Minta Tiga Sesepuh Petani Tak Ditahan

696
SOLIDARITAS PETANI: Ratusan petani Surokonto Wetan, Kendal saat menggelar demo di kantor Pengadilan Tinggi Jateng. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SOLIDARITAS PETANI: Ratusan petani Surokonto Wetan, Kendal saat menggelar demo di kantor Pengadilan Tinggi Jateng. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ratusan warga yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Surokonto Wetan (PPSW) Kabupaten Kendal, menggeruduk kantor Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Tengah untuk meminta keadilan. Mereka menuntut tiga sesepuh petani setempat, yakni Nur Aziz, Sutrisno Rusmin dan Mujiono, tidak dilakukan penahanan lantaran perkaranya masih tingkat banding.

Sebelumnya, pada 18 Januari lalu, Pengadilan Negeri (PN) Kendal telah memvonis ketiganya dengan pidana masing-masing 8 tahun penjara dan denda masing-masing Rp 10 miliar.

Dalam kasus itu, ketiganya dianggap terbukti bersalah menyerobot lahan milik Perhutani KPH Kendal dan dijerat pasal 94 ayat 1 huruf a UU RI No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Atas vonis itu, ketiganya mengajukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jateng. Hingga pada 20 Maret lalu, warga menerima salinan surat dari PT Jateng yang memerintahkan jaksa agar ketiganya ditahan, padahal selama persidangan tingkat pertama di PN Kendal, ketiganya selalu aktif dan tidak ditahan.

Saat unjuk rasa kemarin, warga melantunan shalawat nabi berulang kali. Tak sedikit peserta aksi terlihat menangis tersedu-sedu. Mereka tertahan di depan pintu gerbang PT Jateng.

Peserta aksi Dwi Astuti dan Karmiah sempat menyanyikan lagu sindiran. ”Ngatasi perkara ojo direko-reko, ojo gugu omongan sing ora cetho.

Para pendemo yang didominasi ibu-ibu terlihat kompak mengenakan caping, bendera merah putih dan bendera PPSW. Mereka juga membeber sejumlah poster dan spanduk, di antaranya bertuliskan: ”Lepaskan petani dari vonis 8 tahun dan denda Rp 10 miliar”, ”Petani bukan koruptor,” serta spanduk besar bertuliskan: ”Gema Demokrasi, Hentikan Kriminalisasi Petani, Wahai Perampas Tanah Rakyat.”

Koordinator Pemuda PPSW Kendal, Muhammad Hasan Bisri mengatakan, tanah warga telah dicuri Perhutani. Tapi yang terjadi, petani justru dianggap pencuri.

Setelah beberapa saat berorasi, 10 perwakilan petani diperbolehkan masuk dan diterima Humas PT Jateng, Eddy Risdianto dan Dwi Prasetyanto. Mewakili PT Jateng, keduanya memastikan akan meneruskan permohonan tersebut, langsung ke majelis hakim yang menangani perkaranya. Keduanya juga mengaku sudah melihat adanya penetapan penahanan terhadap ketiga sesepuh warga  meski saat ini masih dalam upaya banding. ”Nanti akan kami sampaikan ke majelis yang menangani. Aspirasi yang disampaikan akan kami teruskan,” janjinya.

Anggota Tim Kuasa Hukum Petani Surokonto dari perwakilan LRC KJ-HAM Jateng, Dian Puspita Sari, menyatakan, dalam kasus tersebut terkesan negara mengkhianati petani, serta negara mengkhianati reformasi agraria sejati. ”Sudah berapa petani mengalami kekerasan dari aparatur-aparatur sipil negara, hingga militer. Jadi negeri yang besar dan kaya akan kekayaan alam, khusus sumber pangan, dan terkenal sebagai negeri agraris hanya slogan saja,” tandasnya.

Kuasa hukum lain, Samuel Rajagukguk dari YLBHI-LBH Semarang menambahkan, vonis tingkat pertama tersebut jelas tidak berkeadilan. Untuk itu, para petani melakukan upaya hukum banding ke PT Jateng.

Sedangkan soal penetapan penahanan terhadap ketiga terpidana, ia menilai hal itu membuat penderitaan para petani semakin berat. ”Para petani memiliki keluarga, istri dan anak yang membutuhkan sosok seorang ayah, dan juga sebagai tulang punggung keluarga,” katanya.

Selain itu, lanjut Samuel, menimbang pasal 31 KUHAP, maka dapat dilakukan upaya penangguhan penahanan.  ”Sebenarnya kriminalisasi ini berawal dari masalah tanah negara, yang dijadikan sebagai lahan tukar-menukar (ruilslag) yang ditetapakan melalui SK 3021/Menhut-VII/KUH/2014 tentang Penetapan Sebagian Kawasan Hutan Produksi Pada Bagian Hutan Kalibodri seluas 127.821 hektare di Kabupaten Kendal,” ungkapnya. (jks/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here