Go-Jek Bersedia Diatur, Minta Tak Dihilangkan

479
GARIS BATAS: Para driver Go-Jek menunjukkan garis batas tempat mangkal di kawasan Stasiun Poncol kepada Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GARIS BATAS: Para driver Go-Jek menunjukkan garis batas tempat mangkal di kawasan Stasiun Poncol kepada Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Transportasi ojek konvensional dalam kondisi kembang-kempis akibat kalah bersaing dengan ojek berbasis aplikasi atau ojek online. Para driver ojek konvensional meradang dan bertahan meski omzetnya merosot drastis hingga tiga kali lipat.

”Kalau ditanya soal harapan, maka kami harapannya Go-Jek dihilangkan. Karena kedatangan Go-Jek berdampak sangat besar dan merugikan tukang becak, tukang ojek konvensional, angkutan umum, dan taksi,” kata salah satu tukang ojek konvensional, Saidi, saat dikunjungi rombongan  DPRD Kota Semarang di pangkalan ojek Stasiun Poncol Semarang, Jumat (24/3).
Dia mengakui, ojek konvensional kalah bersaing dengan ojek online. Sebab, tarif ojek online lebih murah. Sehingga pelanggan lebih banyak memilih ojek online. ”Mereka tarif murah, tapi dapat bonus dari poin harian. Lha kami tidak. Dampaknya jelas sangat besar. Omzet penghasikan kami (ojek konvensional) turun drastis. Dulu sebelum ada Go-Jek, kami bisa mendapat penghasilan Rp 150 ribu, sekarang Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per hari,” keluhnya.
Tetapi Saidi meminta, apabila Pemkot Semarang masih mempertahankan Go-Jek, maka harus segera membuat aturan pembatasan kuota. ”Kalau teman-teman (ojek konvensional) maunya sih Go-Jek dihilangkan. Tapi, jika pemerintah masih mempertahankan, ya harus dibatasi. Jumlahnya jangan ditambah terus. Tarifnya harus disamakan,” harapnya.

Salah satu driver Go-Jek, Mujianto, meminta kepada Pemkot Semarang agar tidak membuat kebijakan penghentian operasi ojek online. ”Kami bersedia diatur, tapi jangan sampai dihilangkan. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Bapak Wali Kota. Kami percaya, Pak Hendi prorakyat,” katanya.

Pihaknya juga mengaku akan menjalankan aturan, apabila nantinya diberlakukan sistem pembatasan kuota atau jumlah driver Go-Jek. Termasuk aturan penentuan tarif batas atas dan bawah. ”Kami siap. Tapi, kalau dikurangi ya jangan banyak-banyak. Saat ini, di Kota Semarang kurang lebih ada 4.500 driver Go-jek. Di lokasi sini ada kurang lebih 200 driver,” bebernya.

Konflik antara driver ojek online dengan ojek konvensional yang terjadi belum lama ini, kata dia, sebenarnya bukan bermula dari driver Go-Jek. ”Ada orang luar, provokator yang menginginkan adanya permusuhan antara ojek online dengan konvensional, seperti terjadi di kota lain. Tapi Alhamdulillah, saat ini sudah aman dan kondusif. Masyarakat Kota Semarang sudah dewasa, kami tidak terpancing,” katanya.
Dikatakan, dengan dimediasi oleh Kapolrestabes Semarang dan Kapolsek Semarang Utara, perwakilan kedua belah pihak dipertemukan. Hasil mediasi, kata dia, telah disepakati bahwa jarak titik kumpul ojek online berada 100 meter dari pintu keluar Stasiun Poncol. ”Kalau penjemputan penumpang diperbolehkan di depan pintu masuk ataupun di halte bus depan stasiun. Tapi tidak boleh mengambil penumpang. Saat ini sudah kondusif,” ujarnya.

Informasi yang diterima oleh pihaknya, mengenai tarif ojek online akan dinaikkan dari Rp 2 ribu menjadi Rp 3 ribu per kilometer, sebagai tarif bawah mulai 1 April mendatang.

”Kami mohon dibantu oleh DPRD agar aspirasi kami didengar. Kami mendukung pemerintah. Perwakilan kami nanti juga duduk bersama untuk menyampaikan aspirasi,” katanya.

Ketua DPRD Semarang, Supriyadi, mengaku telah mendengarkan aspirasi para driver ojek. Baik driver ojek online maupun konvensional. Ia mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Fenomena ojek online memang sangat memengaruhi keberadaan ojek konvensional.

”Ojek konvensional banyak mengeluh atas merebaknya ojek online ini. Memang, kedatangan ojek online ini memengaruhi pendapatan harian bagi ojek konvensional. Dari semula Rp 150 ribu, sekarang cuma dapat Rp 60 ribu. Kami menyerap aspirasi, agar nantinya bisa menjadi pertimbangan,” ujarnya.

Dikatakannya, Pemkot Semarang harus segera melakukan penataan. Mulai pembatasan kuota, persamaan tarif antara ojek online dengan ojek konvensional. ”Dengan begitu agar ada kesetaraan antara ojek online dengan ojek konvensional. Tarif juga harus diatur, ada batas minimal, ada batas bawah.

Pihaknya juga akan mendorong pemerintah kota untuk segera membatasi jumlah pengemudi ojek online. ”Jangan sampai terlambat seperti kota-kota lain. Sementara ini 4.500 lebih driver Go-Jek di Semarang. Jangan sampai menjadi keresahan bagi driver ojek konvensional. Mereka juga siap menaati peraturan,” katanya.

Dia berharap agar angkutan online dan konvensional tidak ada perbedaan. Semua kendaraan juga harus dilakukan uji KIR. ”Kalau pelat kuning ya kuning semua. Jadi, nantinya konvensional dan online harus tidak ada perbedaan,” ujarnya. (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here