Tidar Heritage Foundation Angkat Wisata Spiritual di Magelang

Ingin Wisatawan Tidak Hanya Mampir Borobudur

577
WISATA SPIRITUAL: (kiri ke kanan) Brigjen (Purn) Sutriman, Prof Komaruddin Hidayat, SD Darmono, Prof Budi Susilo Supandji, dan Mayjen (Purn) Bachrul Ulum yang aktif dalam Tidar Heritage Foundation. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
WISATA SPIRITUAL: (kiri ke kanan) Brigjen (Purn) Sutriman, Prof Komaruddin Hidayat, SD Darmono, Prof Budi Susilo Supandji, dan Mayjen (Purn) Bachrul Ulum yang aktif dalam Tidar Heritage Foundation. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Sejumlah tokoh Magelang mendirikan Tidar Heritage Foundation (THF). Mereka ingin mengangkat potensi wisata spiritual di Magelang. Seperti apa?

Wisata spiritual di Indonesia belum tergarap maksimal. Padahal, Indonesia dianggap memiliki kekayaan objek wisata dan budaya yang sarat nilai religius dan sejarah

“Banyak potensi yang membuat Indonesia menjadi pusat dunia dalam menciptakan suasana kondusif dan harmonis, melalui wisata spiritual,” kata salah satu Founder and Board of Trustees, THF SD Darmono di Borobudur International Golf and Country Club, Sabtu (25/3) lalu.

Selain Darmono, THF sebagai yayasan nirlaba juga didirikan Prof Kommarudin Hidayat, Prof Budi Susilo Supandji, Mayjen (purn) Bachrul Ulum  dan Brigjen (purn) Sutriman. Kemudian almarhum Sarwediono serta Hendarman Supandji sebagai pelindung.

Chairman Jababeka Group itu melanjutkan, Indonesia khususnya di Jawa Tengah punya wisata spiritual unggulan seperti Candi Borobudur. Terlebih, candi peninggalan Buddha terbesar di dunia ini merupakan situs warisan budaya dunia yang diakui Unesco. “Candi Borobudur ini memiliki sekitar 1.400 relief dan 431 arca Buddha yang mengelilingi candi. Dan di dalam relief itu, terdapat ajaran-ajaran mulia Buddha,” katanya.

Lalu, Gunung Tidar juga diyakini sebagai pakunya Pulau Jawa. Umat Hindu mempercayai, bahwa Tuhan mengutus Batara Guru ke Gunung Tidar untuk mencegah Pulau Jawa tenggelam oleh samudera. Di sisi lain, yang paling dikenal dari Gunung Tidar, terdapat makam Syaikh Subakir, Kiai Sepanjang, dan Kiai Semar.

“Akan sulit melawan negara lain di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi  yang bisa melawan dan menang adalah pariwisata, ya budaya dan keseniannya,” ujarnya.

Komaruddin Hidayat membenarkan hal itu. Berkompetisi di bidang iptek, Indonesia akan ketinggalan. Tapi ia meyakini, setiap orang menyukai jalan-jalan dan rumah sebagai tempat istirahat saja. Maka bidang pariwisata sangat potensial digarap untuk menggerakkan perekonomian negara dan masyarakatnya.

“Indonesia ini memiliki kekayaan alam dan juga budayanya. Bahkan satu-satunya daerah di Indonesia yang dikepung lima gunung hanya kita (Magelang, red). Banyak sekali cerita atau dongeng di dalamnya,” tambahnya.

Kendati demikian, ia mengamati, semua ini belum terkelola dengan baik. Sehingga, daerah sekitar Magelang justru kerap diuntungkan. Seperti wistawan mengunjungi Candi Borobudur, namun makan dan menginap di Jogjakarta.

“Ini karena nggak ada wisata turunannya,” ujarnya mengistilahkan belum ada tujuan wisata lain yang diketahui wisatawan selain ke Candi Borobudur.

Kata dia, harus ada yang menarik selain Candi Borobudur. Sehingga, wisatawan betah singgah di Magelang. Baik dari keseniannya, homestay ataupun perumahan pedesaan, kuliner, dan wisata untuk mencari ketenangan jiwa.

“Bisa  untuk bimbingan spiritual. Yang Kristen ke seminari, yang Islam diajak ke Ponpes Tegalrejo atau ke Pabelan, lalu Hindu dan Buddha juga ada sendiri. Nah kalau ini dikembangkan, maka Magelang itu jadi satu miniatur Indonesia yang  seperti ini loh, damai.”

Sebagai langkah awal mengenalkan keberagaman budaya dan sejarah di Magelang, THF menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit yang mengangkat lakon Resi Brotonirwoyo saat menerima wahyu roh suci di sekitar Gunung Tidar, tepatnya di Jagalan, Muntilan, Kabupaten Magelang. Dalang yang ditampilkan adalah Jaka Riyanto dari ISI Solo.

THF mengundang sekitar 14 duta besar mancanegara. Diantaranya dari Mongolia, Hungaria, Serbia, Croatia, Laos, Lebanon, Oman, Panama, Filipina, dan Venezuela. Selain itu, pertunjukan wayang berdurasi dua jam itu dihadiri Deputi Menteri Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pemasarang Nusantara, Sekjen Ristek DIKTI, serta tamu undangan lainnya.

Budi Susilo Supandji mengatakan, dubes mancanegara diundang agar mereka bisa bercerita kepada orang lain, setelah kembali ke negaranya masing-masing. Mantan Gubernur Lemhanas RI ini meyakini, wayang memiliki makna kuat dalam menyampaikan pesan-pesan.

“Karena wayang ini sebagai bentuk komunikasi. Di dalamnya sudah disesuaikan dengan budaya Indonesia. Wayang juga memperkuat spiritualitas, dan macam-macam cerita pewayangan bisa membawa persatuan dan kesatuan Indonesia,” tuturnya. (put/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here