Distribusi Soal UNBK Rawan Kebocoran

333

SEMARANG – Penyelenggaraan Ujian Sekolah Bertandar Nasional (USBN) di Jawa Tengah berjalan relatif lancar.  Tidak ditemukan kebocoran soal ujian seperti yang ramai diberitakan.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Semarang, Wiharto, mengatakan, jika USBN 2017 merupakan ujian yang kali pertama digelar.

Menurut dia, sebelumnya USBN sempat akan dijadikan alternatif pengganti Ujian Nasional (unas). USBN sengaja diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas Ujian Sekolah (US) dengan materi 20-25 persennya dibuat oleh pusat.

Ia menjelaskan, jika pembagian soal memang dilakukan mepet pada hari pelaksanaan USBN. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi indikasi kecurangan. ”Lembar jawab siswa menggunakan lembar jawaban komputer yang digunakan oleh SMAN 3 Semarang, agar tidak ada indikasi kecurangan,” ucapnya.

Pakar Teknologi Informasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Dr Solichul Huda MKom, mengatakan, jika adanya kebocoran materi soal USBN maupun Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mendatang bisa saja terjadi. Apalagi soal yang diujikan berbentuk sebuah data yang tentunya baru akan ketahuan jika sudah tersebar luas.

”Jika basisnya data digital dan media distribusinya lewat internet tentu masih rawan untuk bocor, yang paling rawan dibobol adalah saat didistribusikan dari pusat ke provinsi hingga ke kabupaten/kota,” bebernya.
Variasi soal dalam pelaksanan ujian sendiri, lanjut dia, masih dimungkinkan untuk dibobol. Namun ia menyebut pembobolan tersebut dapat diantisipasi jika antara pengawas, pihak sekolah dan pemegang server di tingkat kabupaten/kota ataupun provinsi menjalankan tugas dengan baik.

”Ujian berbasis komputer ini sebenarnya sangat bagus, namun tetap harus ada pengawasan yang ketat, kalau ada kongkalikong tentu semuanya akan terbuka,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi agar soal ujian tidak bocor, jelas dia, pemegang password server hanya boleh dipegang oleh satu orang, sehingga hanya bisa dibuka saat ujian akan dilakukan. Selain itu, setiap sekolah juga harus memiliki password berbeda, sehingga bisa meminimalisasi adanya kebocoran. ”Sistemnya sudah bagus, memang agak ribet, tapi demi kebaikan patut untuk dilakukan,” katanya. (den/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here