Diguyur Hujan Deras, Upacara Melasti Khidmat

291
BERIRINGAN: Kaum perempuan mengenakan baju adat kebaya dan bersanggul, sedangkan pria menggunakan udeng membawa sarana persembahyangan untuk pembersihan diri. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ribuan umat Hindu dari segala penjuru menggelar upacara Melasti di Pantai Marina Kecamatan Semarang Barat, Minggu (26/3) kemarin. Meski diguyur hujan deras, upacara perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1939 yang jatuh pada Selasa besok berlangsung dengan khidmat.

Melasti dimulai dari pagi. Start-nya di depan pintu masuk Marina kemudian jalan kaki, yang diiringi dengan gamelan dan arak-arakan menuju ke bibir pantai sambil membawa sarana persembahyangan. Mereka tampak mengenakan baju adat, yang wanita bersanggul dan yang pria menggunakan udeng.

Sebelumnya, umat Hindu menyucikan benda-benda yang disakralkan di Pura Girinata Semarang. Kemudian rombongan peserta ibadah berangkat pukul 06.00 dari Pura Giri Natha di Jalan Sumbing Kecamatan Gajahmungkur menuju Pantai Marina untuk menggelar ritual doa.

Mereka sengaja datang mengikuti upacara Melasti sebagai ikhtiar untuk membersihkan diri sebelum hari raya Nyepi yang akan berlangsung pada Selasa besok (28/3). Bahkan persiapan acara ini juga sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Prosesi Melasti ini untuk memohon air suci untuk penyucian busana, perlengkapan beribadah dan lingkungan serta menyucikan diri. Sehingga seluruh umat siap menyambut Tahun Baru Saka 1939.

Kemudian prosesi dilanjut dengan meminum Tirta atau air suci setelah sembahyang memberikan sesaji dan memakai bije di kening. Dalam prosesi ini, umat Hindu melakukan pembersihan diri membuang kotoran dalam batin dan sifat-sifat buruk. ”Ritual Melasti ini dilakukan sebagai bentuk membersihkan diri dari perilaku jahat. Membersihkan,” ungkap Ketua Panitia Nyepi, Agung Anirohwati.

Melasti sendiri merupakan prosesi awal ibadah Nyepi yang akan dilanjutkan dengan Tawur Agung, Nyepi, Ngrembak Geni dan Darmasanti. Upacara penyucian diri yang digelar di pantai untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. ”Laut bagi umat Hindu merupakan simbol untuk melebur segala keburukan yang ada di dalam diri. Hujan ini pun juga merupakan berkah yang harus disyukuri,” pungkasnya.

Masuk pada Hari Raya Nyepi, semua aktivitas yang berhubungan dengan duniawi akan ditinggalkan oleh umat Hindu yang dilaksanakan 24 jam mulai pukul 6 pagi hingga 6 pagi keesokan harinya. Pada Catur Brata Nyepi, umat Hindu melaksanakan empat pantangan yaitu tidak boleh melakukan kegiatan apa pun, tidak boleh ke luar rumah, tidak boleh mencari hiburan serta tidak boleh menyalakan penerangan/api.

Salah satu rangkaian Nyepi tetapi merupakan seni budaya akan dilaksanakan pada 2 April mendatang. PHDI bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Semarang mengadakan Karnaval Seni Budaya Lintas Agama dan Pawai Ogoh-Ogoh yang akan dimulai di titik 0 depan Kantor Pos besar kawasan Johar dan selesai di Balai Kota Semarang.

”Kalau di Bali, Festival Ogoh-Ogoh biasanya dilaksanakan satu rangkaian menyambut Tahun Baru Saka. Tetapi di sini kita gunakan sebagai gongnya Hari Raya Nyepi. Karena ini adalah salah satu agenda Dinas Pariwisata Kota Semarang untuk menarik wisatawan dengan tagline ”Ayo Wisata” yang menunjuk PHDI sebagai perwakilan,” kata Putu Adi Sutrisna, salah satu pengurus PHDI.

Pawai Ogoh-Ogoh nanti akan dibuka dengan tarian Jawa, kemudian ditutup dengan Sendratari berjudul Arjuna Wibaha. Rangkaian kegiatan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kebersamaan dalam kebinekaan demi menjaga NKRI. (mha/mg29/ida/ce)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here