Lika-Liku Edy Supratno Mencari Jejak ”Penemu Kretek”

Buktikan Djamhari Bukan Sosok Mitos

720
BUKAN MITOS: Buku Djamhari: Penemu Kretek hasil penelusuran Edy Supratno (kedua dari kiri) saat dibedah di Library Cafe John Dijkstra Kota Lama Semarang, Sabtu (25/3) lalu. (PRATONO/RADAR SEMARANG)
BUKAN MITOS: Buku Djamhari: Penemu Kretek hasil penelusuran Edy Supratno (kedua dari kiri) saat dibedah di Library Cafe John Dijkstra Kota Lama Semarang, Sabtu (25/3) lalu. (PRATONO/RADAR SEMARANG)

Dalam sejarah industri rokok, Djamhari sering disebut sebagai penemu rokok kretek. Tapi di tempat asalnya, Kudus, tak ada jejak yang ditinggalkan. Sempat dianggap hanya sosok rekaan.

PRATONO

KOTA Kudus menyimpan catatan panjang tentang bisnis dan industri rokok di tanah air. Sejumlah nama tercatat sebagai tokoh yang sukses membangkitkan industri rokok. Seperti Nitisemito yang dikenal sebagai pengusaha rokok di masa lalu yang sukses dan membuka pintu bagi perkembangan industri rokok modern.

Satu nama lagi yang selalu muncul dalam cerita tutur tentang rokok di Kudus: Djamhari. Djamhari selalu diceritakan sebagai penemu rokok jenis kretek, rokok yang memiliki campuran cengkih. Rokok yang ketika dibakar akan mengeluarkan suara kretek… kretek…

Nama Djamhari ini menarik perhatian Edy Supratno, mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus. Meski namanya sering disebut, tapi tak pernah ditemukan jejak peninggalan Djamhari di Kudus. Bahkan para pelaku industri rokok di Kudus tak mengetahui di mana keluarga atau keturunan Djamhari berada.

Edy menceritakan, sejumlah literatur hanya menceritakan Djamhari sebagai penemu racikan kretek. Penemuan yang tidak disengaja. Suatu saat Djamhari merasakan dadanya sesak. Ia kemudian mengoleskan minyak cengkih ke dadanya hingga terasa hangat dan sesaknya berkurang. Lewat eksperimen kecil-kecilan, ia mencampur tembakau yang diisapnya dengan rajangan cengkih. Ternyata ia merasakan sesak di dadanya berkurang. Hasil eksperimen Djamhari ini kemudian laris dibeli orang-orang lain.

”Djamhari ditulis dari buku ke buku, ceritanya mengalir dari mulut ke mulut, tapi belum pernah ada yang menjelaskan seperti apa sosoknya. Tidak ada referensi tentang keluarga dan siapa Djamhari itu?” jelas Edy dalam bedah buku karyanya yang berjudul ’Djamhari: Penemu Kretek’ di Library Cafe John Dijkstra Kota Lama Semarang, Sabtu (25/3) lalu.

Berdasarkan literatur yang ada selama ini, nama Djamhari sebagai penemu kretek kali pertama dimunculkan oleh B van Der Reijden dalam buku ’Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar de Arbeidstoestanden in Industrie an Stroojes en Inheemsche Sigaretten op Java: West Java’ yang terbit pada 1934. Reijden adalah pengawas tenaga kerja untuk Jawa dan Madura yang diminta Pemerintah Hindia Belanda meneliti keberadaan industri rokok di Indonesia. Bisa disebut, Reijden yang memopulerkan nama Djamhari. Referensi awal menyebutkan Djamhari diperkirakan meramu kretek antara 1870-1880 dan meninggal pada 1890 di Kudus.

”Sayangnya, Reijden tidak menyertakan nama narasumber yang menyebutkan bahwa Djamhari lah yang menemukan kretek di Kudus,” jelas mantan jurnalis Jawa Pos Radar Kudus ini.

Nama Djamhari juga muncul pada buku berjudul ’Indonesia Sekarang’ yang ditulis Parada Harapan (1952) dan ’Tingkah Laku Agama, Politik dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok Kudus’ karangan Lance Castle (1982). Hanya saja, sebutan Djamhari sebagai orang pertama yang menemukan kretek masih bisa diperdebatkan karena Lance Castle menyebutkan tradisi mencampur tembakau dengan cengkih sudah ada sejak abad 17, jauh sebelum masa keberadaan Djamhari.

”Djamhari sebagai penemu kretek masih bisa diperdebatkan karena tradisi mencampur tembakau dan cengkih sudah ada sejak abad 17. Saya cenderung berpendapat, Djamhari adalah orang yang berjasa dalam memopulerkan rokok kretek,” tutur Koordinator Pegiat Sejarah (KPS) Semarang Rukardi yang menjadi narasumber dalam bedah buku tersebut.

Pada 1986, saat Menteri Dalam Negeri saat itu Supardjo Rustam akan meresmikan Museum Kretek di Kudus, ia ingin Djamhari dapat ditemukan karena pengaruhnya sangat besar terhadap kretek. Tapi ketika dicari keberadaan keluarganya, tak ada yang menemukan. ”Bahkan ada yang berpendapat kalau Djamhari ini hanya sosok rekaan. Sosok mitos,” jelas Edy yang dilahirkan di Tanjung Seri, Asahan, Sumatera Utara pada 24 Maret 1975 ini.

Sulitnya melacak di mana keberadaan Djamhari atau keturunannya, membuat Edy ingin membuat penelitian yang menelusuri jejak Djamhari. Pencarian yang tak mudah. Ia butuh waktu hingga sekitar 2 tahun untuk membuktikan bahwa Djamhari bukan mitos.

Minimnya data awal membuat Edy kerja keras membuka arsip-arsip lama. Tak ada catatan yang didapatnya di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kudus. Lulusan Magister Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini harus ngubek-ubek koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jakarta untuk memeriksa lembar demi lembar koran De Locomotief dan Slompret Malaijoe terbitan antara 1860-1890. Tak ditemui nama Djamhari.

Ia bahkan ke National Archief di Den Haag Belanda untuk mencari data-data pada masa penjajahan Hindia Belanda 1860-1890. Mulai dari data jamaah haji di Kudus pada masa itu hingga catatan pemerintahan. Hasilnya tetap nihil.

Edy selanjutnya mengecek satu per satu informasi yang didapat dari tokoh-tokoh yang pernah berkecimpung di bisnis rokok. Ada dokumen yang menyebutkan Djamhari adalah pengurus Sarekat Islam (SI) Prawoto yang tinggal di Langgardalem. Ada pula yang mengatakan kemungkinan Djamhari ada di Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dan dikuburkan di sana. Tapi ketika diteliti lebih lanjut, tetap tak ada titik terang. Bahkan Edy yang agak putus asa sempat mencoba mencari di mana lokasi makam Djamhari lewat ’penerawangan gaib’ paranormal. Tetap tak ketemu.

Titik-titik terang mulai muncul ketika Edy mendapatkan informasi Djamhari berasal dari Tasikmalaya. Informasi tersebut didapatkan dari Richanah atau yang akrab disapa Kanah. Perempuan tua berusia hampir 90 tahun yang sudah tak mampu berjalan ini kemudian diketahui sebagai anak dari Bardjanjie, salah seorang sepupu Djamhari yang tinggal di Kudus.

Kanah menyuruh Edy mencari Wak Ahmad di Jalan Kopo Bandung yang paham dengan silsilah Djamhari. Tak ada alamat jelas. Bahkan Kanah tidak mengetahui apakah Wak Ahmad masih hidup atau sudah meninggal. Tapi berdasarkan informasi yang kerabat Kanah, didapat alamat Ahmad di Bandung.

Ketika bertemu Ahmad, sosok misterius Djamhari mulai terkuak. Ahmad memiliki catatan silsilah keluarga besar Djamhari. Catatan yang dibuat Ahmad pada 1952 ketika ingin melacak dan menjalin kembali tali silaturahmi dengan saudara-saudaranya yang masih tinggal di Kudus. Ahmad adalah keponakan Djamhari, anak dari Sukirah, adik Djamhari. ”Buku silsilah ini yang meyakinkan saya bahwa Djamhari yang ada di Tasikmalaya merupakan Djamhari yang disebut sebagai penemu kretek dari Kudus,” jelas suami dari Dwi Yuliastuti ini.

Dari data tersebut, Edy berhasil menemui 2 anak Djamhari yang masih hidup. Yakni anak ke-10 bernama Kardini dan anak ke-11 bernama Suaedah. Dari cerita keduanya, sosok Djamhari semakin terang. Djamhari tidak meninggal pada 1890 seperti yang diyakini selama ini. Djamhari lahir sekitar 1870 dari pasangan Mirkam alias Haji Somad dengan Yawijah alias Hk Aisyah. Ia dan keluarga meninggalkan Kudus, pindah ke Cirebon selanjutnya ke Tasikmalaya sekitar 1918-1919.

Edy menduga, kepindahan Djamhari dan keluarganya tak lepas dari kerusuhan rasial yang melanda Kudus pada Oktober 1918. Pemerintah Hindia Belanda saat itu menangkapi pimpinan dan anggota Sarekat Islam yang dianggap bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan. Djamhari yang menjadi pengurus SI Distrik Prawoto diduga mengungsi untuk menghindari penangkapan. Di Cirebon dan selanjutnya di Tasikmalaya, Djamhari tidak lagi berbisnis rokok, tapi menjadi penjual pakaian.

Selama di Tasikmalaya, Djamhari tidak bisa lepas dari kebiasaan sejak di Kudus. Yakni mengisap rokok tingwe alias ngelinting dewe. Ia selalu mencampurkan rajangan cengkih pada tembakau yang akan diisap. Racikan yang selama ini disebut sebagai kretek.

Djamhari meninggal dunia pada Sabtu, 9 Juni 1962 malam. Sebagaimana tradisi Jawa, jika waktu sudah lepas dari Magrib, maka sudah masuk hari berikutnya. Sehingga tanggal kematian yang terukir pada nisan Djamhari di Kompleks Pemakaman Keluarga Abdul Somad di Tasikmalaya adalah 10 Juni 1962.

Dari penelusuran Edy yang telah dibukukan ini, akhirnya banyak anggota keluarga Djamhari yang bisa menjalin kembali silaturahmi dengan saudara yang telah lama terputus. ”Dan yang pasti, dari penelitian ini membuktikan bahwa Haji Djamhari bukan sosok mitos,” tegas Edy. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here