Tawur Agung, Ajak Umat Jaga Kesucian Nyepi

307
KHUSYUK: Ratusan umat Hindu Semarang saat melakukan upacara Tawur Agung menyambut Hari Raya Nyepi di Pura Agung Giri Natha tadi malam. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Ratusan umat Hindu Semarang saat melakukan upacara Tawur Agung menyambut Hari Raya Nyepi di Pura Agung Giri Natha tadi malam. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Ratusan umat Hindu di Kota Semarang melakukan rangkaian peribadatan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 di Pura Agung Giri Natha Jalan Sumbing, Gajahmungkur, Semarang, Senin (28/3) tadi malam. Rangkaian prosesi dimulai pukul 18.00 berupa upacara Tawur Agung. Umat Hindu yang sebagian besar memakai baju adat Bali berwarna putih, membawa besek berisi bunga serta beberapa sesaji sebagai ritual persembahan. Di dalam pura, sembahyangan dipimpin seorang pemangku untuk melakukan pemujaan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Nengah Wirta Darmayana, menuturkan, sebelum melaksanakan Catur Brata Penyepian, umat Hindu membutuhkan konsentrasi yang bagus, kondisi serta hati yang harmoni untuk melaksanakan penyucian diri maupun penyucian alam semesta. Jika alam dan pikiran sudah harmoni, kata dia, niscaya umat Hindu bisa hidup lebih tenang.

”Tadi dilaksanakan upacara Tawur Agung untuk mengharmonikan alam semesta (buana agung) maupun diri kita (buana alit). Maknanya adalah mengharmonikan buta kala (sifat atau aura negatif dari alam semesta maupun tubuh kita, Red) dari apah (air), teja (api), bayu (angin), dan akasa (ruang kosong),” bebernya.

Dikatakan, masuk pada Hari Raya Nyepi, semua aktivitas yang berhubungan dengan duniawi akan ditinggalkan oleh umat Hindu yang dilaksanakan 24 jam mulai pukul 06.00 pagi ini hingga 06.00 pagi besok. Pada Catur Brata Penyepian, umat Hindu melaksanakan empat pantangan, yakni amati geni atau tidak boleh menyalakan api. Amati karya berarti tidak bekerja atau menenangkan pikiran. Amati lelungan atau tidak pergi ke mana-mana, karena fokus melakukan introspeksi diri, serta amati lelanguan atau tidak bersenang-senang.

”Umat Hindu yang mengikuti ibadah di sini kurang lebih 500 kepala keluarga. Mereka berasal dari Semarang Utara dan Semarang Selatan. Sedangkan untuk umat bagian Semarang Timur dilaksanakan di Pura Amarta Sari,” ungkap Nengah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Untuk menyikapi toleransi Kebinekaan, umat Hindu melaksanakan Tri Hita Karana di dalam korelasi dengan Hari Raya Nyepi. Artinya, membuat hidup menjadi harmoni dengan 3 cara. Pertama, sebagai umat beragama harus yakin dengan ajarannya apa pun agamanya. Kedua, harus harmoni terhadap sesama umat manusia karena sama-sama ciptaan Tuhan YME, dan ketiga harus mengharmonikan alam semesta yang sudah memberikan kehidupan bagi kita, salah satu bentuknya pada prosesi Tawur Agung untuk mengharmonikan alam semesta.

I Putu Agus Ari Pramana Wibowo, salah satu umat Hindu mengungkapkan kebahagiaannya dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Meskipun tidak dapat berkumpul dengan keluarga besar di Bali, dalam perayaan Nyepi tahun ini tidak ada yang berbeda. Hampir seluruh rangkaian acara maupun prosesi memiliki kesamaan.

”Hari Nyepinya kan besok, saya juga baru tahun ini ada di Semarang. Sehingga dapat pengalaman baru. Untuk acara besok kayak saya juga belum tahu, yang pasti sejenis lah kalau sama yang di Bali. Kalau biasanya waktu Nyepi kumpul sama keluarga, sekarang nggak. Jadi ya kangen meskipun ritualnya tidak beda jauh dengan yang ada di sini. Cuma suasananya aja yang beda,” ungkap mahasiswa Undip jurusan Kesehatan Masyarakat ini.

Bagi Nengah maupun Putu, pada Hari Raya Nyepi digunakan untuk menyucikan diri, harapannya menjadikan umat Hindu lebih menjaga diri dan sikap serta dilindungi oleh Sang Pencipta. Sehingga persatuan akan terwujud, masyarakat menjadi adil dan makmur. (mg29/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here