Relokasi Pedagang Yaik Pemborosan Rp 20 M

278
SERAP ASPIRASI: Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi saat berdialog dengan pedagang Pasar Yaik Baru, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SERAP ASPIRASI: Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi saat berdialog dengan pedagang Pasar Yaik Baru, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pedagang Pasar Yaik Baru kawasan Pasar Johar Semarang bersikukuh menolak direlokasi dalam waktu dekat. Para pedagang melihat masih ada solusi lain, selain langkah relokasi seperti yang direncanakan saat ini. Mereka juga menilai relokasi hanya akan membuat Pemkot Semarang melakukan pemborosan anggaran hingga Rp 20 miliar.

”Pedagang Pasar Yaik Baru ini tidak perlu direlokasi di kawasan MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah). Tapi, tetap menempati lokasi sekarang,” kata Wakil Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) Kota Semarang, Slamet Santoso, Jumat (24/3).
Menurut Slamet, rencana relokasi tersebut hanya akan menjadikan pemborosan anggaran bagi Pemkot Semarang. Ia menilai, anggaran relokasi di kawasan MAJT sebesar Rp 20 miliar akan sia-sia. Mengapa demikian? Sebab, kata dia, pembangunan Pasar Johar baru akan membutuhkan waktu sangat lama dan membutuhkan kurang lebih Rp 800 miliar menggunakan anggaran multiyears.

”Jika dihitung per tahun dianggarkan Rp 100 miliar, maka akan membutuhkan waktu pembangunan selama 8 tahun. Itu kalau tidak molor. Biasanya, pemerintah dalam proses pembangunan selalu molor dan tidak tepat waktu,” bebernya.

Jika pedagang Pasar Yaik Baru direlokasi sekarang, akan sangat lama menempati kios darurat di tempat relokasi tersebut. Padahal, kondisi tempat relokasi di kawasan MAJT sangat tidak mendukung bagi pedagang.

”Buktinya, sekarang kondisi pedagang Pasar Johar yang direlokasi di sana tinggal 40 persen saja, dari jumlah kurang lebih 8.000 pedagang. Lainnya gulung tikar dan mencari tempat lain. Ini sangat menyedihkan. Dagangan habis, mobil dijual untuk bertahan hidup,” keluhnya.

Idealnya, pemerintah mengatur waktu pembangunan secara bertahap. Kalau pembangunan kali pertama dilakukan di Pasar Johar bangunan cagar budaya, maka seharusnya pedagang Pasar Yaik Baru tidak perlu direlokasi dan masih di lokasi sekarang dalam beberapa tahun.

”Selesaikan dulu. Setelah bangunan Johar Baru jadi, pedagang Johar di MAJT dimasukkan ke bangunan Johar Baru. Nah, pedagang Pasar Yaik baru kemudian direlokasi di kawasan MAJT bekas pedagang Pasar Johar. Seharusnya ini lebih efisien dan tidak pemborosan anggaran,” terangnya.

Setelah pedagang Pasar Yaik Baru direlokasi, baru bekas Pasar Yaik Baru dilakukan pembangunan Alun-Alun Kota Semarang. ”Setidaknya, kami di tempat relokasi hanya butuh menempati kurang lebih 3 tahun. Tidak 8 tahun,” katanya.

Jika dilakukan langkah demikian, lanjutnya, maka sementara waktu ini pedagang Pasar Yaik Baru tetap bisa berjualan. Selain itu juga melakukan penghematan anggaran. ”Karena itu kami minta pemerintah tidak merelokasi sampai pembangunan Pasar Johar bangunan cagar budaya selesai dibangun,” harapnya.

Slamet kembali menegaskan, bukan tanpa alasan beberapa waktu lalu para pedagang menolak rencana sosialisasi yang akan dilakukan oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang. Apalagi Dinas Perdagangan sejauh ini sama sekali belum pernah komunikasi dengan pedagang. ”Hanya 50 pedagang yang mendapatkan surat undangan sosialisasi,” katanya.

Sekretaris Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) Kota Semarang Thohari, mengatakan, secara umum pedagang menolak relokasi. Tapi penolakan bukan tanpa dasar. ”Jika direlokasi dalam jangka waktu yang lama, para pedagang Yaik Baru akan bangkrut,” ujarnya.

Pihaknya meminta pemerintah kota tidak merelokasi pedagang Pasar Yaik di MAJT dalam waktu dekat. ”Kalau bekas relokasi Johar di MAJT nanti kami tempati,  pemerintah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk membangun lapak darurat,” katanya.

Menurut dia, usulan tersebut sangat realistis. Sebenarnya pedagang mau direlokasi, tapi tidak sekarang. ”Ya, nggak pa-pa lah kami berkorban direlokasi, tapi bukan dalam waktu yang lama,” ujarnya.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengatakan, telah mendengarkan aspirasi pedagang Pasar Yaik Baru. Sebenarnya, para pedagang tidak menolak dan siap mendukung program pemerintah.

”Mereka meminta agar tidak direlokasi dalam waktu dekat. Para pedagang menilai Pasar Yaik Baru sifatnya belum urgen untuk direlokasi. Pedagang trauma dan berpikir relokasi seperti pedagang korban kebakaran Pasar Johar yang saat ini sepi dan banyak yang bangkrut,” bebernya.

Menurutnya, apa yang disampaikan para pedagang cukup realistis. Supriyadi meminta agar Dinas Perdagangan segera duduk satu meja dengan para pedagang Yaik Baru. Karena pedagang yang saat ini berjualan memang belum saatnya direlokasi.

”Apalagi selama ini pedagang mengaku belum pernah diajak rembukan oleh Dinas Perdagangan. Akibatnya, pedagang shock, dan tidak mau dilakukan sosialisasi,” katanya. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here