Madarasah Tidak Kalah dengan Sekolah umum

521
SOSIALISASI: Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Wonosobo Panut, saat menjadi pemateri dalam sosialisasi UAMBN, Senin (27/3). (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)
SOSIALISASI: Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Wonosobo Panut, saat menjadi pemateri dalam sosialisasi UAMBN, Senin (27/3). (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)

WONOSOBO – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo Muhtadin sangat optimistis siswa lulusan lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag memiliki kualitas sama dengan lulusan sekolah-sekolah umum. Dasar keyakinannya, selain adanya UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tahun 2003 yang menjamin kesetaraan antara pendidikan madrasah dan sekolah umum, Kemenag juga memiliki alokasi anggaran yang tidak kalah besar untuk sektor pendidikan.

“Jadi sudah tak ada alasan lagi, sekolah sini lebih unggul atau situ lebih unggul. Negara memandang sama dalam penyelenggaraan pendidikan,” jelas Muhtadin saat memberikan sambutan di acara sosialisasi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) tingkat MTS di salah satu rumah makan di Kecamatan Garung, Senin (27/3).

Ia menjelaskan, Kemenag merupakan kementerian dengan alokasi dana terbesar ketiga dari seluruh kementerian yang ada. Dari total alokasi anggaran yang ada, sebanyak 87 persen terkonsentrasi ke sektor pendidikan. Besarnya anggaran yang diberikan pemerintah, diharapkan mampu mendongkrak semangat tenaga didik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikannya di sekolah/madrasah.

Berkenaan dengan UAMBN untuk MTs yang akan dilaksanakan, Muhtadin menyampaikan beberapa target yang harus tercapai. Yaitu, UAMBN mampu memberikan keluaran positif bagi siswa. Hadirnya UAMBN diharapkan mampu memberi penguasaan materi yang lebih baik. Dan yang terakhir peningkatan pengamalan nilai dari materi yang telah diajarkan.

“Jumlah siswa meningkat. Penguasaan materi kebih baik. Pengamalannya juga meningkat,” harapnya di hadapan kepala dan guru MTS se-Wonosobo.

Kasubag TU Kemenag Wonosobo Cahyo menyatakan, selain kualitas pendidikan, pola manajemen yang unik membuat masyarakat tertarik untuk memasukkan anaknya di lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag. “Penguasaan materi, saya pikir tidak kalah dengan sekolah umum. Buktinya nilai hasil ujian anak-anak kami juga mampu bersaing,” katanya.

Selain dari sisi kualitas, jumlah siswa madrasah tiap tahun terus mengalami peningkatan. Ada beberapa alasan terkait hal ini. Yang pertama masyarakat Wonosobo memiliki semangat religiusitas yang tinggi. Selanjutnya masyarakat menghendaki pola penyelenggaraan pendidikan yang dekat dengan warga. “Mayoritas madrasah dibangun dengan iuran warga, sehingga warga pun tidak sungkan untuk terlibat aktif,” jelasnya. (cr2/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here