Pimpinan Dewan Disebut Bekingi Galian C Ilegal

Material Dipasok ke Proyek BUMN

957
INVESTIGASI: Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat berbincang dengan sejumlah sopir truk galian C ilegal di Desa Sojomerto, Reban, Batang, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INVESTIGASI: Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat berbincang dengan sejumlah sopir truk galian C ilegal di Desa Sojomerto, Reban, Batang, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG – Galian C ilegal di Sungai Petung, Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang seolah kebal hukum. Meski sudah jadi rahasia umum bahwa tambang yang sudah beroperasi selama puluhan tahun ini tergolong ilegal, tapi tak pernah terkena penertiban. Kabarnya, galian C ini dibekingi orang penting yang duduk di DPRD Jateng. Hal tersebut diungkapkan tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan identitasnya.

Dia menjelaskan, beberapa bulan lalu ada kabar tambang tersebut akan digerebek karena tidak mengantongi izin penambangan. Tapi, sampai sekarang penggerebekan itu tidak terjadi.

”Kabarnya dari provinsi akan tertibkan, tapi kok tidak ada. Ternyata dihalang-halangi beking,” katanya ketika diinterogasi sejumlah aparat kepolisian setempat yang mendampingi Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi galian C, Selasa (22/3).

Pria setengah baya ini awalnya tutup mulut mengenai beking yang dimaksud. Tapi, karena desakan dari sejumlah aparat, akhirnya dia membuka mulut. ”Yang saya tahu Pak R,” cetusnya.

Ketika didesak untuk mengungkapkan identitas lengkap sosok beking tersebut, dia tetap tak mau membocorkannya. Bahkan ketika awak media memastikan apakah yang dimaksud adalah pimpinan DPRD Jateng RS, dia hanya mengangguk sambil tersenyum tapi tetap menolak mengatakan lebih jauh. ”Sudah itu saja, Mas-Mas wartawan sudah bisa menebak lah,” katanya.

Pernyataan itu yang mengejutkan juga diungkalkan Pardi, salah satu sopir truk yang beroperasi di galian C setempat. Dia mengaku, material hasil tambang dibawa ke Semarang. Dengan blak-blakan dia mengaku mengirim pasir itu ke salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). ”Kirimnya ke Semarang. Punyanya BUMN,” ujarnya.

Dia mengaku membayar Rp 300 ribu kepada mandor untuk mengangkut material galian C sebanyak satu truk Colt Diesel. ”Pasir dimasukkan truk dengan beghu, lalu saya bayar ke mandor. Saya hanya bisa angkut satu rit per hari,” katanya.

Mendengar pernyataan itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo coba mencari sopir truk lain di dekat lokasi penambangan. Meski ada sekitar 18 truk pasir berpelat H kuning, tapi tidak ada satu pun sopir yang ditemukan. Semua pintu dan jendela truk ditutup rapat dan dikunci. Operator beghu pun tidak ada. Diketahui mereka berlarian begitu mengetahui iring-iringan rombongan Ganjar menuju lokasi tambang ilegal tersebut.

Ganjar kemudian menelepon Kepala Dinas Enegi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Teguh Dwi Paryono. Dari Teguh, Ganjar mendapat informasi bahwa lokasi tersebut pernah akan disidak, tapi tidak jadi. Meski begitu, Ganjar tidak bersedia mengatakan lebih jauh.

Untuk membantu warga dalam menghadapi beking galian C, Ganjar menelepon Kapolres Batang AKBP Juli Agung Nugroho. ”Saya sudah minta pada kapolres untuk membina, kalau tidak bisa ya ambil saja, atau warga sebenarnya kalau kompak bisa pasang portal tutup akses ke sungai,” jelasnya.

Lebih lanjut Ganjar mengimbau kepada kontraktor besar, terutama BUMN, untuk mencari tahu asal pasokan material yang mereka pakai. ”Jangan sampai proyek pemerintah dipasok bahan baku dari tambang ilegal,” katanya.

Ganjar merasa tergelitik untuk melakukan sidak karena mendapat banyak laporan masyarakat lewat Facebook. Keluhannya seputar penambangan ilegal yang sudah setengah tahun dan mengganggu mata air warga setempat.

Dia pun meminta warga setempat untuk ikut mengawasi pengoperasian tambang ilegal. ”Tutup saja dengan portal, dijaga, kan truk tidak bisa masuk. Kalau memaksa, minta mereka tunjukkan izin tambang,” tegasnya.

Sekretaris Desa Sojomerto, Awal Setiarso, menambahkan, dampak dari galian C ilegal tersebut mengancam kehidupan warga Desa Polodoro dan sekitarnya, karena mengganggu sumber mata air. Menurutnya, warga sudah berulang kali menyampaikan protes pada pemerintah kabupaten, namun tidak mendapat respons.

”Setiap hari warga mengambil air dari sumber mata air yang dikelola swadaya. Tambang ini mengancam debit sumber itu,” katanya.

Terpisah ketika dikonfirmasi, RS  menampik bahwa dirinya menjadi sosok yang membekingi galian C ilegal. Dia mengaku tidak tahu-menahu terkait adanya galian C di wilayah tersebut. Rencananya, Rukma juga akan mengusut orang yang membeberkan. ”Akan saya usut karena ini jelas fitnah,” tegasnya.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Teguh Dwi Paryono, menyatakan, lokasi tambang galian C di Desa Polodoro, Kecamatan Reban, Batang dipastikan ilegal. Sebab, lokasi tambang sesuai tata ruang kabupaten hanya di tiga kecamatan. ”Lokasi tambang yang berizin di Batang cuma tiga. Kecamatan di Bawang, Bandar, dan Gringsing, selain itu tidak ada,” katanya.

Selain itu pengelola juga tidak pernah mengajukan izin penambangan di tepi Sungai Petung tersebut. ”Tindak lanjutnya jelas kami tutup karena tidak sesuai tata ruang dan tidak ada izin,” ujarnya.

Meski begitu, lanjut Teguh, Pemkab Batang saat ini sedang mengajukan revisi tata ruang. Rencananya, setiap kecamatan akan memiliki area tambang yang diizinkan. ”Sudah masuk pengajuannya ke kami, akan kami pelajari dahulu,” katanya. (amh/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here