Ratusan Petani Surokonto Tuntut Penangguhan

312
TUNTUT PEMBEBASAN: Para petani Surokonto Wetan berdemo di depan kantor Pengadilan Tinggi Jateng, Senin (27/3). (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUNTUT PEMBEBASAN: Para petani Surokonto Wetan berdemo di depan kantor Pengadilan Tinggi Jateng, Senin (27/3). (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ratusan massa yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Surokonto Wetan (PPSW) Kabupaten Kendal, untuk kali kedua menggelar unjuk rasa di depan Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Tengah, Senin (27/3). Mereka menuntut pembebasan sesepuhnya, yakni Nur Aziz, Sutrisno Rusmin dan Mujiono yang ditahan.

Penahanan itu sendiri dilakukan setelah Pengadilan Negeri (PN) Kendal sudah memvonis ketiganya dengan pidana masing-masing selama 8 tahun penjara dan denda masing-masing Rp 10 miliiar. Ketiganya dianggap terbukti bersalah menyerobot lahan milik Perhutani KPH Kendal. Selain itu, dianggap melanggar Pasal 94 ayat 1 huruf a UU RI No 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Berbeda dari aksi sebelumnya, aksi kali ini lebih banyak karena ada dukungan dari sejumlah aktivis dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), YLBHI-LBH Semarang, PBHI Jawa Tengah dan LRC KJ-HAM Jateng.

Sejumlah banner dan pesan aksi juga dibentangkan dalam spanduk dan dikalungkan melilit leher, di antaranya berisi kata-kata ’Kukung Siji, Kukung Kabeh, Surokonto Wetan Melawan’, lengkap dengan gambar tangan diborgol, jangan biarkan tentara berkuasa. Para petani wanita juga terlihat mengenakan caping bertuliskan ’Tolak Perhutani’.

Sebagaian pendemo ada yang mengenakan kaus khusus dibelakangnya bertuliskan pesan moral dan gambar seorang petani, yakni ’Wong tani ra keno ninggal tanine, macul ngrumput gawean saban dinone, panjang umur perlawanan, Surokonto Wetan’. Selama demo berlangsung puluhan Polwan dari Polda Jateng dan sejumlah panitera PT Jateng juga terlihat berjaga ketat, salawat nabi juga terus didengungkan oleh petani wanita.

Koordinator aksi Muhayat menyatakan untuk kali kedua kalinya datang ke PT Jateng, agar ketiga sesepuhnya dikabulkan penangguhan penahanannya. ”Kami mohon kepada bapak dan ibu majelis hakim agar penangguhan penahanan dikabulkan, karena bila ditahan itu memberatkan dan memukul hati petani Surokonto Wetan,” kata Muhayat penuh semangat.

Dia menyampaikan bahwa pertimbangan majelis hakim yang menyatakan kalau ketiga sesepuhnya akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan dianggap bisa merusak hutan, merupakan pertimbangan tidak tepat, sehingga pihaknya keberatan.

”Tuntutan kami bukan main-main, kami akan bertindak apa pun, karena kami benar, arogan atau anarkis ada sebab dan akibat, ‎kami akan berbuat lebih nekat lagi. Kalau tuntutan kami tidak diindahkan, ataupun tidak disetujui, beri kejelasan karena kami akan selalu kooperatif,” tandasnya.

Tak berapa lama berorasi, para pendemo diperbolehkan ada perwakilan yang masuk, kemudian diterima langsung oleh dua humas PT Jateng, Eddy Risdianto dan Dwi Prasetyanto. Dalam audiensi itu, keduanya memastikan kalau aspirasi petani sudah disampaikan ke majelis hakim yang memeriksa perkara itu. Namun demikian keduanya belum mengetahui kepastian diterima atau ditolak permohonan itu.

”Sampai detik ini, kami juga belum dapat jawaban dari majelis hakim, bahkan Ketua PT Jateng sekalipun tidak punya kewenangan memaksa putusan itu, semua kewenangan majelis hakim yang memeriksa perkara itu, kami sebagai humas tak bisa menyampaikan lebih,” kata Eddy Risdianto. (jks/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here