BK FKIP Bahas Konseling Multikultural dalam Semnas

486
KONSELING: Para narasumber dalam seminar nasional Konseling Multikultural sebagai Upaya Peningkatan Konselor Profesional di Auditorium Kampus 1 UM Magelang, Senin (27/3). (HUMAS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG)
KONSELING: Para narasumber dalam seminar nasional Konseling Multikultural sebagai Upaya Peningkatan Konselor Profesional di Auditorium Kampus 1 UM Magelang, Senin (27/3). (HUMAS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG)

MAGELANG–Masyarakat multikultural pada era postmodern merupakan kenyataan yang tidak terhindarkan. Keadaaan tersebut semakin nyata seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik teknologi komunikasi terutama internet, transportasi, serta mesin industri. Perkembangan tersebut memunculkan masalah dimana konseling multikultural memberikan suatu model untuk membantu mengatasinya.

Konseling multikultural memberikan kesempatan kepada semua individu dengan latar budayanya untuk peluang terhadap akses barang dan nilai-nilai masyarakat dengan tidak adanya diskriminasi menurut asal etnis. Bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan konselor yang akan melakukan konseling multikultural diharapkan memiliki pengetahuan tentang multikultural serta memiliki kompetensi baik dalam pelayanan individual maupun konseling kelompok.

“Mereka juga dituntut untuk dapat memahami proses kompleks di mana orang menjadi anggota komunitas dan masyarakat serta membangun sikap dasar, nilai-nilai dan norma yang berlaku,” kata Dr M Japar MSiKons yang menjadi narasumber dalam seminar nasional Konseling Multikultural sebagai Upaya Peningkatan Konselor Profesional di Auditorium Kampus 1 UM Magelang, Senin (27/3). Seminar ini digelar Prodi BK FKIP UM Magelang dan diikuti lebih dari 350 peserta yang berasal dari guru BK serta mahasiswa dari berbagai wilayah di Jawa.

Selain Japar yang merupakan akademisi dari UM Magelang, narasumber lain yakni Dr Nandang Budiman MSi, akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dalam paparannya, Nandang menyampaikan materi tentang Praktek dan Sistem Bimbingan dan Konseling Multibudaya.

Di mata Nandang, BK multibudaya didefinisikan sebagai hubungan BK pada budaya yang berbeda antara konselor dan konseli. Selain itu, BK merupakan kekuatan keempat setelah BK psikodinamik, behavior, dan humanistik.

“Kompetensi multibudaya peserta didik adalah kemampuan serta kesanggupan peserta didik dalam memecahkan permasalahan multibudaya yang ditandai dengan kesadaran terhadap bias budaya sendiri, budaya orang lain, serta strategi untuk berinteraksi dalam kehidupan multi budaya secara efektif,” jelasnya.

Ketua Panitia Seminar Hijrah Eko Putro MPd berharap seminar tersebut dapat bermanfaat bagi para peserta, baik mahasiswa calon guru BK serta para guru BK dalam meningkatkan kompetensi mereka. Selain itu juga diharapkan dapat membuka wawasan tentang dunia konseling khususnya konseling multikultural. (*/sct/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here