Sulap Batik Semarangan Jadi Busana Berkelas

396
ANGGUN: Tiga model saat memperagakan busana batik Semarangan rancangan lima desainer di Gedung Moch Ichsan Lantai 8 Balai Kota Semarang, Rabu (22/3) malam. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANGGUN: Tiga model saat memperagakan busana batik Semarangan rancangan lima desainer di Gedung Moch Ichsan Lantai 8 Balai Kota Semarang, Rabu (22/3) malam. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Batik Semarang 16 mencoba berkolaborasi dengan lima perancang busana Indonesian Fashion Chamber (IFC) chapter Semarang untuk mengangkat Batik Semarangan. Mereka menggelar presentasi karya bertema ”Lenggang Batik Semarang 16” di Gedung Moch Ichsan lantai 8 Balai Kota Semarang, Rabu (22/3) malam.

Peragaan busana dilakukan oleh top model dari Semarang dengan koreografer Totok Shahak, sementara tata rias dipersembahkan oleh Sudarna Suwarsa. Puluhan rancangan busana terbaru dengan bahan batik khas Semarangan dihadirkan oleh lima desainer.

Desainer Fenny Chen mengusung konsep Senandung Malam, Inge Chu dengan The Legacy of Love, Elkana Gunawan Tan mengusung Nature dan Obar-Abir Batik Semarang, Agustiena Siswanto berkonsep Lenggang Kangkung, serta Christine Wibowo dengan ChinoiseriesChristine.
Elkana Gunawan Tan membawa 16 karya terbarunya dengan konsep Nature yang merupakan delapan koleksi busana pria yang mengolah batik tulis dan batik cap dengan pewarnaan alam koleksi dari Batik Semarang 16. ”Busana ini bergaya androgoni yang dipadukan dengan tenun lurik yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin,” jelasnya.

Dengan paduan tersebut, kain lurik yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin dari Klaten tersebut, ia mencoba membuat konsep busana yang elegan dengan desain yang dibuat saling bertumpuk.
Untuk delapan busana selanjutnya, ia mengusung tema Obar-Abir Batik Semarang. Dalam tema tersebut, Elkana coba menyulap batik tulis dan batik cap dengan warna biru dan hijau menjadi lebih trendi dan eye catching. Tema busana kedua ini, ia tetap memadukan kain lurik sebagai pembeda. ”Tema kedua ini, saya coba membuat busana setelan setengah resmi yang dipadukan dengan pemakaian gaya sarung,” ungkapnya.
Beda lagi dengan busana karya Christine Wibowo. Ia coba mengusung gaun cocktail yang menyasar wanita modern dan dinamis, namun tetap feminin. Gaun rancangannya terdiri atas beberapa jenis mulai dari gaun panjang dan midi, jumpsuit panjang dan pendek, serta dilengkapi dengan cardigan panjang dan blus. ”Gaun ini memiliki potongan siluet H dan A yang dipadukan detail bordir dan batik tulis dari Batik Semarang 16,” ungkapnya.

Pada delapan rancangan yang ia buat, Christine Wibowo memberikan aplikasi tile motif dan satin polos sebagai pemanis yang bisa digunakan untuk pergi ke pesta dengan nuansa glamor. (den/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here