33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Tolak Balak, Seniman Gelar Ritual di Progo

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

MUNGKID—Sejumlah seniman Kabupaten Magelang kemarin menggelar ritual tolak balak di Sungai Progo. Kegiatan yang berbarengan dengan HUT ke-33 Kota Mungkid, untuk mengingatkan bahwa sungai merupakan sumber kehidupan yang harus terus dijaga.

Ritual dipimpin oleh Agus Merapi. Puluhan seniman terlibat dalam prosesi yang dihelat di jembatan lama Kali Progo di Sawitan, Kecamatan Mungkid. Sejumlah turis mancanegara yang kebetulan melintas, antusias melihat prosesi ritual. Beberapa di antaranya bahkan memfoto. Tak sedikit dari mereka, minta foto bersama Agus Merapi, sang pemimpin ritual. Puncak ritual ditutup dengan membuang sesaji ke Kali Progo, setelah sebelumnya doa bersama.

“Sungai adalah pusat peradaban dan pusat kehidupan. Magelang punya banyak sungai yang tentu harus bisa mensejahterakan masyarakatnya,” kata Agus Merapi.

Menurut Agus Merapi, sungai merupakan makhluk hidup yang harus dihormati dan dijaga. Melalui ritual ini, dia berharap seluruh masyarakat ikut menjaga kelestarian sungai. Tidak membuang sampah sembarangan dan merusak lingkungan.

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Ahmad Husein mengatakan, melalui kegiatan ini, dia berharap masyarakat bisa lebih menjaga ekosistem sungai.

Usai ritual, seluruh seniman diajak pentas di halaman eks Mendut Corner. “Total yang pentas di eks Mendut Corner ada lima grup. Termasuk mereka yang ikut dalam ritual. Di antaranya, angguk dan jathilan dari Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran. Kemudian grup Brayat Panangkaran yang pentas Tarian ‘Kidung Karma Wibangga’, juga dari Kajoran,” sebutnya.

Pada 2017 ini, kata Husein, pihaknya mengalokasikan banyak anggaran untuk pentas kesenian rakyat. Hal ini sesuai penjabaran tema HUT ke-33 Kota Mungkid. “Seni dan budaya, dapat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, agar masyarakat semakin gemilang.”

Natazha, turis mancanegara asal USA mengaku senang melihat ritual seniman di atas jembatan Progo. Ia mengaku tengah berwisata dengan ayahnya ke Candi Borobudur. Juga Candi Selogriyo. Secara kebetulan, di tengah jalan, Natazha melihat kegiatan tersebut. Ia pun berhenti dan mengabadikan momen langka itu. (vie/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

DPRD Kota Semarang Minta OPD Optimalkan Pelayanan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Memasuki musim mudik Lebaran 2018, Kota Semarang menjadi salah satu kota tersibuk untuk menyambut pemudik. Pasalnya Ibu Kota Jawa Tengah, ini...

Bupati: FKUB Penting untuk Wadah Satukan Perbedaan

WONOSOBO—Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Wonosobo, Senin (4/12) kemarin pukul 9.30, dikukuhkan oleh Bupati Eko Purnomo di Pendopo. Mereka merupakan kepengurusan masa bhakti...

Oknum Guru Cabuli Muridnya

KEBUMEN – Sungguh keterlaluan perbuatan ES, 25, seorang guru salah satu SMK di Kebumen ini. Perbuatan warga kecamatan Karangsambung ini tidak mencerminkan keteladanan profesi...

Bisnis Kreatif

RADARSEMARANG.COM - YUNI Devi Lestari masih berstatus mahasiswi. Namun ia sudah menekuni bisnis kreatif berupa pembuatan buket bunga dan scrap frame. Berawal dari kesukaan...

Pendidikan Karakter Siswa Melalui  Filosofi Apem

RADARSEMARANG.COM - APEM atau dikenal juga dengan nama Appam di negeri asalanya India, adalah penganan tradisional yang dibuat dari tepung beras yang didiamkan semalam dengan mencampurkan...

Lebih Dekat dengan Semarang Fortuner Community (SFC)

Para pemilik mobil Toyota Fortuner tergabung dalam Semarang Fortuner Community (SFC). Komunitas ini dibentuk tak hanya untuk menyalurkan hobi sesama pencinta otomotif, tapi juga...