Berburu Saksi Bisu Sejarah

558
TAMU REDAKSI: Bagian Konservasi dan Preservasi Monumen Pers Nasional, Slamet Widodo (ketiga dari kiri) bersama rombongan foto bersama Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Semarang dan Manajer HRD Yuni, saat berkunjung di kantor Jawa Pos Radar Semarang Jalan Veteran 55, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAMU REDAKSI: Bagian Konservasi dan Preservasi Monumen Pers Nasional, Slamet Widodo (ketiga dari kiri) bersama rombongan foto bersama Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Semarang dan Manajer HRD Yuni, saat berkunjung di kantor Jawa Pos Radar Semarang Jalan Veteran 55, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sejumlah pengurus Monumen Pers Nasional bertandang ke kantor redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (23/3). Mereka bercerita mengenai sejumlah koleksi yang terdiri atas lebih dari satu juta koran dan majalah. Ada juga barang-barang peninggalan sejumlah wartawan ternama di era penjajahan Belanda dan Jepang. Benda bersejarah insan pers era Orde Baru, Orde Lama, dan Reformasi juga menjadi koleksi berharga di sana.

Bagian Konservasi dan Preservasi Monumen Pers Nasional, Slamet Widodo menceritakan, pengumpulan barang bersejarah cukup rumit. Dia harus mengumpulkan seabrek informasi untuk memburu barang-barang saksi bisu sejarah. Bertandang ke penjuru daerah di Indonesia pun sudah jadi agenda lumrah.

Dia sempat terbang ke Banjarmasin untuk mencari sisa-sisa peninggalan AA Hamidan, seorang wartawan di era penjajahan yang pernah bergabung di Soeara Kalimantan, Kalimantan Raya, dan Borneo Shimbun. AA Hamidan juga tokoh yang menjadi saksi pengibaran bendera Indonesia kali pertama saat merdeka.

”Sayang, ketika saya sampai di sana, banyak barang yang sudah dibawa ke museum. Padahal, Monumen Pers Nasional lebih layak memajangnya,” ucapnya.

Tak pulang dengan tangan hampa, Slamet mengambil sisa-sisa peranti milik AA Hamidan. Seperti lencana, kacamata, pulpen, radio, pipa rokok, jam tangan, dan lain sebagainya. Dia mengaku, selama perburuan barang sejarah nyaris tidak ada kendala. Pihak keluarga memberikan secara graris barang-barang yang akan dijadikan koleksi Monumen Pers Nasional.

Lepas dari itu, Slamet mengklaim, semua barang bersejarah yang ditampilkam di Monumen Pers Nasional merupakan barang asli. Bukan replika. Karena itu, jangan heran jika kondisi barang tersebut tampak apa adanya. ”Ada radio yang sudah dikrikiti tikus. Ya ndak papa,” imbuhnya. (amh/zal/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here