UIN Walisongo Kukuhkan Satu Lagi Guru Besar

494
SANDANG GURU BESAR: Rektor UIN Walisongo Prof Muhibbin kukuhkan Prof Fatah Syukur sebagai Guru Besar. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SANDANG GURU BESAR: Rektor UIN Walisongo Prof Muhibbin kukuhkan Prof Fatah Syukur sebagai Guru Besar. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali menambah guru besar. Yakni Prof Fatah Syukur, yang dikukuhkan melalui Sidang Senat Terbuka, di Aula II Kampus III Kamis (23/3). Dia dikukuhkan sebagai guru besar ilmu manajemen pendidikan, pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo.

Dalam publikasi jurnal internasionalnya, Fatah Syukur membuat riset Model Manajemen Madrasah Efektif. ”Madrasah mempunyai misi penting dalam mempersiapkan generasi muda umat islam untuk ikut berperan dalam pembangunan umat dan bangsa di masa depan. Madrasah dipandang memiliki posisi strategis dalam mengantarkan alumninya ke pendidikan tinggi yang berkualitas,” kata dosen Pendidikan Manajemen Pendidikan Islam ini dalam pidatonya.

Pengurus LP Ma’arif NU Jawa Tengah ini menambahkan, penelitiannya beranjak dari pentingnya pengelolaan madrasah yang efektif dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan dapat ditempuh dengan pengelolaan pendidikan di madrasah, melalui proses manajemen yang efektif.

Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof Muhibbin mengatakan, dengan bertambahnya guru besar jelas diharapkan kualitas UIN Walisongo serta kuantitasnya akan semakin baik. Dengan demikian ia pun mendorong dosen-dosen agar terpicu menulis riset dalam jurnal internasional.

”Guru besar itu memang syaratnya harus menulis di jurnal internasional. Menulis jurnal internasional jadi salah satu indikasi kualitas dosen-dosen. Karena itu kita berharap dosen bergelar doktor yang jumlahnya banyak itu supaya menulis riset,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa guru besar mendapat tunjangan kehormatan yang jumlahnya dua kali lipat dari gaji pokok. Sehingga lanjutnya, dapat membuat dosen agar menulis jurnal dan menyandang gelar profesor.

”Kita dorong dan akan beri reward untuk dosen-dosen yang mampu menulis jurnal. Terlebih saat ini dalam publikasi jurnal dikapitalisasi harus membayar dengan nilai tertentu. Bahkan dengan dolar,” tukasnya. (mg30/zal/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here