Pemkot Terapkan Program Sapi Wajib Bunting

355
CEK KESEHATAN: Seorang dokter hewan tengah mengecek kondisi kesehatan hewan ternak. (Dok Jawa Pos Rase)
CEK KESEHATAN: Seorang dokter hewan tengah mengecek kondisi kesehatan hewan ternak. (Dok Jawa Pos Rase)

SEMARANG – Mengurangi ketergantungan impor daging sapi, Pemerintah Kota Semarang menerapkam program sapi wajib bunting. Program ini melibatkan Kelompok Tani Pangudi Mulyo di Kelurahan Nongkosawit Gunungpati, Semarang. Ditargetkan ada 1.500 sapi betina produktif bakal ’dibuntingkan’ agar meningkatkan jumlah populasi.

Program tersebut diberi nama Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting 2017. ”Selama dua hari (19-20/3) sudah ada 188 sapi yang diinseminasi buatan. Target tahun ini ada 1.500 sapi se-Kota Semarang,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Wahyu Permata Rusdiana, kemarin.
Dikatakannya, selain melakukan inseminasi buatan, juga dilakukan identifikasi reproduksi sapi, penanggulangan gangguan reproduksi sapi, dan penyelamatan betina produktif. ”Kami juga melibatkan sedikitnya sembilan petugas inseminator, tiga dokter hewan dan enam paramedis veteriner untuk memantau perkembangan setiap hari,” terangnya.
Tidak hanya itu, program ini juga memberi bantuan Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) senilai Rp 200 ribu per ternak per tahun. Pemerintah memberi subsidi 80 persen, atau setara Rp 160 ribu per ternak per tahun. ”Jadi, peternak hanya membayar Rp 40 ribu per ekor per tahun dengan premi Rp 10 juta. Ini untuk klaim jika sapi mati, baik akibat bencana maupun sakit,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryati Rahayu mengatakan kebutuhan daging sapi di Kota Semarang masih cukup tinggi. Sehingga diperlukan terobosan. Populasi di Kecamatan Gunungpati ini menjadi salah satu penyangga ketahanan pangan daging sapi dan susu di Kota Semarang. ”Daripada impor daging sapi, maka kami dorong pengembangbiakan ternak melalui upaya khusus indukan wajib bunting ini,” katanya.

Dikatakannya, ini sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu di Kota Semarang. Tentunya, harapan ke depan inflasi kebutuhan daging menurun. Misalnya untuk memenuhi ketersediaan daging sapi menjelang lebaran.

Para peternak juga mendapatkan bantuan hibah sapi potong indukan 15 ekor dari Kementerian Pertanian, 5 ekor sapi perah dari APBD Provinsi Jateng, dan 24 ekor indukan betina sapi potong serta sapi perah betina 8 ekor dari Pemkot Semarang.
”Selama ini, penyerapan pangan dan konsumsi daging sapi dan susu di Kota Semarang cukup tinggi. Sedangkan penyediaan daging sapi lokal rata-rata baru memenuhi 65,24 persen kebutuhan nasional. Sisanya karena belum terpenuhi. Akhirnya pemerintah mengimpor daging bakalan maupun daging beku. Daripada impor daging beku, makanya kami dorong peternak sapi melalui program ini,” katanya. (amu/zal/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here