Nyepi, Umat Hindu Sucikan Jiwa

Umat Hindu Gelar Melasti

527
USIR ROH JAHAT: Umat Hindu Kota dan Kabupaten Magelang mengusung patung Bhuta Yajna dalam pawai ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi di Pura Wira Buwana Akmil, Senin (27/3). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
USIR ROH JAHAT: Umat Hindu Kota dan Kabupaten Magelang mengusung patung Bhuta Yajna dalam pawai ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi di Pura Wira Buwana Akmil, Senin (27/3). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

MUNGKID – Umat Hindu di kota dan Kabupaten Magelang sudah memulai rangkaian Nyepi. Sejak Minggu (26/3) lalu, ratusan umat Hindu menggelar ritual Melasti atau mensucikan diri di Tuk Mas Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Sementara Senin (27/3), digelar pawai ogoh-ogoh sebagai simbol mengusir roh-roh jahat.

Pawai ogoh-ogoh menempuh rute dari depan halaman Pemkot Magelang menuju Pura Wira Buwana Akademi Militer. Sekitar 100 umat Hindu mengusung patung Raksasa Bhuta Yajna untuk melepas segala macam bala bencana.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Magelang sekaligus Kapolsek Magelang Tengah, AKP I Gede Suarti, kepada Radar Kedu, Senin (27/03) mengatakan, pawai ogoh-ogoh menempuh Route Start arak – arakan dari depan halaman Pemkot Magelang menuju Pura Wira Buwana Akmil Desa Banyurojo Kecamatan Mertoyudan Magelang, yang diikuti sekitar 100 orang.

“Pawai ogoh-ogoh sebagai bagian dari tradisi Hindu, kami kenalkan kepada masyarakat. Selain itu, tujuan pawai ini adalah untuk mengusir roh-roh jahat di sekitar kita,” beber Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Magelang yang juga Kapolsek Magelang Tengah AKP I Gede Suarti.

Suarti menjelaskan, sebelum pawai ogoh-ogoh, umat Hindu melaksanakan upacara mecaru yaitu upacara persembahan yang ditujukan untuk menjaga keharmonisan dengan alam. “Pawai mengusung Bhuta Yajña yaitu didahului pula Tawur Kesanga mengembalikan atau membayar, mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. Tawur kesanga juga berarti melepaskan sifat–sifat serakah yang melekat pada diri manusia,” kata Suarti.

Sesampainya di Pura Wira Buwana Akmil, dilanjutkan sembahyang di dalam pura sampai pukul 20.00 WIB. “Acara puncak Nyepi pada hari Selasa 28 Maret 2017 mulai pukul 06.00 hingga Rabu pukul 00.00 WIB. Di mana, umat Hindu melakukan catur brata,” ujarnya.

Sementara itu, meski diguyur hujan, prosesi Melasti berlangsung khidmat. Rangkaian dimulai dengan arak-arakan membawa sesaji dan ornamen-ornamen khas Hindu, dengan iringan gamelan.

Sebelum upacara digelar, seluruh umat Hindu melakukan sembahyang di Pura Wirabuana, kompleks Akademi Militer (Akmil). “Melasti disimbolisasikan dengan labuhan sesaji ke laut serta menyucikan arca, pratima, nyasa, dan pralingga sebagai wujud atau Sthana Ida Sang Hyang Widi Wasa dengan segala manivestasi-Nya. Tapi, karena di sini tidak ada laut, kita laksanakan di Tuk Mas ini,” kata Dewan Pakar Cendekiawan Parisada Magelang, I Gede Suardiasa.

Penyucian diri, sambung Gede, bertujuan agar alam raya beserta isinya di dunia, terjaga kelestariannya. Juga agar dijauhkan dari segala malapetaka.

Gede melanjutkan, tepat saat pelaksanan Nyepi, umat Hindu tidak boleh melakukan empat hal (Catur Brata). Yaitu, menyalakan api (amati geni), aktivitas kerja (amati karya), bersenang-senang (amati lelanguan), dan bepergian (amati lelungaan).

Dalam kesenyapan hari suci itu, menurut Gede, umat Hindu melaksanakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri dan intisari kehidupan semesta. “Selain itu, umat juga melaksanakan puasa dan tidak berkomunikasi, serta tidak tidur.” (cr3/vie/ton/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here