Bermula dari Hobi, Edi Cahyono Kini Merup Sukses

Mulanya Dicibir, Kini Sewa Perahunya Laris Manis

648
MENANTANG: Salah satu tim arung jeram di Sungai Serayu. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)
MENANTANG: Salah satu tim arung jeram di Sungai Serayu. (Ahmad zainudin/jawa pos radar kedu)

Anda suka adventure? Bisa jadi, Anda akan terinspirasi kisah sosok satu ini: Edi Cahyono, si petualang asal Desa Campursari, Kecamatan Kertek, Wonosobo. Ia kini sukses berkat hobinya. Bisnisnya di bidang penyedia jasa olahraga arung jeram melejit. Omzetnya pun jutaan rupiah.

ZAIN ZAINUDIN, Wonosobo

PRIA berusia 47 tahun itu masih tampak energik. Ia antusias ketika berdiskusi soal wisata dan petualangan. Maklum, hobinya memang traveling. Pergi ke sana ke mari, ke gunung, menyusuri sungai, pantai, dan sebagainya. Dari semua itu, Edi paling suka mengunjungi tempat wisata baru, untuk climbing dan rafting. Ia juga kerap mengunjungi tempat tempat wisata ekstrem. Untuk memenuhi hasrat adventure-nya, Edi bahkan sampai rela menjual perabot di kamar kos, ketika masih sekolah.

“Gila banget pokoknya. Wes, pokoknya hidupku itu main,” katanya, berkelakar. Menginjak usia 30-an, Edi mengaku mulai merencanakan bisnis yang lebih serius. Penghidupannya dari guide freelance, tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi hobinya. Maka, tepat pada 1999, ia melirik bisnis sewa perahu arung jeram. Sasarannya, para pelancong yang ingin rafting di Sungai Serayu.

“Saya gabung dengan Kompas Adventure tahun 1999. Kali pertama, seperti usaha kebanyakan, dicibir dan segala macam. Padahal, cuma itu memang bisnis yang sesuai dengan hobi saya,” kenangnya. Karenanya, meski cibir, Edi tetap melakoni.

“Promosi terus dilakukan, dari even ke even. Sampai olahraga ini dikenal masyarakat luas,” kata mantan Ketua Federasi Arung Jeram Indonesia Wonosobo, itu.

Bisnis yang ditekuninya, lambat laun merangkak, kendati awalnya dianggap tidak lazim. Kalaupun ada yang tertarik, hanya satu dua saja. Mereka masih mencibir, persewaan perahu arung jeram tak akan laku, karena biaya sewanya terlalu mahal.

Namun, Edi tidak pernah menyerah. Sebaliknya, promosi terus digencarkan. Hingga akhirnya, ia dan tim mampu meyakinkan peminat, bahwa arung jeram Sungai Serayu sangat safety dan “seksi”. Olahraga arung jeram diyakini mampu memberi pengalaman tak terlupakan bagi siapapun yang pernah mencoba.

Dikatakan, arung jeram di Wonosobo, mulai booming pada 2014. Sejak saat itu, setiap akhir pekan, sedikitnya ada 100 paket perahu yang dipesan peminat. “Satu perahu minimal 4 orang, maksimal 6 orang. Satu orang dikenakan Rp 180 ribu untuk trip 2 dan Rp 320 ribu untuk trip 1. Itung sendiri kalau seratus paket,” katanya.

Area Serayu terbagi dalam 2 trip. Trip 1, start dari Blimbing Krasak Selomerto sampai Singomerto, Banjarnegara. Jarak tempuhnya, 26 km. Rute ini khusus ketika musim kemarau. Sementara trip dua, start Singomerto sampai Selomanik Banjarnegara. Rute ini berjarak tempuh 14 km, khusus ketika musim hujan.

Dalam dunia arung jeram, Serayu masuk grade 3 plus. Artinya, sungai yang menyandang kategori paling menantang di Jateng. Masih ada yang lebih menantang, yakni di Sungai Progo, masuk grade 4 plus, berlokasi di Yogyakarta.

“Kategori sungai untuk arung jeram, terbagi dalam 6 grade. Sungai di Jateng, paling tinggi baru grade 3 plus. Kalau mau nyari yang lebih, ada juga, tapi di luar Jawa,” katanya.

Keunggulan lain, Serayu merupakan sungai yang bisa digunakan sepanjang waktu. Tak peduli musim penghujan maupun musim kemarau. Berbekal sungai terbaik, baru-baru ini, banyak atlet muda Wonosobo yang berprestasi pada cabang olahraga ini. “Atlet kita ada yang dapat juara 3 di PON 2016. Jadi sudah cukup lengkap. Kita punya sungai terbaik, punya juga atlet berpotensi. Olahraga ini patut dikembangkan ke depannya.” (*/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here