Ditemukan BRT Berasap Pekat dan Knalpot Hilang

8 BRT di Koridor II Tidak Laik Jalan

291
TAK LAIK JALAN: Petugas Dinas Perhubungan saat melakukan uji emisi armada BRT Trans Semarang, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK LAIK JALAN: Petugas Dinas Perhubungan saat melakukan uji emisi armada BRT Trans Semarang, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sebanyak delapan armada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang Koridor II, jurusan Terboyo-Sisemut Ungaran, dinyatakan tidak laik jalan alias tidak memenuhi persyaratan sebagai angkutan umum yang aman. Delapan armada BRT tersebut dinyatakan tidak laik jalan di antara 16 armada BRT yang diperiksa, kemarin (22/3). Salah satunya lantaran memiliki kepekatan asap di atas standar yang ditentukan.

Ironisnya, ada beberapa di antara armada memiliki kepekatan asap 100 persen atau hitam pekat. Bahkan petugas juga mendapati ada sebuah bus diketahui tidak ada knalpotnya. Diduga knalpot tersebut hilang akibat terjatuh di jalan. Diperkirakan jumlah armada tidak layak masih akan bertambah mengingat jumlah total BRT Koridor lI sebanyak 26 armada.

”Kami lakukan uji emisi di Koridor II karena banyak keluhan dari masyarakat melalui media sosial (medsos) maupun secara langsung datang di kantor. Keluhannya asap kendaraan BRT Trans Semarang banyak yang hitam pekat,” kata Kasubag TU UPTD Trans Semarang Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Ade Bhakti, kemarin.

Dikatakannya, sejauh ini keluhan dari masyarakat menyoroti Koridor II, sehingga Sidak kali ini hanya dilakukan di Koridor II.

”Totalnya ada 26 armada BRT di Koridor II. Hingga siang ini bisa kami lakukan uji emisi sebanyak 16 armada. Kami menemukan sebanyak delapan bus tidak memenuhi syarat emisi,” ungkap Ade.

Dia mengaku cukup prihatin atas temuan tersebut. Bahkan dari delapan bus tersebut, ada bus yang memiliki kepekatan 100 persen. ”Padahal ambang batas kepekatan asap untuk Trans Semarang 50-70 persen,” ujarnya.

Yang menyedihkan lagi, pihaknya juga menemukan salah satu armada BRT yang diketahui tidak memiliki knalpot dan diperkirakan hilang. Tentu saja, pihaknya kesulitan memasang alat uji emisi yang biasanya dipasang di knalpot.

”Hasil sidak ini kami buatkan berita acara pemeriksaan. Kemudian operatornya akan diberikan teguran,” kata dia.

Seperti diketahui, operator BRT Trans Semarang Koridor II ini adalah PT Surya Setia Kusuma. Dalam kesempatan tersebut, perwakikan PT Surya Setia Kusuma tidak ada di tempat. Petugas Dishub hanya menemui sejumlah sopir.

”Kami berikan waktu dengan batas yang ditentukan agar operator memerbaiki mesin armada BRT tersebut. Saat ini, bus (yang tidak laik jalan) dilarang beroperasi. Jika mesin telah diperbaiki, harus dilakukan uji kembali. Kalau hasilnya memenuhi syarat baru boleh jalan,” ujarnya.

Salah satu sopir BRT Trans Semarang Koridor II, Suyoto, mengakui, kondisi beberapa armada BRT Koridor II perlu segera dilakukan perbaikan. Ia akan melaporkan hasil sidak uji emisi tersebut kepada pimpinannya. ”Kami akan sampaikan ke pimpinan, baik yang laik jalan maupun yang tidak laik jalan,” katanya.

Sedangkan untuk armada BRT yang tidak ada knalpot, pihaknya mengaku tidak mengetahuinya. Namun diperkirakan knalpot tersebut hilang akibat terjatuh di jalan. ”Sedangkan sopir tidak mengetahuinya,” ujarnya. (amu/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here