Siswa Harus Jemur Buku dan Bersihkan Lumpur

Banjir Ganggu KBM SD N Leyangan

505
TERGANGGU : Sejumlah siswa SDN Leyangan sedang membersihkan material lumpur sisa banjir, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERGANGGU : Sejumlah siswa SDN Leyangan sedang membersihkan material lumpur sisa banjir, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Usai diterpa banjir pada Senin (20/3) kemarin, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) SD N Leyangan Kecamatan Ungaran Timur terganggu. Pasalnya, siswa sekolah itu harus berjibaku membersihkan ruang kelas yang dipenuhi material lumpur dari sisa banjir.

Kondisi tersebut sontak mengganggu KBM siswa. Proses bersih-bersih lumpur tersebut terpaksa dilakukan saat jam pelajaran. Salah satu siswa Kelas VI, sekolah tersebut, Muhammad Lintang mengatakan jika kondisi tersebut merugikan dirinya. “Karena sudah kelas VI dan harus mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional (Unas),” katanya, Selasa (21/3) kemarin.

Senada dengan Lintang, hal serupa juga diungkapkan oleh siswa kelas II, Adil. Karena banjir pada Senin sore tersebut masuk ke dalam ruang kelas, beberapa buku pelajaran basah kuyup.

“Jadi tidak bisa belajar karena bukunya pada basah,” katanya. Banjir setinggi hampir satu meter tersebut menerjang SD Leyangan pada Senin sore. Untung saat itu, tidak ada KBM yang berlangsung karena jam pelajaran telah usai.

Pada hari dimana banjir mulai surut, sebenarnya beberapa siswa sudah mencoba membersihkan lantai kelas dari material lumpur. Namun, karena lumpur yang mengendap lebih tebal, maka proses pembersihan pun tidak langsung selesai.

Sehingga, keesokan harinya yaitu Selasa (1/3) pukul 07.00, ratusan siswa bergotong royong membersihkan setiap ruang kelas dari material lumpur. Selain membersihkan lantai dari lumpur, beberapa siswa juga terlihat menjemur buku-buku pelajaran yang basah kuyup akibat kebanjiran.

Secara sukarela, ratusan siswa tersebut membersihkan kelas. Berbekal alat seadanya seperti ember, sapu, dan alat pel, mereka membersihkan material lumpur sembari bercanda. “Supaya tidak bosan, sambil guyon,” lanjutnya.

Selain membanjiri setiap ruang di sekolah tersebut, pagar yang berada di belakang sebagai pembatas antara gedung sekolah dengan sawah sepanjang 40 meter juga roboh. Pagar yang disusun dari material batako tersebut roboh setelah diterjang banjir dan angin kencang. “Ini sebenarnya sudah terjadi pada 2015 lalu. Tembok belakang juga roboh,” ujar Kepala SD Leyangan, Kholis.

Air banjir datang dari lapangan sepak bola yang posisinya berada di sebelah kanan persis sekolah itu. Kontur tanah lapangan sepak bola yang lebih tinggi dari pada sekolah membuat air mudah masuk ke ruang kelas saat hujan lebat turun. “Khusus kelas satu dan dua, kalau banjir kecil-kecil tidak pernah kemasukan, tapi kemarin terlalu besar sehingga airnya masuk dan buku-bukunya menjadi basah,” katanya.

Saat proses bersih-bersih tersebut pihak sekolah memutuskan untuk meniadakan jam pertama KBM. Sampai seluruh ruangan bersih dari material lumpur. Namun, karena banyaknya material lumpur membuat proses bersih-bersih molor hingga pukul 10.00. Akhirnya KBM ditiadakan. “Kelas satu-dua mungkin tidak ada pelajaran,” ujarnya.

Atas kondisi itu, pihak Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Semarang turun untuk meninjau. Kepada Disdikpora, Dewi Pramuningihsih mengatakan jika lokasi SDN Leyangan tersebut memang rawan akan bencana. Pemkab Semarang sebenarnya mempunyai rencana untuk merelokasi sekolah ini namun hingga saat ini masih terkendala ketersediaan lahan yang cukup.

“Kami melihat tanah pengganti ada apa tidaknya, di sekitar lokasi. Sebab kalau kembali ke lokasi yang lama dulu, setelah kami cek, lahannya sangat sempit. Relokasi kan butuh tanah, butuh tempat yang bisa untuk mengganti,” kata Dewi.

Untuk melakukan relokasi terhadap sekolah itu, pihak Disdikpora akan melakukan koordinasi dengan pemerintah desa setempat serta kecamatan untuk mencari lahan yang dibutuhkan. Namun pihaknya tetap memikirkan solusi jangka pendek, mengingat kerusakan yang ada membahayakan para siswa. Pihaknya berencana mengusulkan perbaikan dengan mendahului anggaran. “Kami akan komunikasi dengan TAPD (Tim Anggara Pemerintah Daerah), mungkin tidak yang ambrol-ambrol ini diajukan mendahului anggaran perubahan,” imbuhnya.

Lokasi SDN Leyangan yang berada di cekungan membuat satu-satunya sekolah dasar di Desa Leyangan ini menjadi langganan banjir. Sedangkan kerugian yang diderita sekolah ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here