Ratusan Pesawat Terbang di Nampirejo

560
BARU PERTAMA: Warga mengerumuni microlight sebelum diterbangkan dalam Gebyar Dirgantara Temanggung 2017 di Lapangan Nampirejo Temanggung, Sabtu (25/3). (AHSAN FAUZI/RADAR KEDU)
BARU PERTAMA: Warga mengerumuni microlight sebelum diterbangkan dalam Gebyar Dirgantara Temanggung 2017 di Lapangan Nampirejo Temanggung, Sabtu (25/3). (AHSAN FAUZI/RADAR KEDU)

TEMANGGUNG – Lapangan Nampirejo Temanggung, Sabtu (26/3) lalu terasa mirip menjadi bandara. Berbagai macam pesawat parkir dan terbang mengitari langit Nampirejo. Ribuan masyarakat pun memadati lapangan tersebut untuk menyaksikan berbagai atraksi pesawat yang ada dalam Gebyar Dirgantara Temanggung 2017.

Tapi, pesawat-pesawat yang take off dan landing di Lapangan Nampirejo ini sebagian besar berukuran kecil. Tak bisa ditumpangi. Hanya pesawat model yang dikemudikan ‘pilot’ menggunakan remote control dalam olahraga dirgantara.

Panitia Gebyar Dirgantara Temanggung 2017 Hendro Lukito menjelaskan, festival ini berbagai memperkenalkan berbagai kegiatan kedirgantaraan. Diantaranya paramotor, terjun payung, microlight, aerobatik pitc serta aeromodeling. Festival dirgantara perdana di Temanggung ini diikuti oleh 125 peserta yang berasal dari berbagai daerah, seperti Solo, Semarang, Magelang, Jogjakarta, Cilacap, Purbalingga, Temanggung dan Surabaya.

“Selain untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas, festival ini diharapkan bisa lahir atlet-atlet muda berbakat di ranah olahraga kedirgantaraan,” ucap Hendro di sela acara berlangsung.

Hendro melanjutkan, olahraga kedirgantaraan sebenarnya banyak peminatnya. Namun di Temanggung, hobi semacam ini belum memiliki wadah yang terpadu. Oleh sebab itu, pihaknya berencana akan menjadikan event Gebyar Dirgantara ini menjadi agenda rutin tahunan dengan menambah jenis kegiatan lain, salah satunya gantole.

“Permasalahan di temanggung adalah lapangan. Seharusnya grasstrip standar memiliki panjang runway minimal 300 meter. Sejauh ini, Lapangan Nampirejo yang kami anggap memadai,” ungkapnya.

Hendro menjelaskan, untuk terjun dalam dunia aeromodeling, sebenarnya tidak membutuhkan banyak biaya. Dengan modal minimal Rp 1 juta, sudah bisa menekuni hobi ini. Terdapat tiga macam bahan bakar yang biasa digunakan untuk menerbangkan pesawat mini, yakni baterai, methanol serta nitrogen. “Sebenarnya memang murah, kalau baterai kan tinggal charge. Tetapi kalau bahan bakar methanol dan nitrogen kita harus membelinya paling dekat di Jogjakarta,” ujarnya.

Salah seorang peserta asal Sleman Utara Aeromodeling Club (SUAC) Jogjakarta, Rere,45, mengaku, radius operasi pesawat aeromodeling bisa mencapai 1.000 meter dengan jangkauan terbang bervariasi tergantung kondisi remote control (RC).

“Biasanya saya menerbangkan pesawat ini sekitar 5 sampai 10 menit. Karena kondisi mata tidak memungkinkan untuk kita memandang langit terlalu lama,” akunya.

Peserta lain, Sugiyanto, 39, asal Magelang Aeromodeling Community (MACO) menambahkan, untuk membuat pesawat mini, hanya diperlukan barang barang bekas seperti gabus, kayu balsa, pipa alumunium, dan sterofoam yang dikombinasikan dengan mesin pesawat maupun elektrik. Selama 7 tahun menekuni hobi yang satu ini, saat ini ia telah memiliki 12 unit koleksi pesawat aeromodeling. Mulai jenis C130 Hercules, Dekatlone, Tucano, F16, Icon A5 Amphibi, dan Skylight.

Ia mengaku, ada kepuasan atau sensasi tersendiri dalam menekuni hobi aeromodeling. Yakni dapat berimajinasi menerbangkan pesawat layaknya pilot sebenarnya, termasuk bagaimana cara akselerasi. “Biaya untuk satu unit pesawat ini antara Rp 2,5 sampai Rp 8 juta. Di bawah budget tersebut juga bisa, tergantung bagaimana kreativitas kita mengubah barang bekas bisa menjadi bernilai tinggi dan menarik,” jelasnya. (san/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here