8000 Rumah Tak Layak Huni Belum Tertangani

1484
MEMPRIHATINKAN : Ratusan rumah tidak layah huni di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, kondisinya sangat memprihatinkan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMPRIHATINKAN : Ratusan rumah tidak layah huni di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, kondisinya sangat memprihatinkan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Lantaran bencana banjir rob di dua kecamatan, yakni Kecamatan Wonokerto dan Tirto, Kabupaten Pekalongan, selama 10 tahun terakhir, belum tertangani dengan maksimal. Berdasarkan database di Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan, jumlah rumah tidak layak huni di Kabupaten Pekalongan, khususnya yang berada di daerah bencana rob mencapai 8000 lebih.

Hal itu disampaikan Kabid Pemberdayaan Sosial pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Pekalongan, Rudi Sulaiman, di sela-sela rapat penanganan bencana di ruang kerja Bupati Pekalongan, Senin (27/3) kemarin.

Rudi Sulaiman mengungkapkan bahwa dari pendataan yang dilakukan oleh Dinsosnakertrans Kabupaten Pekalongan sejak 2004, jumlah rumah tidak layak huni mencapai angka 8000-an. Sebagian besar rumah tidak layak huni tersebut, berada di Kecamatan Wonokerto dan Tirto, dan beberapa daerah lain yang tersebar di 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Pekalongan. “Untuk tahun ini, baru tertangani baru 165 rumah tidak layak huni,” ungkap Rudi.

Rudi juga mengatakan bahwa Dinsosnakertrans Kabupaten Pekalongan dalam penanganan rumah tidak layak huni memang agak ketat. Yakni harus memenuhi beberapa unsur atau persyaratan untuk mendapatkan bantuan. Ketiga unsur tersebut, meliputi lantai, dinding dan atap dalam kondisi rusak dan tidak hanya satu rumah. Namun harus berkelompok, lebih dari satu rumah. “Terbatasnya penanganan rumah tidak layak huni, karena minimnya anggaran yang dimiliki oleh Pemkab Pekalongan,” kata Rudi Sulaiman.

Sementara itu, Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, menegaskan bahwa untuk menangani rumah tidak layak huni, telah membuat program Bang Rudi, yakni Ayo Membangun Rumah Sendiri. Program tersebut dibiayai dari uang pribadi, dengan hanya membantu material utama yang dibutuhkan warga. Kemudian warga di sekitar rumah tidak layak huni tersebut, bergotong royong, baik ikut pengadaan material atau tenaga. “Inti dari program Bang Rudi ini, ada kegotongroyongan oleh warga masyakat sekitar. Dan satu tahun berjalan ini sudah 200 rumah yang dibangun, ” tegas Bupati Asip. (thd/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here