangeran Diponegoro lima tahun lamanya keluar masuk hutan dan pegunungan memimpin perang. Sebuah perang yang menjadi buah bibir masyarakat Eropa saat itu, karena mampu membuat bangkrut kerajaan musuh.

Kegiatan semakin menarik, dengan tampilnya seniman asal Magelang, Bambang Eka Prasetya. Bambang menembang geguritan yang dibuatnya sendiri, berjudul Keris, Gabah, lan Gerabah: Pangeran Sekaring Buwana. Membawa gerabah, berisikan gabah dengan keris yang tertancap di tengah gabah, performing art yang dipertontonkan seniman gaek itu sejatinya menyampaikan sebuah pesan; bahwa di tengah kesulitan yang mendera, Sang Pangeran tetap berjuang, melawan Belanda. Keris simbolisasi senjata yang dipakai Diponegoro, gabah (beras) adalah komoditas pertanian yang selalu dirampas Belanda ketika rakyat panen, sehingga penduduk ketika itu, di Kasongan, beralih membuat gerabah.

Penampil lain dalam kegiatan Java Talk Through Art adalah Lyra de Blauw, Saka Tama, Indra Octora, dan Studio Mumpet. Yang menarik, tamu undangan bisa menikmati kegiatan itu dengan sajian jagung bakar dan lotis. (isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here