Kantor Kecamatan Kalsel Jadi Gudang Kayu Bakar

790
13 TAHUN MANGKRAK: Kantor Kecamatan Kaliwungu Selatan di Desa Magelung kondisinya mangkrak dan rusak parah. (kanan) Salah satu bangunan dijadikan tempat penyimpanan kayu bakar. (kiri) Sekitar bangunan banyak dipenuhi semak belukar. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
13 TAHUN MANGKRAK: Kantor Kecamatan Kaliwungu Selatan di Desa Magelung kondisinya mangkrak dan rusak parah. (kanan) Salah satu bangunan dijadikan tempat penyimpanan kayu bakar. (kiri) Sekitar bangunan banyak dipenuhi semak belukar. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL — Kantor Kecamatan Kaliwungu Selatan (Kalsel) di Desa Magelung, kondisinya semakin parah.  Lebih dari 13 tahun sejak dibangun 2004 silam, hingga kini belum pernah ditempati alias mangkrak. Diduga kuat, pembangunannya tidak menggunakan kajian dan penelitian kontur tanah. Padahal lokasi tersebut kondisi tanahnya labil. Sehingga menyebabkan tiga lokal bangunan yang ada rawan roboh. Yakni, ruang kantor, pendopo, dan rumah dinas camat.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, kondisi tiga bangunan sudah rusak parah. Dinding retak, lantai keramik lepas, dan plafon/eternit jebol.  Bahkan karena belasan tahun tidak dirawat, kondisinya banyak ditumbuhi semak belukar yang menutupi dinding bangunan bagian luar. Oleh petani setempat, kantor Kalsel yang dibangun pada masa kepemimpinan Bupati Hendy Boedoro itu dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan kayu bakar.

Meski sudah mangkrak hingga belasan tahun,  hingga kini tidak ada upaya dari pemerintah setempat untuk memugar bangunan tersebut. Kantor pelayanan Kecamatan Kalsel sendiri selama 13 tahun terakhir selalu berpindah-pindah dengan mengontrak rumah warga.

”Kantor berpindah-pindah, saya sebagai warga Kaliwungu Selatan yang sudah menetap belasan tahun kadang sampai bingung saat mengurus surat-surat kependudukan. Sebab setiap tahun selalu berpindah-pindah kantornya,” keluh Sarwono, warga Kaliwungu Selatan, Jumat (24/3).

Karena hanya mengontrak rumah warga, lanjut Sarwono, bangunan Kantor Kecamatan Kalsel hanya seadanya. Dalam arti, tidak layak untuk disebut sebagai kantor pelayanan karena kondisinya kecil. Malah terkadang harus berdesak-desakkan saat mengurus layanan.

”Apalagi saat pindahan, kerap pelayanan jadi kacau karena warga harus mencari tempat kantor yang baru, mencari petugas serta ruang pelayanan. Bahkan kerap petugas tidak siap melayani karena berkas dan data yang belum tertata akibat pindahan kantor setiap tahunnya,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekda Kendal, Bambang Dwiyono, mengakui jika kondisi Kantor Kecamatan Kaliwungu Selatan sudah lama mangkrak. Hal itu lantaran kondisi tanah yang labil, sehingga berisiko jika tetap dijadikan kantor pelayanan.

Bahkan sejak awal selesai dibangun sampai sekarang, belum ada serah terima barang dari pihak rekanan kepada Pemkab Kendal. Jadi, bangunan tersebut, diakuinya, belum masuk sebagai aset daerah.

Dikatakan, alasan pembangunan Kantor Kecamatan Kalsel di Desa Magelung, ada dua alasan kuat. Pertama, karena sesuai perda, pembangunan Kantor Kecamatan Kalsel mengharuskan di Desa Magelung sebagai ibu kota Kecamatan Kalsel.  Kedua, tanah tersebut diakuinya adalah milik Pemkab Kendal. ”Sehingga dengan alasan penghematan, saat itu Pemkab Kendal tidak membeli tanah. Tapi memanfaatkan lahan aset pemkab yang memang belum terpakai,” tuturnya.

Apakah pembangunannya melalui kajian dan penelitian akan kondisi tanah? Bambang mengaku tidak mengetahuinya. Sebab, saat itu penanggung jawab pembangunan adalah Dinas Pekerjaan Umum (DPU). ”Saya belum menjabat sebagai Sekda,”  kilahnya.

Saat ini, kata dia, pemkab masih melakukan kajian untuk mengubah perda yang mengharuskan Kantor Kecamatan Kalsel dibangun di Desa Magelung. ”Akan kami ubah, sehingga nantinya tidak harus di Desa Magelung, tapi bisa di desa mana saja sebatas masih berada di wilayah Kecamatan Kalsel,” katanya. (bud/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here