Mayoritas Guru Minim Kreativitas

1161
PELATIHAN : Puluhan guru di MTs Miftahul Ulum, Mranggen, Demak mengikuti pelatihan yang digelar USAID Priority Jateng, Senin (27/3) kemarin. (AHMAD ABDUL WAHAB/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
PELATIHAN : Puluhan guru di MTs Miftahul Ulum, Mranggen, Demak mengikuti pelatihan yang digelar USAID Priority Jateng, Senin (27/3) kemarin. (AHMAD ABDUL WAHAB/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Inovasi dan kreativitas mengajar mayoritas guru di Indonesia, masih minim. Sehingga praktik yang diiplementasikan kepada anak didiknya hanya sebatas metode kuno. Selain monoton, metode tersebut dikatakan sudah tidak relevan dengan tantangan pendidikan di era modern ini.

“Sehingga pengembangan potensi guru harus ditingkatkan, supaya pembelajaran tidak sebatas ceramah saja, termasuk penilaian juga. Makanya kami menggelar pelatihan terhadap puluhan guru di MTs Miftahul Ulum, Mranggen, Demak,” kata Fasilitator United State Agency International Development (USAID) Priority Jateng, Muhammmad Shofian, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/3) kemarin.

Padahal, banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru agar pembelajaran dapat berlangsung interaktif dan kooperatif. Pemanfaatan lingkungan sekitar misalnya, merupakan salah satu media pembelajaran tetapi belum dimaksimalkan oleh guru.

“Fasilitas sarpras cukup berperan, tetapi tak juga memanfaatkan lingkungan sekitar. Padahal pengetahuan ekosistem, bisa diperoleh dari halaman sekolah. Sedangkan pelajaran statistik, guru bisa mengajarkan anak-anak menghitung jumlah motor di jalan raya,” ujarnya.

Ditambahkan, penataan ruang dan kelas pun masih bersifat tradisional. Artinya pola mindset guru harus diubah. Misalnya, bangku kelas masih familiar dengan tatanan yang rapi dan berurutan dari depan ke belakang. Padahal, penataan tersebut menyebabkan keaktifan murid rendah. “Masih seperti kursi di bus. Maka dari itu pendidikan kita masih kalah bersaing dengan negara lain khususnya ASEAN,” imbuhnya.

Untuk memahami prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan kualitas belajar siswa, pelatihan sendiri dilangsungkan selama 4 hari (25, 27, 28 Maret dan 1 April 2017). Dengan adanya pelatihan semacam itu, diharapkan pengelolaan kelas lebih efektif, selain peran siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar lebih baik. “Selain itu, guru harus lebih inovatif lebih kreatif lagi dalam menggali potensi yang dimiliki setiap siswa,” kata Ketua pelaksana kegiatan tersebut, Sri Utami.  (mg28/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here