Lebih Dekat dengan Komunitas Diajeng Semarang (KDS)

Ajak Kaum Hawa Percaya Diri Pakai Kebaya

606
PERCAYA DIRI: Sebagian anggota Komunitas Diajeng Semarang berpose dengan baju kebaya yang sudah diinovasi. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERCAYA DIRI: Sebagian anggota Komunitas Diajeng Semarang berpose dengan baju kebaya yang sudah diinovasi. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Komunitas Diajeng Semarang (KDS) mengajak masyarakat untuk lebih berani mengenakan busana tradisional batik dan kebaya. Ini sebagi bentuk nguri-uri kebudayaan Jawa. Seperti apa?

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

MENGENAKAN busana tradisional di tempat umum bagi kebanyakan orang agaknya masih sulit dilakukan. Banyak faktor memengaruhinya, mulai tuntutan pekerjaan harus mengenakan seragam, hingga tren busana modern yang menggerus pakaian tradisional.

Maya Diana Kusuma Dewi, anggota Komunitas Diajeng Semarang mengakui, dalam kegiatan sehari-hari, dirinya jarang menemui kaum hawa yang mengenakan baju kebaya. Kebaya, kata dia masih digunakan hanya di acara tertentu saja. Seperti resepsi pernikahan, peringatan Hari Kartini dan Hari Ibu, acara pelantikan dan lainnya. Padahal kebaya itu bagian dari identitas dari orang Jawa yang harus dibanggakan.

”Kami ini bukan sosialita. KDS punya visi-misi yakni nguri-nguri kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa ini ya mulai dari berbusana memakai kebaya dan batik untuk kegiatan sehari-hari,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Maya sendiri bersama anggota KDS mulai berani mengampanyekan pemakaian baju kebaya kapan pun dan di mana pun, serta dalam acara apa pun. Tujuannya, agar masyarakat yang melihat, tervibrasi untuk lebih percaya diri memakai baju kebaya.

”Di sisi lain, ada tujuan mengembalikan kejayaan perempuan dalam berbusana Jawa. Kejayaan perempuan maksudnya tidak malu dalam memakainya sehari-hari. Memang untuk berkebaya membutuhkan keberanian,” kata perempuan 42 tahun ini.

Menurut Maya, sebetulnya tidak sulit memakai baju kebaya. Tren berbusana pada era modern sekarang ini banyak memberi alternatif kemudahan. Semua orang hanya perlu memiliki keberanian saja. Kata Maya, busana kebaya terus mengikuti tren fashion. Sehingga perpaduan antara baju tradisional dan sentuhan modern tidak akan mengurangi kepercayaan diri pemakainya.

”Baju kebaya semakin inovatif, kami pun memberikan tutorial untuk pemakaian jarik yang tidak perlu memakai kendit. Jadi, ada tutorial-tutorial baru yang mengikuti fashion era modern ini,” ujarnya.

Lebih jauh dari aspek identitas, kata dia, dengan memakai baju tradisional kebaya, maka akan membawa sebuah cerita bagi turis yang datang ke Semarang. Identitas Semarangan, akan lekat di benak wisatawan yang pernah datang ke Semarang. Baju kebaya diharapkan menjadi ikon pariwisata yang mampu menarik lebih banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Sejak terbentuk pada November 2016 lalu, anggota komunitas ini sudah lebih dari 50 orang. ”Yang menarik ternyata sebetulnya banyak orang yang ingin memakai baju kebaya untuk kegiatan sehari-hari. Nah, dari pemberitaan banyak orang semakin tahu KDS, akhirnya ikut bergabung. Yang bergabung itu dari semua kalangan, lelaki-perempuan usia muda atau dewasa,” tutur Sekretaris KDS, Diajeng Trias.

Dikatakan wanita 38 tahun ini, ada grup Facebook bernama ”Komunitas Diajeng Semarang”. Tujuannya, menjadi wadah berinteraksi dengan masyarakat yang tertarik membiasakan diri memakai batik dan baju kebaya untuk keseharian.

”Semua kalangan akhirnya banyak yang tertarik. Selain ibu-ibu ada mahasiswi. Yang paling muda 7 tahun, dan yang tertua berusia 62 tahun,” imbuhnya.

Visi-misi yang diemban komunitas ini membuat beberapa instansi tertarik mengundang untuk sebuah acara. Misalnya, dalam sebuah acara oleh instansi swasta baru-baru ini, KDS membuat booth untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat. Tak hanya memperkenalkan diri, masyarakat secara langsung dapat berswafoto atau berinteraksi saling belajar tutorial penggunaan batik dan baju kebaya dengan mudah.

”Untuk masyarakat yang ingin bergabung dengan KDS caranya tidak sulit. Hanya perlu mendaftar dengan membuat kartu tanda anggota (KTA) senilai Rp 50 ribu. Setelah itu, aktif melakukan kegiatan bersama KDS, serta iuran Rp 10 ribu per bulan,” jelasnya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here