Jembatan Utama Jebol, Aktivitas Warga Terganggu

1001
JEBOL : Petugas BPBD Kabupaten Semarang dan Pemdes Mluweh saat meninjau lokasi jebolnya jembatan utama, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JEBOL : Petugas BPBD Kabupaten Semarang dan Pemdes Mluweh saat meninjau lokasi jebolnya jembatan utama, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Derasnya aliran Sungai Loning di Desa Mluweh Kecamatan Ungaran Timur membuat jembatan yang melintas di atas sungai tersebut jebol. Jembatan yang memiliki panjang 40 meter dan lebar 4 meter menghubungkan dua dusun, yaitu Dusun Mluweh wilayah RT 03 RW 04 dan RT 06 RW 04 Dusun Karanggawang. Bagian jembatan yang jebol mencapai 10 meter. Akibatnya aktivitas warga di dua dusun tersebut terganggu.

Kades Mluweh, Asariyono mengatakan bahwa derasnya air Sungai Loning telah menggerus tanah di sekitar pangkal jembatan yang terletak di wilayah RW 4 tersebut. “Akibatnya, pondasi atau talud jembatan ambrol seluruhnya. Apalagi, beberapa hari ini hujannya lebat sehingga aliran sungai sangat deras,” kata Asariyono, Senin (27/3) kemarin.

Warga harus memutar sejauh dua kilometer untuk dapat mengakses dua dusun tersebut. Beruntung kejadian tersebut tidak memakan korban jiwa. Meski, reruntuhan jembatan yang ambrol tersebut, juga menimpa pipa saluran air bersih warga setempat. Akibatnya aliran air bersih 200 warga di dua dusun tersebut terganggu. “Ya warga kami akhirnya membeli air bersih, karena pipanya juga pecah,” katanya.

Dikatakannya lebih lanjut, ambrolnya jembatan tersebut terjadi sekitar pukul 07.00. “Luapan air ini dari Hutan Penggaron,” katanya.

Diakui Asariyono, jembatan tersebut memang bangunan lama. Meski begitu, keberadaan jembatan sangat vital bagi warga desa setempat. Setiap harinya, ratusan warga masih memanfaatkan jembatan tersebut untuk akses transportasi baik menggunakan roda dua maupun empat. “Jembatan baru ada, tapi jembatan lama tetap dipakai. Kalau ada warga yang punya hajatan dan terpaksa menutup akses jembatan baru, sehingga warga memakai jembatan lama,” katanya.

Beberapa warga juga mengaku terganggu dengan putusnya jembatan tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Margono, 54, warga Dusun Karanggawang. Setiap harinya ia menggunakan fasilitas jembatan tersebut menuju ke kebun miliknya. “Setiap harinya ya lewat jembatan itu. Lha mau lewat manalagi?” katanya.

Putusnya jembatan tersebut membuat dirinya harus memutar dua kilometer menuju ke kebun miliknya yang berada di dusun sebelah. Biasanya melalui jembatan tersebut, ia hanya perlu waktu 10 menit menuju ke kebun.

Dalam hal ini, pihak Pemdes Mluweh sudah melaporkan ke pihak BPBD Kabupaten Semarang. Pada hari yang sama, Senin (27/3) lalu, petugas dari BPBD Kabupaten Semarang langsung meninjau lokasi. Pihak Pemdes Mluweh berharap penuh atas perhatian Pemkab Semarang untuk memperbaikinya.

Kepala BPBD Kabupaten Semarang Heru Subroto mengatakan bahwa penanganan jembatan putus di Desa Mluweh menjadi prioritas karena fasilitas umum. Namun, pihaknya masih akan menghitung kebutuhan anggaran perbaikan jembatan tersebut. Mengingat semakin minimnya dana tak terduga, menyusul banyaknya kejadian bencana di Kabupaten Semarang sejak awal Januari 2017.

“Fasilitas umum selalu menjadi prioritas untuk ditangani. Kami kaji dan kami hitung dulu, kira-kira kebutuhannya berapa, mengingat dana TT (tak terduga) tinggal Rp 33 juta,” kata Heru.

Hal yang akan segera dilakukan, imbuh Heru, yaitu memperbaiki pipa saluran air bersih yang pecah akibat tertimpa reruntuhan jembatan. Supaya warga setempat tidak perlu lagi membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Air bersih juga vital. Kalau tidak segera ditangani, kasihan warga harus beli air. Padahal, setiap harinya mereka harus menggunakan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya,” katanya. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here