Pesanan Melimpah, SDM Terbatas

385
PRODUK LOKAL : Pameran produk kerajinan UMKM Kota Magelang yang berlangsung dalam Sarasehan Dekranasda Kota Magelang 2017, di Borobudur International Golf & Country (BIGC), Selasa (21/3). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PRODUK LOKAL : Pameran produk kerajinan UMKM Kota Magelang yang berlangsung dalam Sarasehan Dekranasda Kota Magelang 2017, di Borobudur International Golf & Country (BIGC), Selasa (21/3). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Magelang mendorong pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) siap bersaing di pasaran. Yakni, dengan memproduksi barang berkualitas, serta disiplin dalam menjalankan bisnis.

“Kualitas saja tidak cukup, harus dibarengi dengan kemampuan memproduksi dalam jumlah besar dan tepat waktu,” kata Ketua Dekranasda Kota Magelang Yetti Biakti Sigit Widyonindito saat acara Sarasehan Dekranasda Kota Magelang 2017, di Borobudur International Golf & Country (BIGC), Selasa (21/3).

Tak dipungkiri, banyak konsumen yang menginginkan produk sama, dalam jumlah besar, namun harganya miring. Di sinilah, kata dia, peran pemerintah dalam membantu pengembangan UMKM agar mampu memenuhi permintaan pasar sangat dibutuhkan. Dengan catatan, tetap memperhatikan kualitas dan kuantitas produk.

“Dekranasda juga akan mendampingi dan memberi pembinaan agar UMKM semakin maju,” tambahnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang Joko Budiyono mengakui, UMKM di kotanya sudah mampu bersaing dari sisi produk. Hanya saja, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) menjadi kendala saat menerima pesanan melimpah.

“Jadi kewalahan. Nah kita akan dampingi dan cari solusinya,” ujarnya.

Direktur PT Kayu Lima Magelang Trisna Nuran menjelaskan, pelaku usaha harus mengubah memikiran agar tak semata-mata hanya bergantung modal. Melainkan, harus mengedepankan semangat membangun bisnis. “Harus rajin mengikuti event, seperti pameran,” imbuhnya.

Sementara itu, peserta sarasehan, Agus Nur Asikin yang merupakan pengrajin batik naNom, merasa memiliki semangat baru. Dia mengalami pasang surut usaha. Saat sepi, dia manfaatkan untuk mengikuti pameran. Sebaliknya, saat ramai pesanan, ia lebih memilih menyelesaikan pesanan. “Tahun 2015 saya sampai kewalahan, karena sebelumnya sering ikut pameran. Lalu, tahun 2016 pesanan mulai berkurang, dan saya gunakan untuk pameran lagi. Sebetulnya saat ramai atau sepi tetap ingin ikut pameran, hanya saja kekurangan SDM,” ujarnya. (put/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here