Amalia Wulansari, Aktivis Lingkungan Yayasan Bintari Semarang

Prihatin Melihat Warga Buang Sampah Sembarangan

669
Amalia Wulansari (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Amalia Wulansari (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Amalia Wulansari saat ini menjabat Manajer Komunikasi Yayasan Bintari Semarang. Sudah hampir 17 tahun, ia mengabdikan hidupnya untuk kampanye cinta lingkungan. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA

SEJAK masih duduk di bangku SMA pada 1999, Amalia Wulansari, sudah tertarik dengan isu-isu lingkungan. Ia sangat prihatin melihat kerusakan alam hingga menimbulkan sejumlah bencana. Selain itu, lingkungan yang rusak memunculkan fenomena global warming atau pemanasan global.

Melihat kondisi tersebut, membuat Amalia Wulansari semakin mantap bergabung dengan organisasi pro lingkungan. Pada 1999, ia pun bergabung dengan Klub Indonesia Hijau. Dari situlah, keinginannya untuk mengampanyekan cinta lingkungan semakin besar.

”Awalnya hanya ikut kegiatan saja, sambil kampanye cinta lingkungan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Amalia mengakui, kesadaran warga untuk mencintai lingkungan semakin berkurang. Bahkan kini masyarakat semakin acuh dalam merawat alam. Justru masyarakat semakin serakah dan merusaknya. ”Padahal semua orang tahu, alam selama ini memberikan keindahan, dan memberikan apa yang kita inginkan. Tapi sangat sulit untuk menjaganya,” ujar alumnus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Ia mencontohkan, di Kota Semarang dulu merupakan daerah yang sangat asri dengan eksotisme alam yang menawan. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, sekarang lebih banyak didominasi bangunan pencakar langit. Eksploitasi dilakukan besar-besaran dan semua karena keserakahan manusia.

”Ini yang membuat alam semakin rusak. Contoh sederhana sekarang banyak yang tidak menghargai alam dengan membuang sampah sembarangan,” katanya miris.

Setelah aktif di Klub Indonesia Hijau, perempuan yang hobi traveler ini pada 2007 bergabung dengan Yayasan Bintari Semarang. Di situ, ia semakin mantap dan terus belajar untuk kampanye lingkungan. Sampai saat ini, ia terus melakukan berbagai upaya agar kesadaran masyarakat untuk cinta lingkungan semakin tinggi.

Terlebih sekarang posisinya semakin kuat karena diamanahi untuk menduduki posisi sebagai Manajer Komunikasi Yayasan Bintari Semarang. ”Kalau untuk program lanjutan, kami menggandeng anak-anak SD. Mereka harus diajak untuk cinta lingkungan sejak dini,” ujarnya.

Kecintaan dan pengalamannya untuk kampanye lingkungan semakin terasah ketika ia mengikuti program pelatihan cinta lingkungan di Jerman dan Afrika Selatan pada 2009-2010. Di dua negara itu, ia mendapat pengalaman berharga dalam aksi cinta lingkungan. ”Itu sebagai modal tambahan saya dalam kampanye cinta lingkungan,” ujarnya.

Saat ini, ia sedang fokus mendampingi sejumlah petani dan nelayan di Pantura, khususnya Pekalongan. Ia mengaku miris dengan melihat kerusakan lingkungan pesisir pantai utara Jawa hingga membuat warga di daerah pesisir tenggelam akibat rob yang semakin parah.

”Kami ingin memberdayakan mereka, bagaimana bisa tetap hidup di tengah rob. Selain itu kami ajak mereka menanam mangrove sebagai salah satu upaya melestarikan lingkungan,” katanya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here