DPRD Desak Bulog Beli Gabah Petani

988
PANEN RAYA : Petani di Desa Kaibahan, Kesesi, melakukan panen raya, Jumat (24/3) kemarin. Kini, gabah basah dihargai Rp 2500 per kilogramnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANEN RAYA : Petani di Desa Kaibahan, Kesesi, melakukan panen raya, Jumat (24/3) kemarin. Kini, gabah basah dihargai Rp 2500 per kilogramnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN–Lantaran harga gabah petani selalu jatuh saat musim panen raya, Komisi B DPRD Kabupaten Pekalongan, mendesak agar Bulog Pekalongan bersedia membeli gabah petani dengan harga baik. Selain itu, selama ini Bulog Pekalongan juga belum melakukan transparansi, terkait pembelian gabah petani.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Pekalongan, Sofwan Sumadi, menyatakan, setiap memasuki musim panen, harga gabah di tingkat petani selalu jatuh. Untuk itu, pihaknya mempertanyakan kebijakan serapan gabah yang dilakuakn oleh Bulog dan harga pembeliannya seberapa besar.

“Selama ini, harga beras relatif mahal hingga menembus Rp 11 ribu per kilogramnya. Sedangkan harga gabah di tingkat petani hanya hanya Rp 2500 per kilogramnya,” kata Sofwan, Jumat (24/3) kemarin.

Pihaknya menilai bahwa selama ini, Bulog belum maksimal dalam melakukan pembelian gabah petani. Selain itu, Bulog juga tidak maksimal dalam menyosialisasikan pembelian gabah petani, sehingga banyak petani yang belum memahami cara menjual gabah ke Bulog. “Petani sebagai produsen ditekankan untuk meningkatkan produktivitasnya. Namun saat panen, harga gabahnya turun,” tandasnya.

Menurutnya, petani juga sebagai konsumen yang membeli beras dengan harga yang tinggi. Untuk beras premium harganya sekitar Rp 9 ribu perkilogram. Sedangkan di atasnya bisa mencapai Rp 11 ribu perkilogram. “Harga gabah sendiri di tingkat petani saat ini turun hingga Rp 2.500 perkilo. Bulog harus membantu petani dalam hal ini,” ungkap Sofwan.

Sofwan juga mengatakan bahwa luas lahan pertanian semakin turun setiap tahunnya. Apalagi dengan adanya proyek jalan tol dan pembangunan kawasan industri, maka lahan sawah baik itu produktif maupun tidak produktif, akan semakin berkurang.

Menurutnya, jika Bulog tidak memberikan solusi atas rendahnya harga gabah setiap kali petani panen raya, dikhawatirkan petani akan semakin mengalihfungsikan lahannya. Apalagi, produksi padi semakin menurun, karena petani selalu merugi.

“Selama ini, kami masih belum paham, bagaimana caranya agar gabah bisa langsung dibeli oleh Bulog. Dan gabah pada level petani di daerah terserap secara maksimal oleh Bulog,” kata Sofwan.

Kasub Drive Bulog Pekalongan, Mukson, menegaskan Bulog siap menyerap gabah milik petani. Bahkan gabah atau beras di luar kualitas pun akan diserap oleh pihaknya.

“Harga pembelian gabah sesuai Inpres Nomor 5/2015, yakni gabah kering panen (GKP) di petani dihargai Rp 3.700 perkilo, dengan syarat kadar air maksimal 25 persen, dan hampa kotoran maksimal 10 persen. Sedangkan, sesuai Perpres 20/2017 dan Permentan 03/2017, harga gabah di luar kualitas (GLK) dihargai Rp 3.700 perkilo, dengan kriteria kadar air 26 persen-30 persen dan kadar hampa 11 persen – 15 persen, silahkan petani datang ke Bulog,” tegas Mukson. (thd/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here