33 C
Semarang
Selasa, 7 Juli 2020

Setiap Pekan, 4,5 Ton Sampah Menumpuk

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

WONOSOBO – Sampah yang terus menumpuk di kawasan wisata Dieng diperkirakan mencapai  4,5 ton per pekan. Sampah tersebut, berasal dari limbah sisa pertanian dan limbah wisatawan yang berkunjung. Meski produksi sampah di area Dieng terbilang tinggi, sejauh ini belum pernah dibangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk menampung sampah di kawasan Dieng.

Selain tidak adanya TPA, menurut pengakuan Kepala UPT Pariwisata Garung Oni Wiyono, selama ini tidak ada pengangkutan sampah berkala dari dinas terkait. Seperti, pemindahan sampah dari tong-tong kecil atau TPS (tempat penampungan sementara) ke TPA. Sebagai akibatnya, lahan Perhutani atau lahan warga yang tidak produktif jadi tempat pembuangan sampah alternatif.

Oni menyontohkan seperti yang terlihat di dekat kawasan wisata Sikunir. Sekitar track pendakian mulai dipenuhi sampah.  Tak hanya itu, di desa-desa lain juga kondisinya hampir sama, karena tak ada pembuangan akhir, lembah di dekat desa jadi TPA alternatif.

“Sekarang jumlah pengunjung baru 3.000 per pekan. Ke depan, semakin meningkat pengunjungnya, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.”

Mengenai sampah, Tim Kerja Pemulihan Dieng Tafrikhan membeber, ada 10 desa yang bersinggungan langsung dengan kawasan wisata Dieng. Meliputi Desa Parikesit, Patakbanteng, Dieng, Sikunang, Campursari, Sembungan (masuk area Wonosobo), ditambah Desa Diengkulon, Karangtengah, Kepakisan , Kekasiran (Banjarnegara). “Sepuluh desa itu yang berpotensi menimbulkan sampah cukup banyak,” jelasnya.

Hasil penelitiannya pada 2015. Desa-desa tersebut memroduksi sampah sekitar 500 kilogram – 1 ton perhari. Sehingga dalam seminggu, rata-rata dihasilkan sekitar 5,2 ton sampah. “Taruhlah kita turunkan lagi rasionya, jadi ketemu rata rata sampah yang menimbun sekitar 4,5 ton per pekan.  Jika tidak cepat disiasati, tentu bakal membentuk gunungan sampah,” ujar Tafrikhan.

Oni berharap, ke depan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mampu  duduk bersama membahas berbagai persoalan Dieng. Selain tidak adanya TPA, toilet bagi pengunjung juga minim. Pantauan dia, toilet yang dibangun Pemkab Wonosobo hanya berjumlah 4 toilet. Dua toilet di Dieng Theater, dan 2 toilet lagi di terminal bawah (dekat telaga warna). Selain itu, ketersediaan kantong parkir dan pengaturan arus kendaraan besar juga perlu diperhatikan.

“Dengan toilet hanya 4 apakah cukup?. Sementara yang berkunjung sampai 3.000 orang per pekan,” ujarnya. (cr2/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Penataan PKL Sukorejo Jadi Sorotan

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Penataan ruang di wilayah Kecamatan Singorojo menjadi bahasan utama dalam temu alumni angkatan SMP Negeri 1 Sukorejo dari angkatan 1968-1979. Terutama menyoal penataan...

Gubernur Borong Sarung Batik Pekalongan

PEKALONGAN - Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo memborong batik di beberapa kios International Batik Center (IBC) Kabupaten Pekalongan, Rabu (14/6/2017). Kedatangan gubernur di sentra batik tersebut...

Mengunjungi Kampoeng Djadhoel Rejomulyo Semarang

Kampung Batik Tengah, Rejomulyo, Semarang Timur melakukan rebranding. Warga setempat menjadikan wilayahnya sebagai Kampoeng Djadhoel. Di sini, warga memvisualisasikan sejarah Semarang dalam lukisan mural...

Cetak Wirausahawan, JNE Hadirkan Pakar Bisnis

Semarang– Menginjak usianya yang ke 27 tahun sebagai perusahaan ekspedisi, JNE merasa turut dibesarkan oleh bisnis e-commerce.Pertumbuhan e-commerce yang semakin pesat membuat JNE terusmelebarkan sayap, baik dari segi pengembangan produk maupun infrastruktur. Salah satunya dengan penambahan titik layanan, mulai dari kota besar sampai kabupaten hingga kecamatan di seluruh Indonesia untuk men dekatkan dan melayani pengguna jasa pengiriman. Hal ini melatarbelakangi keinginan JNE untuk turut berkontribusi bagibisnis e-comerce di Indonesia. Salah satunya adalah menggelar workshop kewirausahaan di berbagai daerah. Setelah Mei lalu menggelar workshop di Sragen, JNE melanjutkan gawenya di Kabupaten Sukoharjo. Kali ini JNE...

Gereja Harus Punya Sense of Belonging

SEMARANG – Ratusan pendeta anggota Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat  (GPIB) mengikuti acara Konsultasi Teologi GPIB 2017 dan Peringatan 500 tahun Reformasi Gereja...

Libur Panjang Penjualan Elektronik Meningkat

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Libur panjang Lebaran, berdampak baik dalam peningkatan penjualan produk elektronik. Karena itulah, sebagai apresiasi kepada pelanggan, Global Elektronik akan menggelar Midnight Sale pada...