Tanggul Atasi Rob di 4 Desa

1153
GROUND BREAKING: Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, didampingi anggota DPR RI, Bisri Romly, Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti, saat melakukan penancapan bambu trucuk, sebagai tanda dimulainya pembangunan tanggul darurat melintang di Desa Mulyorejo, kemarin. (Taufik H/Jawa Pos Radar Semarang)(Taufik H/Jawa Pos Radar Semarang)
GROUND BREAKING: Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, didampingi anggota DPR RI, Bisri Romly, Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti, saat melakukan penancapan bambu trucuk, sebagai tanda dimulainya pembangunan tanggul darurat melintang di Desa Mulyorejo, kemarin. (Taufik H/Jawa Pos Radar Semarang)(Taufik H/Jawa Pos Radar Semarang)

KAJEN – Untuk mengatasi banjir rob yang sering terjadi pada beberapa desa di pesisir yakni Desa Mulyorejo, Jeruksari, Tegaldowo dan Karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Pemkab Pekalongan membangun darurat tanggul melintang, di Desa Mulyorejo. Minggu (26/3) kemarin, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi melakukan penancapan trucuk bambu pertama menandai ground breaking, sebagai tanda dimulainya pembangunan proyek tersebut.

Pembangunan darurat tanggul melintang akan selesai dalam waktu 90 hari kerja, terhitung sejak dimulainya pemasangan bambu trucuk pertama, dan dilanjutkan dengan pengurugan tanah, untuk membuat pondasi.

Rencananya pembangunan berupa darurat tanggul melintang, akan dimulai dari tanggul kanan sungai Sengkarang, sampai dengan tanggul kiri sungai Miduri sepanjang 820 meter, dengan lebar 10 meter dan tinggi 3 meter. Dengan kontruksi berupa tanggul dengan timbunan tanah, diperkuat dengan pancang glugu, trucuk bambu peh dan waring.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pekalongan, Wahyu Kuncoro, mengungkapkan bahwa pembangunan tanggul darurat melintang, akan dibantu tenaga oleh 50 anggota TNI, 60 warga Desa Mulyorejo, Jeruksari, Tegaldowo dan Karangjompo.

Menurutnya anggaran pembangunan tanggul darurat melintang, akan menelan biaya sebesar Rp 2,490 miliar, yang diambilkan dari APBD pada anggaran tak terduga tanggap bencana, dan selesai dalam 90 hari kalender kerja. “Tanggul buangan air akan sejajar dengan tanggul pada sungai Miduri, rencana pembangunan tanggul darurat dari batas pemukiman hingga dengan areal tambak, dan akan dipasang juga mesin pompa penyedot, untuk membuang air rob ke sungai sengkarang,” ungkap Wahyu Kuncoro.

Sementara itu, Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, mengatakan secara teori diatas kertas, dengan adanya pembangunan tanggul darurat melintang, maka akan mengurangi debit air banjir rob, yang menggenangi 4 desa, yakni Desa Mulyorejo, Karangjompo, Jeruksari dan Tegaldowo.

Menurutnya dibangunnya tanggul darurat melintang tersebut, karena banjir rob yang terjadi di empat desa, telah merugikan 12 ribu warga yang berada di 4 desa, dan menggenangi 2.500 rumah warga. Sehingga warga sulit untuk beraktivitas, dan membuat beberapa usaha industri rumahan tutup. “Tanggul darurat melintang ini, kami namakan tanggul gotong royong. Karena dikerjakan dengan cara gotong royong, yakni TNI, Polri dan masyarakat dari 4 desa, yang akan dikerjakan dalam waktu 90 hari kerja,” kata Bupati Asip.

Bupati Asip juga mengatakan bahwa Pemda Kabupaten Pekalongan, tidak mampu untuk mengatasi bencana banjir rob yang ada di dua Kecamatan, yakni Kecamatan Tirto dan Wonokerto, secara sendiri karena anggaran Pemda yang sangat terbatas.

Menurutnya pembangunan tanggul gotong royong tersebut, adalah langkah awal yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Pekalongan, yang diharapkan akan diikuti oleh bantuan dari Pemda Propinsi dan Pemerintah Pusat. “Kalau Pemda Kabupaten Pekalongan tidak melakukan apa pun, terhadap bencana banjir rob. Maka lima tahun kedepan, empat desa di Kecamatan Tirto ini akan tenggelam. Pembangunan tanggul darurat melintang ini, setidaknya bisa mengatasi bencana rob, yang selama 10 tahun terakhir telah membuat sengsara 12 ribu warga,” tegas Bupati Asip. (thd/smu)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here