Ibu Muh, Potret Gigih Pedagang Warung Nasi di Pasar Induk

Terbakar, Mulai dari Nol, Terbakar Lagi, tetap Bersedekah

525
SEDEKAH: Ibu Hj Muh (kiri) sedang membungkus nasi yang akan dibagikan ke buruh gendong dan pikul pasar induk. (Ahmad zainudin/radar kedu)
SEDEKAH: Ibu Hj Muh (kiri) sedang membungkus nasi yang akan dibagikan ke buruh gendong dan pikul pasar induk. (Ahmad zainudin/radar kedu)

Empat kali warung makannya terbakar, Ibu Hj Muh tak menghentikan kebiasaannya bersedekah. Setiap dua hari sekali, ia membagikan 30 porsi nasi bungkus kepada pekerja gendong dan tukang pikul di area pasar induk.

WARUNGNYA memang sederhana. Menu yang disajikan pun tidak terlalu wah. Sama seperti warung di lapak-lapak sementara pasar. Karena itu, tempat untuk pengunjung warung pun sangat sempit. Hanya bisa diduduki enam tamu, dengan cara berhimpit-himpitan. Toh, Hj Muh, tak pernah mengeluh. Wajahnya tetap memancarkan aura syukur yang sangat tulus. Setiap hari, Hj Muh dibantu seorang perempuan.

Baginya, sedekah sangat menenangkan. Setidaknya, upayanya berjualan, bisa menghasilkan catatan amal baik untuk kehidupannya kelak. Sementara orientasi kekayaan dunia, ia menganggap standar saja. Selama masih bisa menyambung kehidupan dia dan keluarga, itu sudah lebih dari cukup. “Yang penting masih bisa jualan, untung kecil harus disyukuri. Yang nggak boleh lupa, sedikit pun tetap sedekah,” kata perempuan asal Gunung Tawang, Selasa (21/3) kemarin.

Hj Muh mengaku mulai istiqomah menyisihkan penghasilannya untuk bersedekah sejak 1994 silam. Atau, sejak tahun pertama ia merintis usaha warungan di pasar induk. Rutinitas itu terus ia lakukan hingga saat ini. “Kalau pas di pasar induk kemarin, 100 bungkus yang saya bagi setiap hari Jumat (sepekan sekali), kalau sekarang 30 bungkus setiap 2 hari sekali,” kata pemilik warung makan Bu Muh yang berlokasi di Jalan Resimen.

Dikatakan, semangat berbagi di lingkungan pasar induk masih sangat terasa. Selain dirinya, banyak pedagang lain yang juga bersedekah dengan cara diam-diam. Tak hanya itu. LSM, aparat kepolisian, juga kerap membagi-bagikan makanan untuk pekerja pasar.

“Walaupun cari duit susah di sini, semangat geguyuban masih sangat kental, masih bagus. Cuma ya itu, pasar kok tetap kena cobaan terus ya,” ucapnya sambil tersenyum.

Sejak berjualan pada 1994 silam, kiosnya sudah 4 kali terbakar. Pertama, pada 1994. Kala itu, ia baru membuka warungnya selama seminggu. Perkakas, bangku, kursi, tak ada satu pun yang tersisa.

Selepas pasar terbakar, para pedagang disuruh pindah ke pasar sementara di Jalantara. Pasar sementara konon lokasinya lebih nyaman, dibanding bangunan pasar sementara yang disinggahi sekarang ini. Bangunan lapak beserta dinding berikut saluran air (PDAM) sudah disediakan pemerintah.

Setelah bangunan pasar induk jadi, Hj Muh dan pedagang lainnya pindah ke pasar induk. Beberapa tahun berselang, pasar induk lagi-lagi terbakar. Dagangan Hj Muh pun ludes. “Kebakaran pasar yang kedua, kami disuruh pindah ke pasar sementara Alun-Alun. Apesnya, delapan hari baru pindah, Pasar Alun-Alun juga ikut terbakar. Kita kemudian disuruh pindah ke depan Masjid Jami, sampai pasar baru jadi. Kemudian, terbakar lagi pada 2015,” kenangnya.

Setelah 4 kali kiosnya terbakar, ia mengambil kesimpulan bahwa yang masih kuat berdagang selama ini adalah para pedagang yang gigih dan sabar. Tidak pernah putus asa, meski setiap kali kiosnya terbakar, ia harus membangun usahanya dari nol lagi. (zain zainudin/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here